Jatuh cinta itu mudah, mencintai juga mudah saja, yang paling sulitnya itu menjaganya, menjaga cinta agar tidak terkontaminasi ego,amarah.Kebencian, sehingga Cinta itu bisa melewati berbagai ladang ujian dan tetap utuh seperti awal Cinta itu datang.

**kataannepanda***

Menikah dengan berbilang umur dan usia matang juga tidak bisa menjamin kalau perjalanan cintanya akan mulus dan baik-baik saja. Apalagi dengan gairah muda dan masih dimabuk asmara, untaian kalimat bijak bisa saja men’cover’ sebuah kebusukan yang tidak terlihat publik, seolah baik-baik saja, foto mesra dengan interaksi yang intim di sosial media atau dengan tag –relationshipgoals”Pasangan sempurna”, begitu kata mereka yang tidak sengaja men-Scroll-laman Feed İnstagramnya.Tapi bisa saja dalam hatinya terselip iri, kalau sudah begini dalam hati spontan saya ucap: Allah Nazar degismesin—don’t let the evil eye touch you!

Satu bulan lalu, saya mendapati kenyataan, seseorang yang saya kagumi bahkan membuat saya ingin menjadikan mereka sebagai ‘role Model’ pasangan harmonis, bahagia. Memutuskan berpisah, seminggu lalu. Palu hakim sudah diketuk! mereka bercerai! Jleb. Sampai saya mempertanyakan sendiri, alasan kuat apa yang membuat mereka berpisah, padahal beberapa bulan lalu saya sempat mengguman iri--ya Allah maafkan lah ini-— mereka sedang asyik menikmati liburan keluarga, menginap di hotel, bermain di pantai, disaat saya galau ingin sekali liburan, tapi karena satu dan lain hal, tahun ini tidak ada jatah liburan. Foto-foto ceria yang dibagikan cuma-cuma di laman instagramnya ternyata menutupi Sesuatu yang tidak saya duga.

Pernikahan memasuki tahun ke duapuluh sekian, bayangkan! apalah saya yang baru ‘anak kemarin sore’ Memasuki gerbang rumah tangga, sedang mereka saya anggap masuk level senior. Apa yang dicari lagi? Rumah dua tingkat ada, kendaraan ada. sudah lepas dari beban mengurus anak-anak, bahkan anak bungsu juga sudah mandiri secara finansial. Cinta? Ya mungkin Cinta itu perlahan mulai luntur lalu hanyut diterjang badai kehidupan, mereka tidak cukup kuat untuk mempertahankannya lagi.

Berbilang tahun apakah akan datang jenuh melanda?

Ada juga yang bertahan puluhan tahun dengan pasangannya, bukan karena alasan Cinta lagi, karena keterikatan semata, Cintanya mungkin meluntur seiring hadirnya dominasi satu pihak, sabar menghadapi pasangan yang awalnya dia puja dan memujanya setengah gila, perlahan rasa itu berganti lalu menjadi hambar, bersatu hanya demi sebuah kata ‘kewajiban dan tanggung jawab’ apalagi jika sudah ada anak. Saya tahu dan saya mengalaminya-karena saya salah satu anak-anak itu- yang akhirnya membentuk kepribadian asing. Keterikatan emosi yang tidak kuat. Ah tapi sudahlah, luka di masalalu, sebisa mungkin disembuhkan dan jangan sampai, kedua anak yang lahir dari rahim saya kurang kasih sayang.

Saya percaya pernikahan

Saya percaya pernikahan, karena saya menjalaninya sekarang! bukan dengan sosok laki-laki yang menjadi ideal dimata saya, Dulu. Ya dulu ketika masih dalam tahap mencari, menunggu. İdeal dimata saya: otaknya cerdas, kreatif, senyumnya manis–alasan klise-tapi saya suka. İbadahnya juga rajin, untuk level lebih tinggi semacam hafiz alquran, ah saya tahu diri, siapa saya!Seiring umur dan pengalaman jatuh bangun mengenal dan dekat dengan lawan jenis--no! ım not a player! malu ah sama kerudung–. Pada saatnya saya tetap mengharapkan menikah! Normal.

Saya tidak ingin ikut mengutuknya. Ah mereka manusia-manusia dewasa, salah satunya orang yang memiliki keterikatan darah dengan saya, Tapi pilihannya ketika memutuskan berpisah dulu kala, saya Amin-kan, bahkan saya dukung 1000 persen, kesalahan bekas-no mantan–bekas kakak ipar tidak termaafkan dimata saya dan juga dihadapan keluarga. Kakak saya berhak hidup jauh lebih bahagia daripada terkungkung dengan ikatan pernikahan yang kian hari semakin membuatnya menderita.

Ternyata Cinta saja memang tidak cukup untuk mempertahankan rasa cinta itu sendiri, butuh elemen pendukung. Tapi tidak juga memberi ruang seluasnya untuk ego, maka cinta akan tersingkir seiring waktu. Apa yang saya pertanyakan tentang berbilang tahun yang mereka lewati, dua pasang manusia yang hampir saya jadikan role model Pernikahan ideal. Ketika mereka menyerah, memutuskan berpisah diusia yang tidak bisa dibilang muda lagi. Menyayangkannya tentu saja! tapi bisa apa? Saya hanya orang luar, Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga mereka, yang terlihat di luar seakan baik-baik saja.

Baca: Tips mengurangi konflik rumah tangga

Yakin dia jodohmu?

agar bisa berdamai dengan masa lalu

Tips move on dari cinta bertepuk sebelah tangan

Apa yang terlihat di sosial media, memang saya akui sendiri, tidak bisa menjadi jaminan bahwa orang -orang yang memamerkan senyum diFoto benar-benar bahagia 100 persen, mungkin memang ada bahagia yang tulus, katakanlah hanya 60 persen, sisanya segala keluhan,ketidakpuasan,penghianatan,masalah dengan karakter aslinya dan segala bumbu pelengkap. Apa saya jadi ‘korban’ tertipu foto mesra dan hangat mereka? sehingga saya berprasangka bahwa mereka selalu baik-baik saja, usia pernikahan memasuki angka 20-an, bukan waktu yang sebentar, sudah melewati banyak ujian, ujian awal pernikahan, 5 tahun pertama, 7,8,9,10 tahun. Lalu menyerah diangka 20an sekian.

Ternyata perjalanan saya masih panjang, melewati tiap waktu kebersamaan, bagaimanapun saya harus bisa mensyukuri keadaan dan tidak membiarkan celah ketidakpuasaan akan suatu hal semakin memperlebar jarak dengan pasangan, Harus selalu ada tempat untuk berbicara, mengeluarkan segala isi di kepala. Sebab sejatinya menjaga Cinta tetap tumbuh terus dalam pernikahan adalah tanggung jawab bersama. Hanya satu keinginan, akan datangnya perpisahan bukan dalam putusan ketuk palu hakim di pengadilan. Tapi karena Waktu untuk bersamanya telah sampai diujung umur.

Semoga Mereka, orang -orang dewasa yang saya kenal ini, menemukan kebahagiaannya kembali, meski telah berpisah. Keputusan yang mereka telah buat meski melukai banyak orang, tapi kami bisa apa? bukan yang menjalani. Sedikit luka yang mereka kabarkan, semoga menjadi pelajaran untuk kami melangkah kedepan, bahwa badai ujian akan terus datang. Semoga kami kuat, ya kamu juga yang baca ini..salam.