Tahun 2016, waktu hamil anak ke-dua, saya biasa kontrol di salah satu rumah sakit pemerintah di İstanbul, ada kejadian kurang mengenakkan, karena buruknya pelayanan di bagian klinik tersebut, Dokter kandungan yang kami datangi, sesuai jadwal rendevu dari sistem di internet, tidak berada di tempat, lama menunggu, baru kemudian dia datang, cara memeriksanya? singkat padat, meninggalkan kesan kurang memuaskan terutama bagi saya sebagai ibu hamil, dan ternyata keluhan yang sama dirasakan ibu-ibu yang lain.

Karena pelayanan buruk tersebut, suami yang emang (tukang ngadu) kemudian langsung kirim email ke departemen kesehatan Turki, menjelaskan kronologis dengan detail, ketidakprofesionalan Dokter tersebut, dia tulis sesuai fakta, Dia waktu itu ikut mengantarkan juga.

Hasilnya? sebulan kemudian ketika ada jadwal kontrol dokter, kami ambil rendevu (appointment by online) di website departemen kesehatan untuk kontrol kehamilan, nama dokter tersebut tidak ada, digantikan Dokter kandungan favorit kami: Dr. Nilüfer Koç, nama depan dokter ini kami sematkan dinama si Alya, Beliau dokter kandungan idaman, sangat detail, bahkan seringnya tidak banyak meresepkan asupan vitamin tambahan jika menurutnya ibu hamil tersebut bisa makan tanpa kendala mual, makanan alami lebih baik. Biasanya pasien malah direkomendasikan makanan-makanan bergizi yang bisa diolah sendiri tanpa harus melalui proses pabrikan. Karena saya sering bermasalah sama tekanan darah rendah, asupan pekmez, kuru üzum (kismis) disarankan beliau.

Entah Dokter yang diadukan suami, dimutasi kemana, dengarnya kena ‘sapu bersih’ pemerintah, karena diduga erat ada kaitan dengan peristiwa 2016, Kita murni mengadukan kinerjanya bukan personalnya ya. Bayangkan sudah nunggu lama, masuk ruang periksa ga nyampe 5 menit-.-‘

Ada layanan Aduan

Misalkan pelayann kesehatan publik kita nilai buruk, silahkan manfaatkan layanan aduan ke departemen yang menaunginya, tenaga medis, pelayanan medis dibawah departemen kesehatan, di website resminya sudah ada fasilitas pengaduan resmi seperti dibawah ini:

T.C. Sağlık Bakanlığı
Üniversiteler Mah. Dumlupınar Bulv. 6001. Cad. No:9
06800 Bilkent – Çankaya / Ankara-TURKEY

Tel: +90 (312) 585 10 00


E-mail: disabgm@saglik.gov.tr

Berdasar pengalaman pribadi, pengaduan kami cukup dapat respon dari pihak departemen kesehatan, tidak hanya dimasalah pelayanan medis, saya juga ada pengalaman buruk, kecopetan di pasar! uangnya tidak seberapa, parahnya karena ada kartu ikamet saya dan kimlik anak-anak di dompet-.-‘ waktu itu kondisinya 2 bulan lagi mau mudik ke İndonesia, kartu maha penting itu hilang dicopet. Panik?tentu saja.

Kemudian, saya dan suami datang ke kantor polisi terdekat, membuat laporan kehilangan, lalu minta juga surat pengantar untuk saya membuat ikamet baru dan kimlik anak-anak. Untuk kehilangan uang, ya sudah lah, hitung hitung berbagi rezeki saja sama pencopet yang mungkin lebih butuh, seingat saya, uang didompet waktu itu kurang dari 50 lira, kalau 50 ribu lira, mungkin nangis heheh, ah ga mungkin juga nyimpen 50 ribu lira di dompet kecil, ga muat, apalagi kalau recehan semua…,lah ngayal jauh.

Selang dua mingguan kalau tidak salah, suami dapat telpon dari polisi, mengabarkan kalau pencopet yang beraksi di pasar itu sudah ditangkap, kami juga dapat surat dari pengadilan..wew! yang menjelaskan kalau pencopet itu ditangkap dan ditawarkan apa mau menuntut si tersangka? wah karena pikir saya, toh kartu kartu sudah dapat ganti baru, uang hilang juga ga besar, kami tidak menuntut, ribet juga urusan sampai pengadilan kalau cuma perkara 50 lira.

Cerita denda 15 ribu lira

Saya lupa tepatnya kapan, tapi masih ingat nonton berita, ada seorang warga sipil yang memposting foto ketika dia berkunjung ke salah satu lapas, foto tersebut dia unggah di sosial media, warga ini berakhir dapat denda 15 ribu lira.

Ada aturan untuk tidak sembarangan menposting fasilitas negara, apalagi kalau berkaitan dengan keamanan nasional, jelas terlarang, seperti fasilitas militer, kalau ini tidak hanya di Turki tapi diberbagai negara juga jelas aturannnya.

