Menjalani hubungan jarak jauh itu memang penuh tantangan, salah satu nya ketika sudah tahap ‘serius’ untuk ke jenjang pernikahan, Umumnya sebagai pasangan LDR, apalagi pihak perempuannya berasal dari İndonesia, menikah di İndonesia seperti syarat yang ditentukan keluarga pihak perempuan kepada calon suami  anaknya (ya tahu sendiri keluarga indonesia biasanya segambreng, mau nya serba special moment-moment pernikahan anaknya dilakukan, apalagi kalau tahu yang ngelamar orang luar angkasa**uhukk-salah ya orang luar negeri gitu)
Nah kalau ternyata si calon pasangan gak bisa ambil cuti untuk datang ke indonesia, gimana solusi nya? Pihak perempuan ?? ih yakin mau nikah di negara orang, wali nya siapa? kok mau nya, jangan-jangan**tiba tiba banyak yang julid udah ngecap jelek dulu–tipe tipe netijen jaman now.
Wiss abaikan saja, saya bukan tipe yang doyan ngehakimi terlalu dalam urusan orang,emang siapa! Tiap orang punya alasan masing-masing mau memutuskan menikah dimana yang penting SAH, yaaa kann daripada di gantung terus kayak jemuran.
Ok jadi gini, saya tambahkan dulu, kenapa ga ada wali nikah? kalau si perempuan muslim terus menikah di Turki, walinya siapa?—jadi ya di Turki itu mayoritas ber mahzab hanafi , beda dengan mayoritas muslim indonesia bermahzab syafii, penjelasan nya seperti ini:
Baca juga: Tentang menjadi İstri pria Turki
Menurut ulama madzhab Hanafi, status wali terhadap perempuan dewasa adalah wali sunnah (wilayat an-nadb, al-istihbab). Artinya, wali tidak punya hak menentukan calon suami. Karena, wanita baligh dan berakal sehat, baik perawan atau janda, memiliki kewalian sempurna atas dirinya sendiri. Oleh karena itu, maka dia boleh menikahkan dirinya sendiri walaupun tanpa izin wali atau walupun tanpa persetujuan walinya. Ibnu Maudud Al-Musoli (Ulama madzhab Hanafi sumber (alkhoirot.net)
Jadi aturan tentang perwalian nikah dalam mahzab hanafi berbeda dgn ke 3 mahzab lainnya seperti di indonesia -yang menikahkan bapak nya) kok bisa beda?? sah kah? insha allah sah. Ada sumber hukum islam nya yang kuat dari mahzab yang dirujuk muslim Turki itu sendiri.
Persyaratan Dokumen untuk menikah di Turki (data terakhir 2016)–

  1. Formulir N1-N4 yang ditandatangani kantor catatan sipil dimana tinggal di indonesia
  2.  WAJİB lapor ke KJRI atau KBRI di Turki untuk mendapatkan surat keterangan menikah dari KJRİ tau KBRİ
  3.  Translate pasport ke dalam bahasa Turki dan di sahkan Notaris biaya kurang lebih 100 lira-an
  4. Untuk menikah di Turki WAJİB mendapat surat keterangan sehat dari Rumah sakit setempat, Biaya kurang dari 50 lira
  5. Dokumen yang ditandatangani KJRİ atau KBRİ wajib dilaporkan dan ditandatangani Wali di kaymakam setempat
  6.  Setelah ditandatangani di kaymakam kemudian semua dokumen diserahkan ke Belediye setempat untuk di proses dan mendapatkan jadwal waktu menikah dilakukan-Biaya 89 lira.

Kaymakam itu kantor apa? semacam kantor pemerintahan ngurus KTP , izin nikah dsb.
Belediye yang dimaksud, pemerintah lokal (kotamadya) tempat sang calon beralamat tinggal.
İni proses yang harus dijalani sang calon pengantin jika berniat menikah di Turki, sama aja kalau menikah di İndonesia sang calon pengantin pria (WNA)  harus ngurus surat surat ke kedutaan Turki di Jakarta untuk mendapatkan surat izin menikah di wilayah hukum NKRİ,  harus translate dokumen yang kemudian diserahkan ke Catatan sipil atau KUA.
Baca juga yang ini Pasport anak campuran
Jadi begitulah lika liku menikah dengan orang asing, ini baru tahap awal urus dokumen menikah, belum izin tinggal kalau mau pindah, punya anak ngurus lagi pasport anak karena memiliki 2 kewarganegaraan masih harus pakai pernyataan notaris untuk ngeluarin pasport indonesianya–panjang ya dan ribet kayaknya? ya emang begitu, ga bisa tinggal tumpang kaki, apa-apa beres, harus update segala informasi yang berbau ke imigrasian dll.
Jangan dibawa pusing juga, jalani aja:) dan tetap rajin baca-baca.
Semoga bermanfaat, silahkan share dan komen aja kalau mau nanya-nanya (itupun kalau saya bisa bantu jawab ya–saya bukan mbah google)