Ada masanya kehidupan rumah tangga pasang surut, alasan perbedaan selalu menjadi pemicu perselisihan, padahal dari awal juga tahu akan konsekuensinya. Menikah dan berumah tangga bukan menyelesaikan masalah , tapi akan terus dipertemukan berbagai masalah dalam bentuk Ujian. Tiap orang diberi ujian hidup masing-masing sesuai kadar kemampuannya. Rumah tangga yang kami jalani belum separuh jalan, melewati tahun-tahun awal yang katanya riskan. Belum benar-benar berakhir di Zona nyaman, Berbilang 2 dekade ada juga yang berakhir retak. Tapi berbagi sedikit tips saja siapa tahu berguna:

1.Tanggalkan Ego

Dalam sebuah hubungan, ketika sama-sama merasa paling tahu, paling benar, tidak akan pernah masalah yang dihadapi selesai. Salah satu harus mengalah. Tunggu di moment yang tepat ketika pasangan sudah merasa mood nya stabil, bicarakan baik-baik.

2. Memberi kata maaf , tanggalkan gengsi.

Ketika memang salah satu berbuat kesalahan, tidak perlu gengsi untuk meminta maaf, orang yang disakiti adalah orang terdekat, orang yang harus saling jaga, Buang gengsi jauh-jauh hanya untuk mengakui kalau diri salah.

3. Boleh Cerewet? tapi ada batasnya

Wajar predikat cerewet selalu disandangkan ke İstri, konon sehari Perempuan bisa mengeluarkan kata-kata lebih dari 5000 ribu. Luar biasa. Tapi sebagai perempuan juga harus Peka, Pasangan dicereweti terus, masalah tidak akan selesai. Mungkin dia akan berkata: İya, setuju! tapi hanya untuk supaya kamu diam dan tidak terus membombardir dengan segudang pertanyaan yang sebenarnya sudah dia jelaskan diawal. Membuat jarak semakin merenggang, ketidaknyamanan, hingga potensi ketidakjujurannya semakin dipupuk.

4. Mengelola keluhan agar tidak berpotensi konflik

Sering diposisi mengeluh, capek mengerjakan tugas rumah tangga, duit belanja kurang, mertua ikut campur, Biaya ini itu yang semakin membengkak. İngatkan Nahkoda rumah tangga dan manajemennya harus kompak. Ketika pasangan mengeluh bukan berarti kurang bersyukur, mungkin menyindir ketidakpekaan sang pasangan. Semua bisa terselesaikan jika ada kepedulian untuk berbagi beban. Ya memang mencari nafkah kewajiban suami, mengelola rumah tangga, porsi diapun harus seimbang, Jika istri mengeluh capek dengan tugas rumah, bantu ringankan, membantu pekerjaan rumah tidak mengurangi harga dirinya sebagai pria kan? Jika keluhan banyak biaya membengkak, izinkan pasangan untuk berkreasi, ridhoi-dia jika berniat mencari tambahan penghasilan dengan ketentuan yang disepakati.

5. Hargai pasangan

Ketika dia membuat sebuah prestasi, meski hanya soal berhasil membuat kue, memasak makanan dengan teknik yang sulit, hargai, beri apresiasi sekadar pujian. Jangan bersikap acuh. Meski terlihat sepele, Sikap pasangan yang tulus menghargai jerih payah istri sudah cukup kuat memberi pupuk cinta dalam rumah tangga agar tetap terawat.

6. Diposisi mana harus berpihak

Untuk konflik hubungan keluarga, terutama kisah mertua dan menantu, kunci untuk meminimalisir konflik ada ditangan pasangan, dimana dia harus berpihak. Seorang pria menikahi seorang perempuan, tanggung jawab yang berpindah dari ayah si perempuan, menjadi jalur penengah tidak condong lebih memihak ke keluarga besarnya, sebab dia sendiri sudah menjadi kepala dari keluarga yang baru dibangunnya. Ketika fungsi kepala keluarganya tidak punya kekuatan di hadapan keluarga besarnya, konflik rumah tangga akan terus datang tanpa penyelesaian dengan baik.

Siapa yang tidak ingin rumah tangganya harmonis, seiring tahun berjalan tetap awet, bisa melewati segala badai ujian bersama. Masalah dalam rumah tangga akan terus datang, perlu pendewasaan pikiran, emosi untuk bisa menghadapinya. Semoga saya, dia, kita, kamu…dan teman-teman semua bisa melewati Tahun tahun tersulit dengan hati kuat. Selipkan doa dalam segala ikhtiar.