Survival skill semua gender adalah memasak. Bahasan seperti ini sempat hilir mudik ditimeline twitter, Skill yang bisa dipelajari, tidak ada kata tidak bisa kalau mau usaha..tsah!! masak air juga termasuk kemampuan dasar, apalagi membuat mie rebus. Sebagai ibu ditanah rantau dan jauh dari tanah air, tentu saja skill ini wajib sekali dikuasai. Perjuangan untuk bisa masak berdarah-darah.

Agar agar pupuk urea

Eksperimen saya di dapur ketika remaja yang cukup diingat tentu saja agar-agar urea, jadi alasan terbesar skill masak saya diragukan orang rumah karena pernah dengan cerobohnya memasukan pupuk urea ke agar-agar.

Waktu itu saya mencoba membuat agar-agar di dapur, karena tidak tahu si emak menaruh wadah gula dimana, saya cari-cari tidak ketemu, sampai saya menemukan sebuah plastik hitam dibawah meja, dan warnanya mirip gula, halus dan putih, saya pikir si emak baru beli gula dan belum sempat dimasukan wadahnya, ya ya tanpa pikir panjang, saya ambil sendok dan mulai memasukan beberapa sendok ke dalam panci kecil dicampur air dan bubuk agar-agar, begitu selesai, setelah didinginkan, saya tawari kakak dan teman yang kebetulan sedang menonton tv di ruang tamu.

Kakak curiga, si emak yang lewat juga curiga, apalagi kakak sempat icip dikit, katanya rasanya aneh dan pahit. Kemudian bertanya, saya memasukan apa ke dalam agar-agar, dengan polosnya saya bilang, gula yang ditaruh dibawah meja. Si emak langsung ke dapur untuk memeriksa! jreng!! ternyata pupuk urea. Hahahaha, Salahnya juga menaruh pupuk kok di dapur, untung ga ada korban jiwa makan agar-agar rasa pupuk urea. Memang separah itu saya, ga cek dulu, asal bentuknya mirip ya dimasukan saja.

Jarang masak!

Masa remaja dihabiskan di pesantren, ada kantin dan mbak dapur yang memasak, setiap hari dapat jatah makan, antri di dapur. Terima apa saja menu yang disajikan, kalau kebetulan pesantren sedang ada rezeki lebih, semisal ada donatur yang menyumbang, atau hari raya, tentu saja menu yang disajikan sedikit lebih mewah. Daging. Hari -hari biasa tidak jauh dari telur dan tempe, tahu sebagai lauk. Pernah ketika SMA, di komplek pelajar, saya dan teman-teman pinjam dapur, kemudian kami memasak nasi goreng bersama, hal yang saya ingat adalah: masak nasi goreng satu wajan besar, kita lupa memasukan telur, telur dimasukan terakhir, hasilnya? bentuk nasi goreng jadi gak jelas, daripada mubazir tetap coba kita makan.

Makanan mahal di tanah rantau

Hidup di Turki? tidak begitu merindukan makan tahu tempe kenapa? –Saya sering melihat postingan diberanda FB, teman teman posting aneka menu makanan nusantara yang berhasil mereka masak di Turki, apa saya jadi tergoda? apalagi jika menunya tempe yang jadi makanan mahal di tanah rantau. Jawabannya, biasa aja. Saya ceritakan kenapa tidak begitu merindukan menu populer ini?

Ok balik lagi ke masa remaja saya di pesantren, terkadang ada donatur yang ingin menyumbangkan sesuatu ke santri, dulu bos pabrik tempe yang ingin sekali berbagi rezeki ke santri, hampir tiap hari ada tempe segar diantar ke dapur pesantren. Dan bisa ditebak? menu makan kami setiap hari, sampai pada satu titik, Bosan! Hingga perasaan itu terbawa sampai saya bermukim di Turki, kalau ada tempe ya makan, kalau ga ada, ya udah. Bukan sesuatu yang dirindukan.

