Setahun sudah berlalu, cerita pandemi belum sampai ending-nya, jenuh ? sudah pasti. Banyak hal terjadi, secara ekonomi dan sosial, Dalam hubungan bermasyarakat terutama, saya cerita tentang kondisi sosial di Turki, terutama hal yang saya alami saja tidak meng-generalisir. Beberapa tradisi Turki yang berkurang semenjak pandemi:

Tradisi cipika-cipiki

Di Turki tradisi cium tangan dan cipika-cipiki tergantikan hanya dengan bertegur sapa, jaga jarak, hanya dengan isyarat tangan saja, biasanya dulu setiap bertemu kerabat, pipi rasanya kebas karena harus cium tangan dilanjut cium pipi kanan dan kiri sebanyak 2 kali terkadang sampai 3 kali.

Contohnya seperti ini: Dulu, di Apartemen İstanbul, setiap jumat, ev sahıbı-pemilik kontrakan-tempat kami sewa– selalu mengadakan acara pengajian setiap hari jumat, acaranya bergilir dengan ibu-ibu tetangga lainnya, jika saya datangnya sedikit telat ( sebelum pengajian dimulai ) biasanya menyapa ibu-ibu pengajian dengan cara menghampirinya satu persatu, katakanlah jumlah ibu-ibu yang datang sekitar 20 orang, semuanya saya hampiri, salaman dan cipika-cipiki , per pipi 2 kali bersentuhan, lumayan pegal. Paling aman, datang sengaja telat, biasanya saya hanya mendekati ibu-ibu yang terdekat dari saya duduk saja, salaman dan cipika cipiki sebentar, untuk ibu-ibu lainnya saya beri isyarat tangan di depan dada saja.

Semenjak pandemi tradisi ‘hangat’ seperti ini menghilang karena harus jaga jarak. Cukup ucapkan salam seperti biasa dengan tetap jaga jarak, wah biasanya jika saya berkunjung ke ibu mertua, satu pipi 3x beliau cium, heheh extra.

Tradisi kumpul keluarga

Sebagian menghilang, sebagian masih banyak yang mempertahankan, ada yang menggantikannya dengan sistem online, misal via aplikasi Zoom, obrolan online, tapi untuk kami, tradisi kumpul keluarga besar, semenjak pandemi tergantikan dengan teknologi, sepanjang tahun 2020, tidak ada sama sekali kerabat berkunjung ke rumah, ditambah komplek tinggal memang memberlakukan larangan kunjungan dimasa-masa suami harus jalani karantina mandiri. Kalau kebetulan suami dapat jatah libur, kami turun gunung menuju merkez kota Çorum, jenguk anne dan baba di desanya, terkadang mampir sebentar ke rumah kakak ipar, titip anak-anak di rumah kakak ipar, berusaha meminimalisir interaksi anak-anak di keramaian kota, lalu kami berdua menyelesaikan sebuah urusan di pusat kota tanpa membawa anak-anak, semisal ada urusan di kantor pemerintahan.

Makan di luar semakin berkurang

Sebelum pandemi, kami biasa makan di luar kalau kebetulan turun gunung dan jalan-jalan ke pusat keramaian, makan di Food court Mall, atau masuk restoran, tahun 2020? bisa dihitung berapa kali makan di luar, hanya ketika liburan musim panas atau piknik di hutan, untuk piknik hitungannya masak sendiri. Sepanjang pandemi dapur menjadi area kekuasaan saya 24 jam, sampai rasanya jenuh melihat kompor dan oven yang rajin sekali menyala. Kalau ada pertanyaan, tidak order online? sejenis Go-food ada di Turki, tapi itukan untuk area di perkotaan, siapa yang mau antar ke gunung gini-.-‘ berat di ongkos.

Belanja make-up berkurang?

Untuk saya pribadi, beli make up berkurang, terutama lipstik? alasannya? sudah jarang menghadiri kumpul keluarga, pesta pernikahan, kemana-mana menggunakan masker terus, kadang sama sekali tidak saya buka kecuali di mobil, berjalan di pusat kota tanpa mengenakan masker ada ancaman denda, ya kenapa harus repot-repot memoles bibir yang ujungnya malah nempel di masker. Terkadang ke luar rumah tanpa menggunakan make up sama sekali, cukup cuci muka, tutup masker, toh orang-orang tidak akan sibuk memperhatikan. Hikmahnya jadi irit kan ya.

