Saya Tidak pernah menjuluki diri dan ngaku sebagai cewek tomboy waktu remaja. Hobby di masa kecil, tetap sesuai anak-anak perempuan lain: masak-masakan, main boneka. Tapi busana? ya ini mungkin yang selalu orang menyangka saya : Cewek tomboy. Selera busana saya minimalis, tidak suka baju dengan banyak aksesoris. Rok? Hanya beberapa itupun kebanyakan rok untuk sekolah. Lalu kenapa di Cap tomboy?

Pernah sakit hati, ketika saya dibilang: ‘ih kamu kayak cowok’‘, eh padahal saya udah berkerudung dari Madrasah, udah pakai rok panjang, karena emang seragam sekolah. Main game? ga suka? nonton balapan? bawa motor? engga juga. Nonton Bola? ehm pernah emang saya suka nonton. Selebihnya malah sifat saya ‘perempuan’ banget. Gampang nangis, sensitif, Mungkin ya, karena sifat aslinya terlihat rapuh jadi membentengi diri dengan sifat cuek, biar ga jadi korban ditindas. Atau karena cara jalan saya tidak gemulai bak puteri kraton? aduh saya mah rakyat jelata.

Jangan selalu menilai dari penampilan

Saya belajar sekali untuk menerapkan kalimat ini, selera busana kasual, pernah mendapat hadiah baju dengan banyak manik-manik dari İbu mertua, tidak pernah saya pakai, tapi saya berikan ke orang yang membutuhkan. Saya pernah protes ke İbu saya ketika dijahitkan Gamis dengan motif bunga matahari dan warna oranye.

Masa kuliah, temen-teman saya di kampus memang didominasi cowok, karena jurusannya juga, tapi apa saya jadi ‘kayak anak cowok?’, Saya hanya suka dengan selera busana minimalis, mungkin warna baju akan seputar itu-itu aja seperti warna di blog ini. Saya tidak pernah menyukai kegiatan teman-teman cowok seperti main game. Mungkin ya seputar selera musik, saya bisa sehati dengan beberapa teman yang juga menggemari Linkin Park, ah musik mereka seperti Wajib diputar melalui Winamp.

‘elu bisa masak?” ya Allahh, sebegitu ga meyakinkan kah penampilan saya sebagai perempuan, salah satu teman dekat mengkhawatirkan saya ketika berumah tangga, dibayangannya, saya akan tetap berkarier, kerja kantoran, lalu bayar asisten rumah tangga. Tidak menyentuh dapur. Karena predikat cewek tomboy meski sudah berhijab dari bangku sekolah. Kenyataannya? Keterkejutan dia menjadi-jadi ketika diawal Pernikahan saya rajin sekali posting masakan di sosial media, tapi komenannya: ”ini yakin masakan lu?” gubrakkk.

Cewek tomboy bisa jadi ibu yang baik?

Selera busana saya tidak pernah berubah, Penampilan bisa saja terlihat santai, minimalis, Zaman Kuliah saya lebih suka mengkoleksi sandal gunung daripada harus memakai sepatu ber-hak. Hingga kerepotan sendiri ketika wisuda, cari kebaya dan sepatu hak tinggi, beruntung sepupu mau meminjamkan koleksi busananya. Tapi menilai seseorang hanya dari penampilan luar saja.

Padahal saya mau bilang: saya bukan cewek tomboy. Hanya karena saya kurang suka pakai rok tapi lebih milih rok celana, karena jarang pakai Tunic, malah kaos panjang terus. Karena dulu jarang sekali kulit saya tersentuh make up tebal, tapi tetap perawatan, teman baik saya sering mengajak ke salon. Tapi melekat sekali predikat ini. Karena tas yang saya pakai itu-itu aja, mantan rekan kerja saya ada yang tergila-gila mengkoleksi tas branded, rela menabung untuk membeli tas, ini selera saja, toh duit dia sendiri, tapi kalau saya jadi dia, mending menabung buat pergi haji atau liburan kayaknya hehe ga terlalu memusingkan penampilan, agar bisa matching antara baju dan tas yang dipakai.

Menjadi seorang ibu ga bisa dinilai juga dari Penampilan luar, meski saya tidak bersanggul, atau selalu memakai sepatu ber hak, tas jinjing dengan merk mahal, malah terkesan cuek. Saya tetap bisa kok membagi peran menjadi seorang İbu, ngurus dua anak berdua saja dengan suami, masak? nah buktinya bisa berbagi resep juga di Blog, atau karena tidak terlihat feminim saja? saya juga kan bukan ibu ibu sosialita yang selalu glowing dengan busana trend ditahun yang sama, Jadi diri sendiri lebih nyaman kan ya…ga pusing mikir banyak pengeluaran hanya untuk terlihat ‘cantik paripurna’ meski koleksi kerudung saya juga tetap ga banyak, belum tentu tiap tahun nambah koleksi kerudung baru.

Soal penampilan rambut, karena saya memang sudah berhijab semenjak usia sekolah, rambut saya memang tidak pernah panjang, alasan saya sederhana, karena ditutup juga dengan kerudung, selain itu gerah. Eh ditambah sekarang sering rontok. Saya bahkan sempat mencukur habis rambut saya tahun 2017 lalu, karena kerontokan parah selepas melahirkan Alya, yang mencukur tentu saja suami. Kata suami: eh kamu ganteng? Lah ..ga berubah orientasi kan hahaha…astagfirullah jangan lah-.-*

Jadi menurut teman-teman tolak ukur seseorang tomboy itu dari apa saja? karena banyak yang mengira cuma dari penampilan luar?