Kadang kalau baca tulisan tentang Turki, menikah dengan orang Turki , karena awal munculnya blog ini juga asal muasal curhatan sebagai pengantin baru di keluarga Turki..ealahh..mbakkk. Seiring zaman kadang tobat lalu beralih menulis tentang keseharian di Turki dalam lingkup dunia mix marriages..kawin campur..semacam persilangan antara kulit yang terpapar kena sinar matahari dan yang terlindungi di balik kerudung, blach and white. Ga nyambung yahh.

Melihat, mengamati, mengalami dari sudut pandang berbeda, ya tiap manusia tidak mungkin memiliki nasip seragam, lah wong anak kembar saja meski identik tetap aja kan kalau diamati pasti ada aja perbedaannya. Hukum ‘generalisir’ atau menyamakan semua sama disini juga ga berlaku, ketemu jodohnya ‘hampir’ sama, misal baru -baru ini saya baca kisah viral seorang gadis di vietnam ketemu jodoh lewat facebook, standar banget kan sekarang. laki-lakinya (sama -sama orang vietnam) adalah pebisnis sukses di Russia, dia kenalan sama calon istrinya lewat FB, karena si calon istrinya ngefans banget sama idola yang berfoto dengan si cowok ini, maksud hati mau cari-cari info tentang idolanya, dikira sodaranya si idola apa manajernya gitu, ternyata asal foto aja:) bukan scammer cinta, tapi asli pengusaha yang emang nyembunyiin identitasnya (macam drama banget ya hehe) banyak yang nyinyirin dia, kok bisa? kok mau? lewat FB loh? jrenggg ketika wujud aslinya terbongkar..ternyata dia siluman*eh salah. Pesta mewah di hotel bintang 5 digelar. Ok ini cuma gambaran, meski jalur ketemu jodohnya sama lewat dunia maya, pada ujungnya nasip orang ya tetap beda-beda.

Bukan, babanya Fatih bukan kayak mas yang dari vietnam. İni cerita tentang ‘generalisasi’. Ya kadang ada yang cerita ke saya, kalau ketemu pacar nya juga lewat dunia maya, sekarang banyak yang berproses sama, tapi ya saya tekankan juga, nasip orang tetap ga akan sama. Sama-sama di Turki, emak bapaknya kan beda. Negara ini juga luas, kaya dengan karakter dan kebudayaannya, termasuk aneka karakter tiap orangnya. Lalu bagaimana kalau selalu ada cerita negatif tentang sosok pasangan dari negeri kebab ini yang kadang juga digeneralisir nafasnya bau prengus..eh engga ding:D atau bau ketek nya tiap musim panas yang khas atau kesabarannya yang menguji emosi. Kalau ga percaya bisa intip postingan lama saya

Baca ini: orang turki kurang sabar

Saya selalu menekankan untuk ga terburu-buru ke GR-an ketika dihujani ucapan: seni seviyorum, askım, herseyım, hayatım    kenapa? ya karena hobby nya orang Turki banyak yang mudah mengucapkan kata-kata manis, semacam bahasa sehari-hari saja. Mungkin agak aneh bagi orang di luar Turki, ketika seorang manggil teman dekatnya: canım, dostum, kanka, atau ditambahkan akhiran -cim di belakang namanya, seperti jadi: Rahmacim….(rahmakuuu) duh kan ga enak banget kalau yang manggilnya cowok misalkan, tapi sejauh ini sih belum ada, kecuali ipar-cewek saja. İya mereka terbiasa banget dengan ungkapan-ungkapan yang kalau di-bahasaindonesia kan mungkin dikira lebay. Perlu observasi lebih dalam, ni orang beneran pake hati engga ngucapinnya apa karena terbiasa aja, ya intinya amati dulu, atau paling bagus tanya langsung jangan muter muter kayak roda, mereka terbiasa to the point.

urus izin tinggal

Suami Turki ? Penyuruh, kayak raja? keras kepala, keras, pencemburu?? what really..ehm masa sih (ala anak jaksel dikit)— me: kalau point diatas memenuhi karakter pasangan, saya jujur aja pasti dari dulu mundur.

Menyeragamkan ga berlaku, tapi memuja muja sempurna banget juga kayaknya ‘fake’ 😀 karena pasti ada sesuatu yang ga bisa terungkapkan dan biarlah menjadi rahasia rumah tangga saja. Jadi sebenarnya juga ga serem-serem amat, kalau udah terbiasa dengan suara keras heheh, bukannn bukan berarti lagi ngamuk, tapi nada bicara seperti itu. Ada dan banyak.