Tradisi kumpul tetangga

Awal datang ke Pluto, saya sempat ikut arisan komplek, ceritanya di arisan ibu-ibu di Turki seperti apa. Hampir tiap bulan ibu-ibu kumpul, bergilir, nah ajang kumpul arisan ini terkadang jadi ajang ‘pamer’ isi rumah, Beberapa kali saya sempat menulis tentang kebiasaan sebagian besar ibu-ibu di Turki jika mengadakan acara kumpul-kumpul mungkin sudah banyak yang hafal, tidak lepas dari pamer isi rumah sampai ke kamar juga dipamerin isinya. Bisa baca juga cerita ini : Bertamu dan menerima tamu ala orang Turki.

Semenjak pandemi ini, saya sudah jarang berkunjung ke rumah teman, meski cuma beda lantai, selain alasan jadwal para suami yang tidak tepat, karena semenjak Pandemi, jadwal kerja banyak diubah, kadang suami si A masuk kerja, suami di rumah kebagian jatah karantina, satu lagi suaminya libur, tidak bebas berkunjung jika ada suami si teman di rumah, bapak -bapak turki tidak ujug-ujug santuy ikut nimbrung jika ibu -ibu tetangga berkunjung, mereka akan memilih bertapa di kamar, tidur, atau keluar rumah seharian jika teman istrinya berkunjung. Pokoknya harus di asingkan heheh.

Tradisi belanja online meningkat

Ada yang berkurang ada yang meningkat, transaksi online semenjak pandemi lebih meningkat, tidak hanya di Turki saya kira, hampir diseluruh dunia, memanfaatkan marketplace, ya kamipun seperti itu, tapi deritanya tinggal di gunung, terkadang paket sampainya sedikit lebih lama dan masih harus cek dulu jasa pengiriman, tidak semua jasa pengiriman buka rute ke Pluto. Belum harus melewati pengecekan di pos penerimaan Lapas. Karena masih satu sistem, meski penerima paket atas nama istri, paket akan diberikan ke para suami.

Saya sempat tertarik order online, dan tanya ke teman yang menjualnya–dia jualan ceker ayam– kangen juga makan ceker ayam di Turki, dan minta suami untuk transfer orderan, tapi ditolak dan dia tidak mau saya beli makanan ga jelas itu (menurutnya**) apalagi nanti harus terima paketnya lewat dia, udah horor sendiri jika ambil paket di pos dan teman-temannya tanya, kadang mereka ‘kepo’ karena istrinya WNA. Paketnya suka aneh-aneh hahaha, pernah beli tapioka 5 kilo dan dikirim dalam bentuk ember.

Bisa dibilang setahun ini kena syndrom LLG (loe lagi loe lagi)* Menjaga kewarasan karena waktu 24 jam bersama pasangan jauh lebih banyak dibanding sebelum pandemi, jenuh? bosan?

Berasa jadi manusia lebih individualis? interaksi sosial semakin berkurang, Untuk pasangan? ada dua kemungkinan, jika hubungan baik-baik saja, rasa-rasanya menjalani tahun seperti sekarang ini bisa dilalui berdua, bisa meningkatkan kualitas hubungan, tapi jika hubungan buruk, di Turki saja , kasus kekerasan semakin meningkat ditambah kondisi ekonomi yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

Sebagai manusia yang ngakunya introvert—

Berkurangnya beberapa tradisi atau kebiasaan orang Turki tidak begitu mengusik saya, apalagi cipika cipiki berkali-kali, sebelum menikah pun saya kurang suka kebiasaan ini, rasanya terselamatkan oleh alasan ‘jaga jarak’ , tradisi kumpul-kumpul, nah ini juga tidak terlalu membuat saya sedih, ngeÇay, ngobrol sampai larut malam diselingi makan kudapan manis lanjut kuaci dan aneka kacang terkadang bisa 2 kali memanaskan Çay danlık, jika obrolannya seru, padahal mata sudah 5 watt.

İni pengalaman dari keluarga turki saya, karena masih banyak kok orang turki ‘ngeyelan’ heheh, tetap kumpul-kumpul ga peduli protokol kesehatan. yang penting kumpul.