Kalau menulis siapa teman- teman terbaik saya dalam hidup, sebenarnya banyak, saya menghargai semua pertemanan yang terjalin, oh ya jujur saja, saya bukan orang populer yang mudah memiliki banyak Kawan, dengan karakter plegmatis seperti saya tulis di postingan sebelumnya. Butuh proses dipertemuan kesekian baru saya bisa mengakrabi seorang teman baru.

Bisa juga karena saya tidak terlalu terbuka, atau terlalu cuek, atau pelupa. Saya berteman dengan siapapun tanpa melihat latar belakang selama itu tidak merugikan satu sama lain, Mengenyam pendidikan di Pesantren tidak menjadikan saya ‘ekslusif’ hanya dengan segolongan saja, Loh Kenapa? Allah itu menciptakan Manusia dengan keanekaragaman adat budaya nya supaya kita bisa saling mengenal.

Waktu kuliah di semester awal, teman main saya di kampus Sebut saja Maria dan Yuni, Keduanya beda keyakinan, keduanya gadis batak yang taat beribadah. Maria meruntuhkan imej perempuan Batak yang digambarkan orang-orang, dia pribadi yang lembut. Keyakinan berbeda tidak menjadi alasan untuk saya menjaga jarak. Saya pernah menginap di Kost-nya karena tugas kelompok, urusan İbadah? Maria bertanya ke teman kost nya dimana arah kiblat terlebih dahulu dan mempersilahkan saya solat di kamarnya, meyakinkan kalau tempat solatnya bersih, dia juga menyimpan sementara patung Bunda Maria, Rosario dan İnjilnya karena posisi kiblat ternyata tepat di depan meja dimana biasa Maria meletakkan İnjilnya. Persahabatan kami kalau itu tulus penuh toleransi, Bahkan saya mengajak Yuni ke asrama pesantren, karena dia penasaran. Teman teman juga di asrama menghargai dan mempersilahkan dia masuk melihat kamar, disitu saya tunjukan bagaimana kehidupan kami sehari-hari berlangsung. Tidak ada yang salah?

Ada juga kedua teman kampus yang lain, karena jurusan saya memang di dominasi kaum adam. Teman beda keyakinan lagi, teman main yang sering saya repotkan minta antar jemput kalau ada tugas kampus, pameran dan sebagainya, saya sabar menunggunya nyanyi di Kegiatan Gereja nya dulu, Bahkan pernah satu hari, Minggu pagi sudah nongkrong di kost, saya usir ga mau pergi, Bukannya tiap minggu dia harus ke Gereja, dengan santainya dia mengatakan kalau gerejanya pindah dulu ke kost saya, ini sih parah, bilangnya mau İbadah dari rumah, malah numpang leyeh leyeh di kost-.-‘ Ya sekelumit kenangan saya di Yogyakarta dulu.

Teman lama?

Sekarang seperti berjarak, entah kenapa? Bahkan kami jarang sekali bertukar pesan pribadi, Lalu teman sekolah, masih ada dalam Grup WAG, Kemudian teman-teman ex Kantor dulu, tetap komunikasi via sosial media terutama İnstagram. Dulu, Saya tidak pernah sangat mengistimewakan nama seseorang sebagai kata ‘terbaik’. Ada yang dulu ketika single dekat sekali, entah kenapa sekarang berjarak. Mungkin karena saya bukan tipe manusia yang suka berbasa basi menyapa terlebih dahulu lalu sekarang terlupakan.

Untuk sekarang, ketika saya sudah bermukim di negara suami, tetap berteman juga dengan teman sesama WNİ, saya juga ada teman terdekat tempat saya bertukar pikiran, meski jarang menunjukan interaksi kuat di sosial media, tapi konsisten bertukar kabar, karena bagaimanapun dia saya kenal 10 tahun lebih. Dan dalam 10 tahun terakhir orang-orang yang saya anggap SAHABAT jatuh kepada Dia dan teman teman istimewa ini, mereka, teman teman yang saya kenal di YİSC Al Azhar, kenapa? Karena hanya mereka yang tidak meragukan keputusan saya menikah dan menganggap saya aneh, support terbaik dan tulus. Sampai saat ini komunikasi tetap berjalan, Kami sudah mengalami banyak pasang surut, ditinggal dua orang sahabat wafat karena sakit, ditinggal seorang lain yang begitu saja memilih pergi tanpa menjelaskan alasannya. Ada yang datang dan pergi, meski memiliki kesibukan masing-masing, jalinan komunikasi tetap terjaga. Nah kalau suami juga maunya masuk kategori ‘Sahabat terbaik’ wajib katanya! Cuma dia seorang. Baiklah akhirnya saya punya sahabat terbaik yang bisa saya palak tiap bulan tanpa gengsi ehmm…

Tiap yang datang dan pergi dalam hidup saya dan memberi warna tersendiri saya syukuri momentnya , bagaimanapun tanpa mereka hidup, saya tidak akan menarik, mengenal sosok teman beda pemikiran, keyakinan,adat budaya, teman yang selalu membuat suasana hidup dengan canda tawa, teman dengan segudang kegilaannya. Meski kesibukan dan usia dewasa tidak bisa merekatkan seperti di masa masa remaja. Saya tetap bersyukur mereka pernah ada dalam hidup saya. Memberi banyak kenangan.