Minggu lalu, saya sempat mengeluh bagian leher kanan saya sakit, saya pikir karena tidur dengan  salah posisi bantal, lalu leher saya sakit. Awalnya saya  biarkan, Tapi karena semakin sakit, saya oleskan krim penghilang rasa sakit, minyak kayu putih, dan melakukan peregangan otot. Tidak membuahkan hasil. Leher  kanan masih terasa sakit. Kemudian saya pegang  leher saya,memijat posisi dimana rasa sakit yang saya rasakan, tidak sengaja  saya ‘meraba’ dua benjolan di leher. Saya  raba dan putar telunjuk jari untuk meyakinkan kalau memang ada benjolan di leher yang muncul kembali.

Saya cari segala informasi kembali tentang benjolan dileher,  sempat terpikir kalau ini TB kelenjar saya yang kambuh.
Tahun 2014, saya kena TB kelenjar di leher kiri, awalnya berbentuk benjolan-mirip bisul- memerah dan sakit jika disentuh.
Sempat googling-ya bersyukurlah hidup di zaman serba canggih, tinggal mengandalkan search engine  berbagai kebutuhan informasi kesehatan pun  tersedia.
Ada banyak kemungkinan tentang  munculnya benjolan di leher:
 Bisa karena pembengkkaan kelenjar tiroid atau karena kanker? membaca tulisan kanker, tentu saja saya kepikiran.
apalagi benjolan di leher kanan,  saya sempat berpikir negatif, ”jangan-jangan kanker”
Karena kepikiran, suami langsung ambil rendevu online untuk jadwal check up saya di Devlet hastanesi (Rumah sakit pemerintah) sebelumnya saya inisiatif  mencoba datang ke rumah sakit swasta terdekat dari rumah, mau cek sekalian USG leher kanan. Tapi ternyata  harus sesuai prosedur, 3 rumah sakit yang kami datangi meminta surat pengantar dokter terlebih dahulu sebelum USG. Akhirnya bersabar sampai hari senin, saya bertemu dokter terlebih dahulu.
Saya datang ke dokter bedah yang dulu pernah Biopsi leher kiri, tapi kata dokter nya seharusnya saya ke dokter bagian penyakit dalam, Beliau tetap membantu memberi surat pengantar agar saya bisa USG leher, dapat jadwal hari rabu, 2 hari kemudian.
Hari rabu, saya datang ke poliklinik rumah sakit bagian USG, memberikan surat pengantar dari dokter, akhirnya leher kanan saya di USG, ada benjolan ukuran 5.9 x 5 mm, cukup kecil dan reaktif.
Artinya tidak terlalu membahayakan dan bukan benjolan TB kelenjar kembali, bisa jadi ada infeksi lain. Karena kelenjar getah bening ini bagian dari sistem kekebalan tubuh yang bisa membantu melawan infeksi, Biasanya jika terjadi infeksi kelenjar getah bening akan memberikan tanda seperti bengkak di leher.
Setelah saya banyak baca, penyebab terjadinya pembengkakkan kelenjar getah bening bisa saja dari infeksi ringan, salah satunya infeksi gigi. Karena dari semua tanda-tanda penyebab kelenjar membengkak, saya  merasa memiliki masalah juga dengan gusi dan gigi.
Saya tidak merasakan gejala lain seperti demam. Beberapa hari sebelumnya gusi saya memang sering berdarah. Sepertinya jadwal rutin periksa gigi dan tindakan operasi gusi (periodontitis) harus saya lakukan, Bisa jadi penyebab membengkak kelenjar di leher kanan saya karena infeksi dari masalah gusi . Membayangkan TB kelenjar kambuh dan saya harus melewati masa-masa pengobatan yang panjang, hampir membuat saya stress, menenggak obat tiap hari lebih dari 5 jenis bukan perkara mudah, belum ditambah efek samping obat TBC yang luar biasa.

Benjolan penyebab TB kelenjar

TB kelenjar
TB kelenjar
 
Kalau ditanya kenapa saya bisa kena TB kelenjar?
kemungkinan secara tidak sadar saya pernah kontak dengan penderita TBC, bisa itu di jalan,ketika saya traveling, Ada orang batuk-batuk , ditambah kondisi tubuh kurang fit, saya kena infeksi dari bakteri penyebab TBC (mycobacterium tubercolosis)
Umumnya bakteri ini menyerang paru-paru,  Bakteri ini bisa bertahan lama tanpa menunjukan gejala apapun, kemudian  Bakteri penyebab TB ini  bisa menjalar kebagian tubuh lainnya misal selaput otak, tulang maupun kelenjar getah bening.
Syukurnya benjolan di leher kanan saya bukan TB kelenjar yang kambuh, melainkan ada infeksi lain yang harus segera saya obati.