Kapan saya belajar memasak?

Ketika memutuskan tinggal di kost, saya keluar pesantren, ketika kuliah. Karena tidak memungkinkan membawa komputer di kamar asrama yang kecil, zaman saya kuliah, orang yang punya laptop levelnya sultan, komputer pentium 4 aja udah berasa orang kaya:V, karena saya dibelikan komputer sama nenek, iya nenek saya masha allah baik banget, kebutuhan vital anak desain. Saya mulai kenal dapur ketika hidup di kost, masak sederhana saja, sebatas tumis sayur , ceplok telor, mie rebus.

Lalu ketika pulang liburan ke rumah, jarang sekali turun ke dapur, tugas saya paling cuci piring dan nyapu rumah, kemudian kost kembali ketika bekerja, tidak ada dapur, seringnya beli makan di warteg, atau mengandalkan rice cooker di kamar, cukup masak nasi, lauknya beli di warteg.

Usia 28 tahun baru benar-benar turun ke dapur

Nah kehidupan sebenarnya dimulai, diusia 28 tahun saya baru total turun ke dapur karena sudah bersuami, awal-awal menikah dan hidup di rumah mertua, saya lebih sering jadi asisten ibu mertua untuk melihat cara beliau memasak, syukurnya masakan turki bumbunya lebih sederhana, bahkan menu favorit suami hanya ayam goreng dibumbui garam, ya sesederhana itu lidahnya, saya tambah ramuan ajaib alias micin, dia protes! lidahnya serasa kebas. Jangan tanya berapa kali gagalnya dan sering kah membuang makanan hahahhaha, gosong juga sering. Bahkan saya tidak tahu cara menggunakan oven, pernah mencoba membuat carrot cake, salah puter suhu, malah 250 c, ya jadi bayangkan bentuk cake dipanggang disuhu 250 c.

Bahan dasar masakan Turki: salca

Meng’indonesia’kan bahan masakan di Turki

İndomie Turki kurang micin

Ketika memutuskan jadi ibu rumah tangga tanpa asisten dan suami menyukai masakan rumahan, keadaan yang membuat saya harus lebih akrab dengan dapur, Mertua dan İpar menjadi panutan, karena saya harus bisa memasak masakan turki, untuk menu nusantara saya banyak belajar dan nanya teman teman İndonesia di sini, skill survival ini bisa dipelajari, saya yang tidak bisa membedakan mana gula mana pupuk urea saja, sekarang bisa kok membuat roti*syombong***

survival skill katanya

Kalau saya tulis: keadaaan, bisa karena terbiasa atau juga terpaksa:D saya ga yakin kalau masih di İndonesia, apa kemampuan masak meningkat atau jalan ditempat. Ketika banyak kemudahan, apalagi rumah dipinggir jalan besar, deretan ruko yang membuka warung makan, warung bakso dan aneka jajanan berjejer dekat rumah, terkadang si emak juga cuma masak nasi, lauknya beli jadi, kalau semisal lagi pengen soto betawi, mending naik motor sebentar ke depan perumnas, banyak warung tenda setiap sore dibuka sampai malam, mau cari makanan apa aja ada.

Pernikahan beda bangsa dan terlempar ke antar berantah ini membawa hikmah yang besar buat saya pribadi, survival skill meningkat terus apalagi ada anak-anak dan suami. Banyak yang meragukan saya kok diawal menikah, apalagi teman teman dekat menjuluki saya si tomboy yang dibalut hijab, ga yakin banget saya bisa masak, karena jarang turun ke dapur, taunya nongkrong di warteg, oh ya kenapa ke warteg terus, karena saya lebih suka masakan warteg daripada warung padang..upss kenapa? menu berbumbu tajam dan berkuah santan kurang cocok diperut, ke warteg menu andalannya tumis toge:D gampang juga kan dicontek. Dah ya, jadi lapar-.-‘