Ada yang mengatakan masa diawal tahun pernikahan penuh kejutan, apa yang tidak diketahui selama masa pendekatan, menjadi terbuka kedoknya, menunjukan jati diri masing-masing, Dia yang selalu terihat tampan memakai stel-an kemeja rapih, atau diri ini yang selalu menyeleksi dari sekian foto yang dipunya untuk diposting. Jilbab dan busana yang dikenakan terlihat sepadan. Begitu hidup satu atap, dibalik wajah ramah, tampannya, eh ternyata banyak hal diluar dugaan, ingin rasanya mengurangi point penilaian tentang sosoknya.

Banyak kejutan? pasti selalu akan ada kejutan, dari yang terlihat selalu bertutur kata manis, ternyata ketika ‘PMS’ galaknya minta ampun, adaftasi dengan segala perbedaannya. Merealisasikan kalimat: Menerima dia apa adanya, dengan segala kekuranganya, ya pembuktian dimulai, apa hanya manis kata di awal. Tapi ketika dihadapi kenyataannya. ”kok bisa begini”. ” Dulu dia tidak seperti itu” . Dan berbagai keluhan lainnya.

Tahun ke enam, kami pernah mengalami titik terendah, berbagai rasa berkecamuk, berusaha tegar, berusaha terlihat baik-baik saja. Waktu itu kondisi hamil anak ke-dua. Ujian rumah tangga harus kami hadapi. Bertahan dengan saling menguatkan. Pernikahan tempat menyimpan amarah dan duka tapi juga tempat kita mengekpresikan cinta dan kesetiaan, Selalu ada pelangi setelah hujan, dan roda kehidupan akan terus berputar. Kuatkan kaki untuk tetap melangkah, karena perjalanan rumah tangga ini masih panjang.

Ketika Amarah datang

Ketika dia memendam amarah, saya pilih menunggu, menunggu untuk bara itu mereda di wajahnya, mendekatinya ketika terlihat situasi sudah bersahabat. Memeluknya! ya tanpa dia meminta, pelukan selalu ada, memberi dukungan sepahit apapun masalah yang datang. Kemudian, saya meminta dia untuk tarik nafas. Tenangkan pikiran, Mengatakan ” saya ada kalau kamu mau cerita”. Tanpa paksaan dan bertubi-tubi pertanyaaan. Ketika dia

Ketika saya merasa kecewa, dia datang untuk mengatakan ”maaf” tanpa harus menunggu lama. Begitupun jika hal sebaliknya, memberi sedikit ruang untuk merenungi, kemudian datang, tanggalkan gengsi, ego. Masalah apapun harus selesai dalam hitungan jam, sebab memendam terlalu lama. Adalah hal yang sama -sama kami tidak sukai.

Menertawakan segala hal yang telah berlalu, jika rasa penyebab amarah diantara kami adalah sesuatu hal yang konyol. Dititik terendah, berusaha untuk tetap bertahan, karena kami Tim. Berusaha untuk menjaga sebuah komitmen yang sudah disepakati dalam ikatan pernikahan, Berat tanggung jawab sebuah Tim ini di akherat kelak. Hingga ujung waktu, karena saya dan dia tidak tahu kapan waktu itu datang, Waktu yang akan memisahkan dua jiwa manusia…, Menghargai setiap kebersamaan dalam wujud Syukur, Menjaganya. Tidak mencintai seseorang yang sempurna tapi mencintainya dengan sempurna bukan karena darah yang mengalir ditubuhnya atau karena bangsanya, tapi karena Dia. Seseorang yang datang dalam hidup saya,tempat dimana saya bisa mengatakan: Rumah. karena ada dia dan anak-anak.

Day-3