Hari raya lalu, anak-anak sama sekali tidak dibelikan baju hari raya, Fatih dan Alya memakai baju yang ada saja dan masih bagus, meski hari raya di Lockdown 4 hari, sebagai warga lojman yang tinggal di Pedalaman Pluto dan jauh dari peradaban manusia, warga masih bebas keluar rumah selama masih di area tinggal. Dan anak-anak Lojman masih bersuka cita merayakan hari raya yang dikenal juga dengan seker bayram: Lebaran manis–mungkin karena ada tradisi mengetuk pintu tiap rumah untuk mengucapkan: Selamat hari raya (İyi bayramlar) tradisi yang mirip ala perayaan Haloween. Tidak lupa sebagai tuan rumah, saya sudah membeli sebungkus permen, untuk mereka jika mengetuk pintu rumah kami. Dan benar saja, anak-anak tetangga berkumpul.

membagikan perman,coklat atau uang kecil untuk anak-anak di hari raya jadi tradisi lebaran di Turki.

Anak-anak tetangga datang untuk mengucapkan hari raya ditengah suasana lebaran yang di lockdown. Fatih dan Alya yang masih ‘santai’ saja dirumah, apalagi waktu itu Babanya justru harus masuk Dinas. Kami bertiga saja di rumah, tanpa menu lebaran yang lengkap, saya cuma sempat membuat : Gabus keju dan kripik bawang, untuk kue kering semacam nastar, entah kenapa hasrat –Baking– menurun menjelang lebaran, maunya praktis gitu tinggal..hap. happ:D Beli nanas, berakhir dikupas dan dimakan biasa saja, tanpa kepikiran dibuat selai untuk nastar. Maunya rebahan dan kue sudah jadi semua, dasar emak emak pemalas:S

Tidak beli baju lebaran bukan berati tidak pernah dibeliin baju, begitu kira-kira. Beli beberapa baju untuk bisa dipakai kapan saja, termasuk ber hari raya, Babanya tidak suka dalam kondisi ramai berburu baju hari raya-kecuali tahun lalu, karena Dede-nya yang traktir ingin membelikan baju lebaran cucu-cucunya- mumpung Dede lagi royal, jadilah anak-anak punya baju lebaran pas lebaran 😀 dan yang milih-milih tetap babanya. Kalau alasan tahun ini, ya tentu saja karena pandemi Covid-19,menghindari kerumunan manusia berbelanja. Cari moment yang mulai sepi dan baru belanja baju.

Perlukah anak-anak beli baju lebaran

Sampai sekarang, semenjak menikah saya jadi terbiasa dengan cara suami mengenalkan konsep: Lebaran tidak harus identik pakai baju baru, terbiasa memakai baju yang masih bagus dan tinggal mix and match saja, bukan berarti dia pelit, beli baju sesuai kebutuhan saja, kalau memang udah kekecilan-terutama buat anak-anak, Ya Babanya langsung belanja ga tanggung-tanggung seperti beberapa hari lalu. Baju lama anak-anak disimpan dan biasanya kami sumbangkan, kalau di İstanbul, ada kotak khusus yang ditempatkan dipinggir jalan–untuk menaruh barang lama, termasuk baju-baju bekas, siapa tahu ada yang membutuhkan, sayang di Pluto belum menemukan lagi. İni contoh di salah satu provinsi Sivas Turki, ada kotak khusus untuk barang-barang bekas termasuk pakaian jika ingin disumbangkan.

sumber foto: sivas belediye

Menumpuk pakaian dirumah, selain ga nyaman juga lihatnya, kami sering memisahkan ke plastik tersendiri, disortir dan kemudian sumbangkan. Jika membeli baju baru, harus ada baju lama yang disumbangkan. Konsep yang kami jalani semenjak menikah. Dan dalam İslam, ada hisab harta yang kita miliki, termasuk menumpuk barang-barang, Padahal kalau dibilang alim, Babanya agak slenge-an, Bukan ikhwan-ikhwan berjidat hitam*eh. Tapi banyak konsep dalam islam yang dia terapkan dalam keseharian, Beragama itu prakteknya harus jelas, bukan chasingan saja. Saya belajar banyak dari suami, bagaimana dia menerapkan banyak hal, mulai tentang kebersihan badan, ga buang sampah sembarangan, orang yang selalu ringan tangan dijalan bantu orang lain, ga pernah egois duduk di kendaraan umum, kalau ada yang lebih berhak untuk duduk. Dia ga ngatur ngatur saya, ngelarang kalau ga memakai gamis lebar, atau ngelarang saya aktif disosmed, ga masalah, asal tahu batasan. Termasuk urusan belanja, jika beli baru, harus ada yang keluar–alias ada yang disumbangkan, Kalau ga ke orang lain, biasanya dia kasih ke keponakan laki-laki, sepatu, baju lamanya yang masih bagus.

olshop yang mengecewakan di TURKİ!!

Ya termasuk konsep lebaran tidak harus identik dengan baju baru menurut dia, dan konsep malam takbiran kenapa harus bersuka cita seakan meluapkan kebahagian, karena esok hari raya, kenapa ga bersedih karena ditinggal bulan ramadan, yang belum tentu dipertemukan kembali tahun depan, ah ga tau lah…waktu saya ajak dia menonton video malam takbiran versi muslim İndonesia, seakan perayaan tahun baru, justru dia kaget. Ya karena di Turki memang tidak dirayakan secara ramai malam takbiran.

Lemari kami, termasuk yang ga padat isinya, atau karena saya juga tipe yang menyukai minimalis, numpuk barang banyak itu rasanya risih, ada aja yang pengen diangkut diplastikin kemudian bawa ke kotak sumbangan, sekarang saya simpan dulu dibawah tempat tidur, karena memang ada kotak khusus untuk menaruh barang-barang, di Pluto rada kesulitan mencari kotak sumbangan seperti foto diatas. Biasanya jika pas keluar rumah, baru kami angkut nyari tempat untuk disumbangkan, kadang sengaja ditaruh di dekat tempat sampah, tidak dimasukan ke tempat sampahnya ya–karena memang belum menemukan kotak sumbangan seperti di kota besar-.-‘ ah semoga pak belediye baskan Pluto inisiatif membuat proyek yang sama.