Bagaimanapun jika muncul benjolan baik di leher kanan maupun kiri?

Saran saya segera cek ke dokter.
Dokter yang dituju bagian penyakit dalam, lalu biasanya akan dirujuk ke dokter bedah umum untuk tindakan biopsi, hasil biopsi ini yang akan menjelaskan penyebab benjolan di leher karena apa.

Dulu saya melewati beberapa tahap-karena ketidak tahuan- penyebab awal leher kiri saya muncul benjolan, benjolan memerah lalu sempat bernanah. Awalnya saya pikir bisul-hehe bisulan dileher? Daripada asal diagnosa, datang ke dokter adalah pilihan terbaik-jangandukunyaa-,-”
MRİ scan
foto:www.vanderbilthealthcom

Menjalani MRİ

MRI : Magnetic resonance imaging atau MRI adalah pemeriksaan medis yang menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio untuk melihat detil bagian tubuh Anda (allodokter.com)
Dilema bagi ibu menyusui terutama karena saya waktu itu , direct breastfeeding-anak tidak terbiasa dibantu botol susu- ketika menjalani MRİ, saya dilarang menyusui anak selama 24 jam sampai tubuh saya ternetralisir dari paparan radioaktif ketika menjalani MRİ. 
Waktu itu sempat stok susu formula untuk jaga-jaga dan juga saya stok hasil pompa asi, dan hasilnya dua-duanya ditolak fatih-.-‘ semalaman sedih mikir anak.
Kenapa saya menjalani MRİ?
Karena dari dokter pertama yang memeriksa benjolan di leher saya, beliau menyarankan untuk MRİ, men scan seluruh tubuh saya, apa ada penyebab lain dari benjolan tersebut.
Setelah hasil MRİ keluar-dalam bentuk CD- Kemudian dirujuk ke dokter bedah, bawa hasil MRİ  dan dokter cek benjolan kembali, lalu ambil tindakan biopsi, biopsi yang saya jalani:  dokter mengambil sampel cairan dari benjolan di leher saya dengan alat mirip dengan suntikan, hasil biopsi kemudian dibawa ke lab untuk diperiksa.
Selang beberapa hari kemudian hasil lab keluar dan saya dinyatakan positif mengidap TB kelenjar getah bening ( limfadenitis tuberkulosis )di leher kiri.
TBC umumnya memang menyerang paru-paru tapi tidak menutup kemungkinan TBC menyerap bagian tubuh lain disebut TB extrapulmory, TB di luar paru-paru ini bisa menyerang:  selaput otak, tulang, ginjal, kelenjar getah bening, saluran kencing atau bagian tubuh lainnya.
Selain MRİ-Biopsi, saya juga menjalani rontgen thorax , tes mantoux sebelum menjalani prosedur pengobatan TB kelenjar, Apa tidak ada opsi operasi pengangkatan benjolan?
Dokter tidak menyarankan  operasi (eksisi) karena tingkat kekambuhannya yang tinggi, saya hanya menjalani pengobatan konvensional dengan antibiotik rifamfisin, etambutol dll. Selama 9 bulan. Tiap hari harus minum obat sesuai dosis- saya di beri 1kotak obat untuk 1 bulan dan sudah dibagi per sachet kecil, selama pengobatan saya didampingi dokter keluarga (Dari klinik kesehatan di daerah tinggal) jika ada keluhan selama menjalani pengobatan TB kelenjar, dokter keluarga yang akan memberi resep obat lain, misal ketika saya minum obat TB saya mengalami kram perut seperi maagh, demam, dokter dari saglik oca (klinik kesehatan) yang akan meresepkan obat pendamping TB. Jadi tidak sembarang obat saya minum, harus dari resep dokter-sebagai catatan: Obat-obatan tidak dijual bebas, hanya bisa dibeli di apotik.

Menjaga kondisi tubuh tetap fit, pola makan sehat, hidup sehat, jauh dari polusi udara (mungkin gak ya, kalau hidup di kota besar) bisa mencegah tertular TBC, apalagi jika ada orang Batuk-batuk di jalan, menutup hidung dengan masker atau menghindari orang yang batuk bisa jadi langkah awal menghindari penularan penyakit ini. Sebagai tambahan untuk anak vaksin BCG itu penting!( terserah sih kalau yang anti-vak) Lebih baik mencegah daripada menjalani pengobatan-sungguh nelan obat berbulan-bulan dan tiap hari itu gak enak!