Dalam menjalani pernikahan: kunci saya dan suami: saya menikahi kamu karena kamu bukan karena latar belakang kamu (iya meski penting) ada juga yang berawal karena suka dengan negara si pasangan dan berharap dapat tinggal di negara tersebut, sepertinya pernikahan menjadi ‘jalan’ untuk mewujudkan mimpinya. Kalau ini saya pake, mungkin dari 3 tahun lalu sudah nurut pindah warga negara, masing-masing punya alasan.

Maksud saya: ada adat maupun kultur yang syaa hormati JİKA masih bisa saya terima, kalau gak, saya tentang! pernikahan beda bangsa akan masuknya dua kultur negara yang berbeda sudah pasti, tapi adanya sikap toleransi juga penting banget.

Tipikal yang ga suka disuruh-suruh (iya saya banget..upps) harus seikhlasnya hahah ga heran jemuran menumpuk nunggu mood kumpul dulu baru nyetrika (jangan dicontoh) suami kalem aja. Tentang kebiasaan umum keluarga di Turki yang emang patriarki, anak laki-laki macam ‘anak emas’, oh Big NO, saya tidak mengistimewakan untuk anak laki-laki eklusif ga boleh bantu di dapur? engga ah, teknik parenting zaman jadul saya tinggalkan, begitupun dengan suami, meski berlatar macam keluarga turki umumnya, anak laki-laki di ’emas’kan. Dalam rumah tangga, ya pakai aturan sendiri yang dibuat jangan ada intervensi pihak luar, adanya kesepakatan untuk berbagi tugas rumah tangga. Semacam saya lagi sibuk ngurus si Alya terus kakaknya lagi di toilet, ya saya panggil Babanya buat bantuan Fatih, tiba-tiba tantenya nyeletuk:

” kok babanya, itukan kerjaan annenya”. saya jawab ” dia babanya, ya urusan dia juga”. iya saya mah nyautin. Emang ada yang salah gitu baba Turki nyebokin anaknya, lalu turun derajatnya, rontok jenggotnya?? engga kan. Jadi slow aja.

Pernikahan itu memang pembelajaran kehidupan, ada yang berubah setelah menikah? banyak, apalagi urusan berat badan, katanya suami gemukan itu tanda bahagia, si istri rajin masak..ehmm bisa, bisa. Ada juga semisal suami bule nya tiba-tiba jadi ikut doyan sambal terasi, makan durian, makan bakso. Oh banyak.Dan perlu diapresiasi. Ada juga yang dari awalnya ngikutin penuh pola asuh keluarga Turkinya, lalu bisa berubah seiring banyak baca dan dapat bini yang suka ngeyelan*:D

suami Turki? tidak bisa diseragamkan dengan segala karakternya, ya selama masih bisa diterima segala kekurangannya, tapi kalau minus banget sampai kekerasan KDRT, wuihhh bubarrr sudah. pikir ulang untuk bertahan.

Lalu bukan juga karena bersuamikan ‘bule turki’ pikiran untuk tinggal senang saja macam si mbak vietnam diatas, karena lagi-lagi ga bisa diseragamkan. Semisal menuntut untuk terus difasilitasi , tiket liburan mudik harus ada kapanpun dia mau, tiket liburan ke eropa tiap bulan, uang saku khusus buat shoping, ngafe buat bersosialisasi..ehmm ya sah-sah aja kalau memang dapat suaminya dari kalangan warga istanbul yang tinggal di bantaran jembatan bhosporus.

Ada yang pake jurus ” tenang aja dia cinta mati kok sama saya’‘ jadi berpikir seumur hidup akan diturutin terus. Hey ingat dia laki-laki…godaannya banyak, kata guru saya di MTs dulu 3T yang bisa meruntuhkan: HarTa, Tahta, WaniTa. Cintanya bisa luntur kalau ga dijaga dan kelakuan minus terus, apalagi kalau dimata emaknya.

Kok serem amat? Pria Turki kan romantis ? setia? oh ya.siapa yang menjamin hatinya. Kalau setia, harusnya juga angka KDRT di Turki turun drastis dong, perceraian meski sistemnya rumit tapi tetap aja terjadi. Ga bisa menyeragamkan semanis madu dan sepait empedu..fifty-fifty lah.

Kalau dapat pasangan baik, syukuri, kalau pasangan masih suka minus-minus, doain terus Allah lah yang membolak-balikan hati. Sebagai penutup, mari kita mampir youtube dengerin lagu dari couple musisi indonesia kesayangan saya:* ngademin.ngademinn..