Seyakin apa ketika memutuskan menikah dengan lelaki yang menjadi suami sekarang? Diawal penuh keraguan tapi berakhir dengan kemantapan hati. Saya tipikal orang yang masa bodo, cuek, kata teman: susah sekali di-Kode-in. Jadi ketika bertemu lelaki yang langsung bilang: Hey..saya suka kamu!. ‘‘ Eh apaaaa…?” Tapi tetap berakhir dengan kalimat: ” ah becanda aja ni orang” Sambil mematikan PC di ruang kerja, lalu pulang ke Kost, waktu itu tidak terpikir pernyataan itu serius.

Saya pernah dekat dengan seseorang, satu komunitas. Suatu hari dia ajak saya bertemu di sebuah Mall, Janjian sepulang kerja. Karena saya sudah menganggap dia teman baik, saya berusaha tepati janji untuk datang tepat waktu. Saya pikir ada urusan pekerjaan yang perlu didiskusikan, bertemu, ajak makan, lalu menawari tiket nonton film. ”Oh ya udah..” pikir saya. Film yang saya pilih, komedi. Kami duduk berdekatan nonton di dalam ruang bioskop, penontonnya lumayan, disela adegan film dia basa-basi mutar muter yang ujungnya ‘nembak’. Saya yang terlalu asyik nonton, tidak peka dengan apa yang dia bicarakan, malah menganggap sebuah candaan. Membuat dia berujung kehilangan kata-kata. Aduh bebal nya heheh.., sempat kepikiran, eh tapi sebuah ‘rasa‘ kan tidak bisa dipaksakan.

Kenapa sampai yakin dengan dia

Kami pernah disatu titik, merasa saling keterkaitan, ketika dia menangisi kegagalannya, berbalas chat. Dia gagal di ujian terakhir, hanya satu langkah lagi untuk lulus. Wajar dia bersedih, meninggalkan kampung halaman, pekerjaan yang baru didapat. berakhir Jobless. Waktu itu tidak kepikir untuk meninggalkannya. Seseorang yang masih suram masa depannya. Tapi saya bertahan, memberi dukungan, apapun keputusan akhirnya. Dia bertahan hidup di İstanbul 3 bulan, menjadi tenaga keamanan gedung, kadang kala penghuni gedung memberikannya makanan sisa. Kerja malam hanya bertahan 3 bulan, apalagi ketika hak-nya terlambat diberikan. Entah kenapa saya bertahan.

Alasan yang menguatkan

Karena dia baik. Standar sekali memang, menemukan lelaki baik yang benar-benar baik. Memegang setiap ucapannya dengan yakin dan pembuktian. Kami menjalani LDR, dengan limit waktu yang disepakati, aneh ya, karena saya tidak mau membuang waktu untuk menunggu, sedang usia akan terus bertambah. Kesepakatan 3 tahun kami untuk dekat. Dalam jangka 3 tahun tidak ada kepastian. Berhenti! Kita akan hidup dengan dunia masing-masing. Siap dengan segala resiko. Patah hati dan sebagainya. Qodarullah...3 tahun menjadi satu Tahun dengan jalan yang tidak kami duga.

Pertama bertemu, tidak ada rasa canggung sama sekali, dulu biasanya wajah saya akan merah padam, sulit bicara dengan seseorang yang saya sukai, mati rasa, hilang kata-kata. Saya biasa bersikap cuek menjadi pemalu dalam seketika. Masa sekolah, jika lewat anak cowok yang disuka, saya pilih diam bahkan bersembunyi agar orangnya tidak melihat, aneh. Pernah ngaku punya pacar, tapi tidak pernah bersentuhan tangan apalagi ke hal yang lebih jauh, hanya merasa ‘suka’ itu cukup, Naksir tapi ingatnya dosa hehehe.

Dan dengan dia, seakan sseorang yang sudah saya kenal lama, menjadi diri sendiri ketika didekatnya.Pertemuan kami dihari ketiga menjadi momentum yang akan dikenang sepanjang masa.

seseorang yang menghilangkan batas keraguan, datang dengan pembuktian.

Day-5