Sama seperti kalau saya menulis di Blog : ‘‘komplek sebelah’‘, saya tidak akan memperlihatkan dalam bentuk foto dan diunggah di blog maupun sosial media, komplek sebelah ini nama lain dari isi komplek lapas yang lokasinya tepat sekali bersebelahan dengan gedung C, tempat saya tinggal sekarang, tinggal di lantai paling atas, otomatis, saya bisa melihat langsung dari balik jendela kamar, aktifitas para tahanan disana. Suami sudah mewanti-wanti dari awal menempati unit ini, jangan sampai foto komplek sebelah diunggah di Blog, sosial media, apalagi dibuat konten youtube! nyari perkara.

Alasannya: bukan konsumsi publik, fasilitas negara, dan juga melindungi privasi warga binaan. Kalaupun penasaran bentuk lapas di Turki, silahkan googling dari sumber resmi pemerintah atau dari kolom portal berita yang dapat izin meliput, tapi warga biasa? beresiko.

Ada etika yang harus kita terapkan tapi mungkin tidak tertulis dengan jelas di tembok, untuk tidak sembarangan memposting, membuat konten yang berkaitan dengan fasilitas publik, fasilitas negara. Tidak semua orang senang fotonya beredar tanpa izin di internet, sama seperti etika orang korea selatan, biasanya memblur atau memberi stiker foto orang lain yang kebetulan masuk dalam frame foto dia. Meski tidak semua, tapi kebanyakan orang Turki juga seperti ini.

Belajar dari kasus konten kreator yang bermasalah dengan hukum.

Saya tidak sebut nama, mungkin sudah paham, menurut saya, tidak semua perlu dibuat konten di Turki, apalagi jika berkaitan dengan pelayanan publik, fasilitas kesehatan. Ketidak puasan, aduan, gunakan saja jalur yang sudah diberikan pemerintah Turki, ada layanan aduan disetiap departemen, untuk urusan medis ada departemen kesehatan, kalau perlu sekalian aja mention menkes nya di twitter heheh, Jika sampai berkasus hukum, meski kita merasa ‘benar’ sebagai warga biasa, melawan pemerintah, powernya sekuat apa? yang ada menambah catatan negatif di E-goverment Turki, karena pernah berurusan hukum disini, track record minus di E-devlet -E-goverment–) Bukan hal baik, suatu saat bisa mempersulit diri sendiri, seperti urusan izin tinggal (ikamet).

Tidak semua harus dibuat konten, Turki termasuk sensitif, kalau tidak puas dengan pelayanan pemerintah, tinggal adukan saja, ada layanan pengaduan. Dibuat viral tidak ada untungnya untuk kita sebagai pendatang dan warga biasa, hanya kepuasaan sesaat, disini beda sistem dengan İndonesia, terlihat gerak ketika viral. Tapi ketika memviralkan justru kita yang tersandung—(gambaran saja) karena pengalaman pribadi, aduan kita selalu dapat respon baik dari pemerintah, Maklum lah ada yang tukang ngadu di rumah:C, merasa bayar pajak tinggi terus dapat pelayanan buruk, hak warga kata dia ngadu, tapi bukan ngadu ke publik ya apalagi dibuat konten:)

Semoga jadi pelajaran untuk siapapun yang menetap di Turki, dimana bumi dipijak disana langit dijunjung..begitu kan.., saya jadi kebayang, seperti kasus kontroversi attaturk di İndonesia yang akan dijadikan nama jalan, atau orang orang yang hobby sekali membuat konten negatif tentang attaturk, baik dalam ceramah atau konten video–ada yang membuat judul, bau mayat di makam att, tidak diterima bumi” syukurlah mereka tidak tinggal di Turki, karena bisa dipastikan akan terjerat hukum disini.

Atau kalau mau mengkritik pemerintah, jangan frontal, sindiran halus aja…berkamuflase misalkan ganti nama jadi MAWAR. İngat ya negeri kebab sensitif:) Apalagi kalau kita cuma pendatang. Sudah terlalu banyak pendatang di negara ini, yang nambah bikin sensi penduduk lokal, İngat kasus warga suriah yang nyindir warga lokal dengan makan pisang sampai viral di media sosial, karena menanggapi berita keluhan orang Turki karena inflasi dan kesulitan ekonomi, bahkan untuk beli pisang aja ga mampu (maksudnya karena pisang itu buah impor termasuk mahal di Turki) hasilnya, mereka yang membuat konten tersebut berurusan dengan hukum dan kabarnya dapat ancaman deportasi. Seperti itu lah kira-kira.

Semoga yang bermasalah dengan hukum dapat solusi terbaik, siapapun itu. Pesan saya cuma satu: Tidak semua harus dikontenkan di Turki:) kalau ada cara lebih aman, ambil jalur itu karena saya yakin ada respon , bukan ngadu ke publik lewan konten pribadi, Karena tidak akan ketemu solusi, misal respon kurang memuaskan, kontak saja media besar.. semacam fox tv:) eh Nambah panjang urusan. Lagi lagi saya akan menulis kalimat terkenal tentang Turki:

Burası Türkiye herşey olabilir