Harapan bisa memperoleh dwikewarganegaraan tak terbatas bagi pasangan kawin campur, masih diperjuangkan. Saat ini baru berlaku dwikewarganegaraan terbatas untuk anak pasangan kawin campur, sesuai undang undang no 12 tahun 2006. Sampai usia 21 tahun, anak-anak dari pasangan kawin campur, baru bisa menentukan kewarganegaraan yang dipilihnya, apakah tetap menjadi WNİ atau memilih mengikuti kewarganegaraan ayah atau ibunya yang WNA. Bagi kami yang berpasangan WNA terkadang dihadapkan pilihan sulit, tetap mempertahankan kewarganegaraan İndonesia atau melepaskannya dengan alasan tertentu. Karena dwikewarganegaraan tidak berlaku bagi ayah atau ibunya (WNİ).

Alasan seseorang melepas kewarganegaraannya

Banyak yang akhirnya pasangan kawin campur memilih melepaskan kewarganegaraan İndonesianya dan menjadi warga negara pasangan asingnya atau negara barunya. Setiap orang yang memilih melepaskan paspor garuda, punya alasan tersendiri yang wajib kita hormati, Berdiri diatas sepatu orang lain–melihat sesuatu tidak dari kacamata kita saja, tetapi juga dari sudut pandang orang lain— karena kita tidak tahu alasan dasar seseorang memilih melepas identitas sebagai warga negara İndonesia, mungkin harus melewati gejolak batin karena keterikatan emosi dengan tanah kelahiran tapi harus menghadapi realita kehidupan yang sudah dia pilih dan jalani.

Maret tanggal 25 tahun 2021, KBRİ Ankara mengadakan webinar yang fokus membahas serba serbi pernikahan WNİ di Turki, pematerinya cukup menarik, salah satunya ibu Christina Aryani Anggota DPR dari fraksi golongan karya, Dapil DKİ dan luar negeri, jadi narasumber yang tepat ketika bertanya tentang dwikewarganegaraan bagi pasangan kawin campur, saya sempat juga bertanya dan rasanya masih kurang puas, kemudian melanjutkan kontak lewat email, Alhamdulilah dapat balasan yang cukup memuaskan, jadi saya kutip saja:

Syarat Eks WNİ yang ingin memperoleh kembali kewarganegaraan İndonesia kembali

Ketentuan menyangkut prosedur memperoleh kembali kewarganegaraan Indonesia bagi eks-WNI karena alasan sebagaimana dimuat dalam Pasal 23 (i) dan Pasal 26 ayat (1) dan (2) UU 12/2006 tentang Kewarganegaraan diatur lebih lanjut dalam PP 2/2007 tentang Tata Cara Memperoleh, Kehilangan, Pembatalan, dan Memperoleh Kembali Kewarganegaraan RI.


PP 2/2007 mengatur bahwa untuk eks-WNI yang kehilangan kewarganegaraan akibat: – bertempat tinggal di LN lebih dari 5 th berturut-turut dan dengan sengaja tidak menyatakan keinginannya tetap menjadi WNi; atau – perempuan/laki-laki WNI yang kawin dengan laki-laki/perempuan WNA yang menurut hukum negara asal suami/istrinya kehilangan kewarganegaraan Indonesianya;


Dapat memperoleh kembali kewarganegaraan Indonesia-nya dengan mengajukan permohonan tertulis kepada Menteri/Perwakilan RI wilayah kerja tempat tinggal pemohon  *tanpa melalui prosedur naturalisasi*

Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 sd Pasal 17, UU tentang Kewarganegaraan. 
Adapun permohonan hanya dapat dilakukan setelah putusnya perkawinan (putusan cerai pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atau suami/istri meninggal dunia).
PP 2/2007 juga mengatur timeline terkait waktu yang diperlukan untuk memproses permohonan memperoleh kembali kewarganegaraan bagi eks-WNI, yaitu +/- 180 hari untuk proses verifikasi berkas oleh perwakilan, pelengkapan kekurangan berkas, penyampaian berkas ke Kementerian, verifikasi berkas oleh Kementerian, pelengkapan kekurangan berkas, penetapan keputusan, pengumuman dalam Berita Negara, penyampaian salinan keputusan kepada Perwakilan untuk kemudian diteruskan kepada Pemohon.

Syarat memperoleh kewarganegaraan İndonesia bagi orang asing:

Berdasarkan ketentuan Pasal 9 UU Kewarganegaraan, syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat memperoleh kewarganegaraan Indonesia adalah sebagai berikut:

  • 1.   Telah berusia 18 tahun atau sudah kawin;
  • 2.   Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah – negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau — paling singkat 10 tahun tidak berturut-turut;
  • 3.   Sehat jasmani dan rohani;
  • 4.   Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara Pancasila dan – – Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
  • 5.   Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam — dengan pidana penjara 1 (satu) tahun atau lebih;
  • 6.   Jika dengan memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia, tidak menjadi – berkewarganegaraan ganda;
  • 7.   Mempunyai pekerjaan dan/atau berpenghasilan tetap; dan
  • 8.   Membayar uang pewarganegaraan ke Kas Negara

Pasangan kawin campur Eks WNİ tidak NATURALİSASİ

Jadi yang saya pahami dari penjelasan ibu Christina adalah, syarat memperoleh kewarganegaraan İndonesia khusus untuk Eks wni BERBEDA dengan syarat diatas, İstilahnya ada ‘jalur khusus’ tanpa harus menetap berturut-turut di İndonesia seperti syarat yang ditetapkan untuk WNA yang ingin menjadi WNİ, dengan catatan JİKA pasangannya telah meninggal dunia atau terjadi perceraian, kemudian ingin kembali ke İndonesia, pengajuannya seperti yang sudah ibu Christina jelaskan dalam emailnya.

Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman Eks WNİ yang ingin kembali memperoleh kewarganegaraan indonesia kembali, atau teman teman sesama pasangan kawin campur yang sedang dipersimpangan harus memilih melepas atau mempertahankan paspor garudanya. Hidup itu pilihan, dimana saja kita tinggal, kemanapun kita melangkah, Bumi ini milik Allah, Rezeki, maut sudah diatur, identitas kebangsaan tidak menjadikan sebuah halangan untuk tetap mencintai İndonesia.

Baca juga:

Problem mertua vs menantu di Turki

7 Resiko bersuamikan orang Turki

Hubungan dengan ipar di keluarga Turki

Setiap orang mempunyai pilihan masing-masing, tanpa harus mencelanya karena memilih melepas, berkarya dalam bentuk nyata dari pada sibuk menpertanyakan nasionalismenya, saya tahu rasanya dilema seperti apa, apalagi kalau harus menghadapi drama menegangkan ketika urusan perpanjangan ikamet..ya..ya, dan sang sponsor harus disiapkan stok parol yang banyak:) İnsha Allah, kalau wafat, malaikat maut ga cek paspor juga kan.—End–

urus izin tinggal
:V