Waktu menghadiri pesta pertunangan keponakan, sebelum berangkat ke gedung pesta, saya duduk santai sambil menjelajah isi kamar si keponakan, seorang gadis muda kuliah semester empat yang memutuskan melakukan pesta pertunangan dengan kekasihnya. Usianya masih terbilang muda. Karena masih terekam diingatan delapan tahun lalu ketika menjejakkan kaki di Turki, dia masih berseragam anak SD.

Tapi apa mau dikata, tekadnya untuk menikah muda selepas lulus kuliah juga direstui kedua orangtua. Calon suaminya terbilang romantis, beberapa buket bunga pemberian dia, disimpan dengan baik oleh si keponakan di meja kecil samping ranjangnya. Ada yang sudah mengering. Lalu kartu-kartu manis penuh ungkapan cinta. Ehmm…romantis, sebuah kata yang sepertinya tidak bisa saya sematkan ke lelaki yang menjadi Babanya Fatih dan Alya. Kalau sampai istrinya dapat sebuket bunga seperti itu, saya akan membuat postingan Blog spesial khusus buket bunga di Blog ini.

Membahas keromantisan pasangan memang tidak ada habisnya, mengeluh kalau pasangan tidak romantis, ya sudah terima nasip seperti saya. Tidak bisa merubahnya menjadi sosok pria romantis yang setiap moment akan selalu mengingat tanggal spesial, yang akan menghujani pasangannya dengan berbagai kejutan dan hadiah…., lalu membuat caption di Sosial medianya: deretan kalimat romantis yang panjang. Kalau itu terjadi saya akan mengatakan: ” sen iyi misin, ciddi misin?”. Baiklah tidak usah berhayal kejauhan.

Delapan tahun pernikahan, memberi bunga seperti mimpi. Pernah diawal musim semi, Suami dan sahabatnya memetik bungan chamomile yang tumbuh liar di dekat tempat kerja, si teman memetik banyak bunga untuk diberikan ke İstrinya tercinta, karena saya lihat postingan si İstrinya yang kebetulan berteman di sosial media. Aihh cok romantik…., Kemudian karena suami saya juga metik bunga itu, saya udah GR- duluan, akan diperlakukan sama dengan si teman. Tapi apa yang dikatakan suami:

” Bunganya mau aku keringkan di Balkon, nanti enak buat dibikin herbal, tambahan cay”. ^——-^

Diawal pernikahan, Suami berusaha belajar romantis, ketika kami masih tinggal di Köy, Pernah satu hari membawakan saya bunga, Bunga tulip, Wah tumben. Batin saya. ” senin icin.” ujarnya. Lalu saya tanya lagi: ” dari mana kamu dapat bunga ini?”. Tanpa rasa malu dia bilang. ” saya metik di rumah tetangga , tuh yang disana, rumah kosong itu”. ” eh tapi itu kan ada pemiliknya, tiap akhir pekan datang”. tanya saya lagi. ” engga apa-apa, saya kenal kok sama pemiliknya, lagi ini juga bunga liar”. Bunga Tulip liar memang sering tumbuh di Desa Suami.

kamu ga niat gitu sesekali membelikan saya sebuket bunga”. Suatu hari saya pernah bertanya seperti ini sama suami. Jawaban dia ” Membelikan kamu Segala bahan makanan asia lebih bermanfaat daripada sekadar bunga yang ga bisa kamu makan”. Tiba-tiba teringat tragedi 400 lira belanja di Metro Gross market, hanya untuk bahan makanan asia..hahaha.

Seminggu lagi ulang tahun pernikahan, kamu mau kasih hadiah apa” terus terang saya selalu bertanya dulu sama suami. Karena memang untuk urusan tingkat kepekaan, dia masih minus sepersekian. Bayangkan, saya pernah dan sebenarnya sering. Tiap tahun, jika mendekati hari ulangtahun, dia selalu bertanya . ‘‘ kamu mau kejutan apa buat ulang tahun nanti?” ya untuk membuat kejutan dia akan bertanya terlebih dahulu. Lalu ketika dia sudah membeli barang yang saya inginkan, memberikannya dengan ucapan ” Suprise!!!!”. Sepertinya emang tidak masuk diakal. tapi di-iyakan saja. Pure pura terharu.

Begitulah, cara kami belajar keromantisan ala pasangan normal. Untuk keromantisan bak pangeran negeri dongeng, saya nikmati saja versi drama:) Suami dengan segala keunikannya saya sudah tanda tangan kontrak lahir batin. Wiss trimooo…..

**Postingan edisi anniversary Keluargapanda***

Day-1