Awal tahun 2020 dimulai dengan situasi berat di berbagai belahan dunia, Bencana alam, Virus corona dan situasi memanas dikawasan Timur tengah, sebagai negara transbenua, Situasi dalam negeri Turki saat ini, sedang berduka. Menyambung berita tentang syahidnya 33 tentara Turki di İdlib (ini juga katanya tidak semua data Tentara yang wafat dipublish, mencapai ratusan) Emosi, amarah bercampur jadi satu, entahlah apa ambisi penguasa diatas. Bagaimana perasaan kedua orangtua para tentara yang gugur tersebut, menurut beberapa sumber, kebanyakan tentara yang dibawa keperbatasan adalah divisi dari wajib militer. Tidak semua tentara aktif. Saya membayangkan diposisi orangtua para tentara tersebut, hancur sudah hatinya. Apalagi saya juga memiliki Putera Half Turkish, wajib militer akan dia jalani nantinya jika memilih kewarganegaraan Turki di batas dwikewarganegaraannya. Kegalauan berjamaah saya dan teman-teman di Turki yang memiliki anak laki-laki.

Turkey membuka perbatasan ke Eropa untuk Pengungsi

Turki Menampung 3. 6 juta pengungsi Suriah, dan mengakui sudah tidak dapat menampung lebih banyak lagi mereka, karena selain Pengungsi Suriah, ada juga afghanistan, irak,iran dan negara lain.

Keputusan Turki membuka semua perbatasan dengan eropa untuk para pengungsi yang tertahan di Turki, buntut dari perang di İdlib. Turki HANYA menjadi batu loncatan, para pengungsi dari timur tengah menuju USA dan EROPA. Ekonomi Turki jelas terbebani, belum harus mendanai perang dan menampung jutaan pengungsi yang mendapat fasilitas eklusif dibanding warga lokal. Bagaimana saya katakan eklusif? mereka (para perempuan pengungsi baik orang syuriah , irak dll) melahirkan berapa anak pun ditanggung biayanya oleh pemerintah Turki, sedang warga lokal? dibebani SGK (BPJS versi Turki) semua pajak naik, jelas menambah beban pengeluaran. Kenapa saya jadi membela orang Turki? ya tentu saja diposisi ini saya ga bisa netral, karena suami sebagai warga negara Turki, dia menjadi sponsor visa saya, kenaikan biaya izin tinggal juga semakin tinggi, meski sama-sama pendatang di Turki, posisi saya pembayar pajak tiap tahun dan yang bayar tentu saja suami sebagai warga negara Turki.

syarat izin tinggal di Turki semakin ketat

salah satu sumber berita:

Turkey will no longer stop Syrian migrant flow to Europe, official says

Ketika tagar #savesuriah menggema di İndonesia

Dulu ketika tagar #savesuriah ramai di sosial media İndonesia, sedang didepan saya, segerombolan pemuda suriah sedang asyik bercengkrama, main HP di taman, hari jumat. Taman dekat masjid,tidak ada yang beranjak untuk menunaikan solat jumat, posisi saya waktu itu sedang mengajak kedua anak main di taman, dan melihat mereka rebahan dengan santainya tertawa-tawa. Seorang penduduk lokal yang berprofesi petugas kebersihan, bolak balik membersihkan sisa sampah didekat mereka. Damn! kemudian hari ini berbagai portal berita Lokal memberitakan tentang para pengungsi suriah dan lain lain yang dengan bahagianya mengatakan akan pergi ke eropa, ‘‘burada hayat cok zor, dedi’‘–Hidup disini (Turki) sangat susah! dengan rona bahagia kalau impiannya nyebrang ke benua biru akan tercapai, Turki membuka semua perbatasan darat dan laut untuk para pengungsi yang mau nyerbu Benua biru. Ya kalau itu keinginan mereka untuk hidup lebih baik di eropa, saya juga ikhlaskan. Cukup sudah berita warga Turki bunuh diri karena himpitan ekonomi menghiasi berita, semoga tidak ada lagi warga lokal yang frustasi karena beban ekonomi, hidup sulit dengan pajak tinggi salah satunya untuk membiayai kehidupan ‘Mereka’ yang menjadikan Turki batu loncatan ke negara negara İmpiannya.

Baca:

Pengungsi Suriah bebas bekerja di Turki

Beberapa komentar dari warga lokal menanggapi para Pengungsi ini, ada yang mendoakan dan juga ada yang menyinggung kelakuan mereka selama tinggal di Turki, yang tahu diri, mereka mengucapkan Terimakasih, ikut berduka atas wafatnya para tentara Turki, ada yang mengatakan, hidup di Turki susah, apa -apa mahal, harga rokok aja naik-.-(sempet-sempetnya yang dibahas ya rokok, bukan sembako) gaji kecil, beberapa komentar warga Turki: ”silahkan saja kalian datang ke jerman, semoga mereka tidak rasis dan bisa menerima kalian dengan baik’‘–karena si penulis komen sempat merasakan perlakukan rasisme di eropa. Semua pintu perbatasan dibuka, bahkan disediakan Bis sampai keperbatasan Turki dengan Bulgaria, untuk masuk Yunani lewat laut disediakan kapal-kapal, untuk masuk Bulgaria sebagai gerbang masuk eropa yang berbatasan langsung dengan provinsi Edirne Turki.Mereka berjalan kaki dari perbatasan. Turki lepas tangan selanjutnya beban pengungsi menjadi tanggungan uni eropa. Untuk bahas ini urusan para pemimpinnya, kalau dari rakyat Turki, mereka melepas dengan ikhlas. Karena Tujuan mereka memang tidak menetap di Turki selamanya, meski sudah diperlakukan dengan baik, impian mereka adalah Eropa barat dan negara skandinavia.

Pindah alamat di Turki tidak mudah loh

Saya hanya melihat dari kacamata pribadi, sebagai sesama pendatang, saya juga simpati dengan Multeciler (refugees) yang memang hidup susah disini, tapi ada banyak yang ‘ga tahu diri’ sehingga menyebabkan kekesalan warga lokal Turki, mereka sudah memanusiakan para pengungsi, yang tahu diri, mereka bekerja apa aja, hidup harmonis dengan warga lokal, tapi yang ga tahu diri juga banyak, cuma petantang petenteng di Turki, asyik main HP, dapat tunjangan uang tanpa harus meras keringat, saya pernah bertemu pengungsi yang bekerja apa saja di İstanbul, tapi bertemu mereka yang seperti saya tulis diatas juga banyak:( Uang bantuan EU tidak seberapa, dan rakyat Turki masih harus gotong royong membiayai mereka,dihantam inflasi, invasi suriah.

Allah Korusun, Sudah banyak tentara Turki gugur diperbatasan, harus berapa banyak lagi martir generasi mudanya. Saya sedih, Pada akhirnya ambisi kekuasaan jika sampai terjadi perang, yang dikorbankan Rakyat, yang menderita Rakyat. Doakan Turki baik-baik saja. Jika negoisasi Buntu, Suriah-Turki perang di perbatasan:(