Membahas isu rumah tangga di Turki memang ga pernah habis, hari ini di media sosial Turki ramai tagar nama seorang perempuan: #eminebulut. Saya ga tega share berita dalam bentuk video yang beredar di Turki, tapi kalau mau baca berita online berbahasa inggris, silahkan buka link di bawah ini:

EMİNE BULUT

Singkatnya: Dia (Emine) seorang Perempuan yang sudah bercerai dengan suaminya, mereka bertemu di sebuah Cafe untuk membicarakan masalah anaknya (10 th) berujung: Emine  mengalami luka berat di leher,  sang mantan membawa senjata tajam untuk melukainya,  Banyak saksi mata, tapi mereka diam, tidak berani ikut campur. Sibuk mendokumentasikan. Dan dengan santainya pelaku pergi naik taksi, dengan membawa pisau bekas dia menggorok leher mantannya, ditanya darah apa: darah hewan!  ini gila? psikopat?…

Kasus seperti ini timbul tenggelam di Turki.  10 tahun lalu, nasip naas dialami perempuan lokal Turki, menggugat cerai suami sampai pengadilan, berakhir meregang nyawa. Suaminya mengancam akan membunuhnya jika menggugat cerai. Dan ancaman itu dia lakukan. Belum lama, Berita seorang Perempuan yang ditembak bersama orangtuanya di depan pengadilan juga mencuat. Karena si Perempuan menggugat cerai suaminya. 

Berita tentang KDRT terlalu sering saya tonton di TV lokal, kadang mempertanyakan Hukum negara ini, Secara Hukum sudah cukup kuat sebenarnya, Kasus di tangani Polisi, sigap. Tapi bisa mentah di Pengadilan. Posisi Hakim  yang cenderung memberi ruang ke pelaku, karena dia Pria!  Negara ini! ya negara yang dipuja-puja mereka  di luar sana sebagai, penerus khalifah bla..bla…, Masih mengakar sistem Patriarki yang kuat.  Kadang ini yang menjadi pertanyaan saya, kenapa Uni Eropa selalu tarik ulur terhadap Turki! Mereka masih harus bekerja keras membenahi sistem dari dalam. Hak-hak Perempuan terutama.

Anak laki-laki Turki

Berapa banyak LSM lokal yang memberi Pengetahuan, tindak pencegahan lewat lembaga Pendidikan, tapi kalau dari sistem Keluarganya sendiri ga mendukung, ga ada perubahan, akan tetap melahirkan generasi-generasi abusive. Problem internal sendiri dalam kekerabatan Keluarga di Turki. Ketika anak laki-laki di didik bak pangeran keluarga, banyak yang masih mempraktekkan. Ketika si anak laki-laki berumah tangga, dominasinya akan lebih terasa, dan Perempuan hanya menjadi objek baginya. Sampai bulan ini sudah 245 kasus korban KDRT di Turki.

Pentingnya Mengambil Sikap

Lewat tulisan ini, saya ungkap sisi lain tentang negara yang saya tinggali, Fakta dan realita hidup di Masyarakatnya.

Lalu bagaimana caranya agar terhindar bertemu pasangan seperti itu?

Cemburu berlebihan, tidak mudah mengontrol emosi, Abusive dari awal dekat. Sudah jangan teruskan! seberapa gantengnya Pujaan Hati. Selidiki juga latar belakang keluarga, coba bahas pendapatnya tentang kasus-kasus kekerasan di Masyarakat. Bagimana reaksinya, Adakah pembenaran pendapat ketika dia mengatakan: Wajar jika menampar, kalau pasangannya salah? ini udah lampu kuning menuju merah.

Jangan pernah identitas kita dipegang seluruhnya sama pasangan, terutama pasport-ketika tinggal di Luar negeri ini bagai nyawa cadangan buat bertahan, mencari pertolongan. Jangan lupa lapor diri bisa lewat link di bawah ini:

PEDULİWNİ

Jika berada di Turki, wajib catat :

A. KBRI Ankara:
Prof. Dr. Aziz Sancar Cd. No. 10 (Lama: Abdullah Cevdet Sk. No.10) PO Box 42 Çankaya 06680 Ankara / Turki
+90 312 438 21 90 – 92

B. KJRI istanbul ;
Esentepe Mah., Keskin Kalem Sokak No. 13 Sisli – Istanbul, Turkey​​ 34394
Telp; +90 (212) 674-8686

C. hotline polisi: 155
D. Jandarma : 156
E. Ambulance; 112
F. Pemadam kebakaran ; 110

Terakhir, ketika ada keraguan di hati, Plus minus tapi lebih banyak minusnya, Jangan mendewakan ‘feeling’ kalau kamu bisa mengubahnya, masalah kejiwaan, ada psikiater, ada pihak yang bisa memberikan konseling. Serahkan ke mereka.

Untuk Muslim: tegakan tahajud,istikharah, salat hajat, perbanyak sedekah, dzikir. sebelum menjawab: İya. Usaha lewat prosedur dunia, akhirat juga libatkan. Jika bisa seimbang. Mudah untuk kita melangkah.

Semoga tidak ada lagi emine-emine yang lain….apalagi menimpa Perempuan İndonesia yang bersuamikan WNA. Kita harus kuat, punya sikap! –Salam–