Dalam Pernikahan proses saling mengenal tidak pernah berhenti, ada banyak kejutan dari pasangan, ada banyak kekurangannya yang sebisa mungkin menjadi rahasia kami berdua. Perubahan selalu ada, mengharapkan dia tetap sosok yang sama seperti diawal perkenalan rasanya hal mustahil, semisal ketika pertama mengenalnya, dia masih memiliki perut six pack sepulang melaksanakan wajib militer, dimana hari-harinya diisi selalu dengan latihan fisik seperti Tentara. Ada yang berubah dari sosoknya.

Dia yang sekarang, berwujud seorang laki-laki yang bergelar Baba dengan dua anak. Tanggung jawab yang dipikulnya semakin besar. Menjadi teladan, menjadi figur Baba yang selalu ada untuk kedua anaknya. Dia yang sekarang telah berusaha ikhlas melepas kenangan masa lalunya berdada rata, six pack, dia yang sekarang mencoba menerima nasip semakin banyaknya Uban tumbuh di sela rambut coklatnya. Yang tertinggal sebagai kenangan, dan tetap bertahan adalah jiwa penyayangnya yang tidak pernah berubah.

Seperti kemarin, ketika siang menjelang sore, kami berdua sedang asyik duduk di ruang tamu, menonton acara TV. Pintu ke arah Balkon terbuka dengan sengaja untuk pergantian udara.Beberapa saat ditutup kembali, sayangnya ada banyak lalat ikut menyerbu masuk ruangan, Biasanya hewan kecil ini sering muncul di musim panas, menjelang musim gugur, keberadaan mereka masih sering muncul. Karena merasa terganggu. Saya berusaha mengambil sandal rumah untuk menepuk lalat-lalat yang beterbangan di ruangan, ada dua lalat bak sejoli, hinggap kesana kemari, kadang dalam posisi bertumpuk, Gemas rasanya, pengen nepuk dengan sandal. Tiba-tiba suami menegur saya.

‘ Kamu jangan pukul mereka, kasihan”. ” loh emang kenapa, ganggu sekali lalat lalat ini” bela saya. ” Mereka sedang bercinta, jangan kamu ganggu, biarkan mereka memadu kasih” Jawab suami polos. ”loh”.— Saya bingung dengan jawaban suami.

Apa ini wujud dari jiwa penyayangnya? ehmm..untuk menyakiti hewan kecil jarang dia lakukan, apalagi semut, kalau bisa dia pindahkan, akan dipindahkan.tanpa menindasnya, sambil mengingatkan tentang kisah Nabi Sulaiman. tapi lalat?

Dia penyayang?

Saya tumbuh dengan seorang Bapak yang jarang menunjukan ekpresi kasih sayangnya, seperti pelukan. waktu kecil saya tidak pernah ingat, sehangat apa sosok Bapak. Selalu ada jarak diantara kami. Ekpresi, ungkapan cinta tidak pernah saya dapatkan. Dan ketika untuk pertamakalinya akan pergi jauh meninggalkan Bapak, ikut pindah dengan suami ke Turki, saya baru merasakan pelukan Bapak di depan pintu keberangkatan Bandara. Bapak menangis, memeluk sambil memberi sedikit nasehat. Salam perpisahan.

Untuk anak-anak kami, saya tidak ingin mereka merasakan hal sama, saya ingin sosok Baba yang hangat dan dekat dengan kedua anaknya, tidak ragu menghujani ciuman, pelukan, berbagi tawa.

Bersyukurlah kamu nak, Untuk salah satu impian ini, Allah kabulkan Doa Anne, Mereka mendapatkan sosok Baba penyanyang, yang tidak ragu memberi pelukan hangat ketika mereka bersedih, menghujani kasih sayang. kadang dalam hati tersimpan sedikit iri, ah andai…dulu.., saya bisa merasakan hal sama, meluk Bapak, tanpa kenal omel hehe.

Day-2