Dulu, saya awet jomlo lama, biasa jadi ‘obat nyamuk’ nemenin teman yang pacaran**setia kawan banget pokoknya** yang penting dijajanin, perut kenyang. Daripada si teman berbuat yang aneh-aneh. Muka cuek jadi modal, terbersit iri? terkadang, tapi lebih banyak, masa bodo nya. Masa-masa sendiri bukan berarti kesepian, oh itu beda ya, meski bukan golongan manusia superaktif, tapi saya punya kegiatan rutin setiap akhir pekan. Pulang ke rumah orangtua di pinggiran Jakarta, karena saya hidup sendiri di Kost. Tepatnya nge-kost di daerah belakang kantor lama. Sabtu saya pergunakan untuk mudik, tapi minggu pagi udah ke Jakarta lagi, dulu ikut kegiatan remaja masjid di Al Azhar kebayoran. Hidup saya gitu itu. Sosialisasi secukupnya, Dugem saya cukup ke karoke inul vizta sepulang dari kegiatan remaja masjid–astagfirullah-–nyanyi ga jelas lagu lagu İndonesia lawas, terus dinnernya di Solaria. Disesuaikan kantong saja.

Hidup saya yang dulu

Kalau pulang kantor jenuh, saya mlipir ke Mall dekat kost, yup kost-an lama tidak jauh dari Mall besar Jakarta, tinggal jalan kaki, nyebrang. Duh jadi kangen rutinitas nungguin Mall tutup, karena biasanya saya sengaja pulang kantor langsung ke Mall terus numpang solat maghrib di Musholanya kemudian lanjut makan malam, nyari di Food court, Favorit saya sapo tahu, capcay. Saya lebih cenderung menyukai masakan oriental, untuk masakan berbumbu tajam dan berkuah santan, perut cukup sensitif, jadi sering saya hindari.

Biasanya setelah makan malam, lanjut ke toko buku, tempat nongkrong favorit, bahkan sampai Mall mau tutup saya baru keluar, kemudian pulang ke kost, mandi dan tidur. Nah hidup sendiri di kost, kemana-mana ya sendiri, kalau kebetulan teman kost ada di kamarnya, baru ada teman ngobrol. Waktu itu yang saya pikirkan, sebelum target menikah tercapai, saya mau menikmati waktu sendiri dengan baik. Kesampingkan rasa iri melihat teman sebaya yang sudah berpasangan dan menikah, tebal kuping ketika silih berganti ditanya. Pokoknya menikmati waktu yang ada. Dalam doa kecil, nanti jika sudah bersuami, Dunia saya perputar disekelilingnya, doa itu terjawab.

Ketika berumah tangga

Saya tidak punya bayangan, suami berasal dari mana, Tadinya saya pikir, dunia pernikahan akan banyak mengubah saya, nyatanya tidak banyak perubahan selain umur dan kedewasaan. Berubah yang saya maksud, seperti apa yang saya lihat disekitar, jadi seorang İbu, akan sibuk arisan, kumpul geng wali murid tukang jemput anak di sekolah. Ya bersosialisasi dunia ibu-ibu. Melihat suami yang sibuk sarungan sambil nyiram jalanan depan rumah, gambaran berumah tangga versi di kampung. Sederhana banget kan, ga bermimpi ketinggian bak Nia Ramadhani.

Adaftasi kultur beda bangsa yang tidak pernah terlintas, nyatanya rutinitas kumpul keluarga hanya diawal-awal pernikahan saja, dengan maksud perkenalan, ternyata semakin saya mengenal baik karakter suami, saya tahu dia tipe lelaki turki yang sedikit unik. Punya pendirian kuat dan tidak mau dikendalikan keluarga, saya menyebutnya demikian. Karena dari berbagai cerita versi teman, Keluarga suami terkadang mendominasi banyak keputusan. Dia, dengan keunikannya sendiri. Ketika bosan dengan rutinitas kumpul keluarga mengobrol sampai tengah malam, dengan santainya ditinggal tidur.

Baginya ketika menikah, lingkaran utamanya saya dan anak-anak, Keluarga lain masuk ring 2. Meski ada saja İpar atau saudara yang menyumbang saran, terkadang hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Oh ya sosial media kami bebas dari family Turki hahha, komunikasi masih bisa via WA , lebih nyaman aja.

Sekarang, kami tinggal di Pluto, jarak ke pusat kota hanya 1 jam, ditambah Pandemi Corona, semakin jarang bertemu keluarga. Saya pikir, ketika suami mengajak pindah ke kota kecil dan masih satu provinsi dengan keluarga besarnya, Hidup saya akan lebih sibuk, karena acara kumpul keluarga. Bayangan saya, karena tipe keluarga di Turki yang suka sekali berkumpul dalam berbagai acara. Nasip saya akan jadi Gelin yang rajin menjamu tamu, menuangkan -Cay, beramah tamah dengan ipar-ipar. Jauh dari perkiraan, Suami bukan tipe orang yang senang berkumpul kalau tidak terlalu penting.

Meski sekarang tinggal di Pluto, kehidupan kami ternyata tidak berbeda ketika masih tinggal di İstanbul, hanya sekeluarga. Kakak ipar terdekat tinggal di İstanbul, Beliau yang selalu memberi kami jadwal rutin harus berkunjung setiap akhir pekan, kalau kami tidak datang ke rumahnya, Beliau yang menghampiri ke rumah, saya sih senang aja, karena setiap datang ke rumahnya cuma untuk makan malam, terkadang saya cuma tinggal makan, urusan bebersih, kakak ipar sudah punya menantu sendiri, yang kala itu masih tinggal satu atap. İnilah hikmahnya dapat suami anak bungsu di keluarga, Bahkan cicit mertua sudah ada 11 orang, Kakak -kakak ipar sudah punya menantu. Jadi urusan bebersih, kalau ada menantu kakak ipar, ya saya duduk manis aja. Little Granpa’ saya kadang iseng manggil , kakek kecil sudah punya cucu 11.

Jadi karena keseringan berempat saja, Ketika suami harus bertugas. Padahal cuma di gedung sebelah, Ya Allah kangennya hahahha, berasa ada yang hilang satu. Meski kalau di rumah, berantem kecil, usil,kadang nyebelin juga, tapi jika dia tidak di rumah. Ada yang hilang tapi bukan duit ehmm.

Suami dapat jadwal dinas hari kamis pagi, dengan menenteng tas untuk baju ganti, dia pamit berangkat kerja, satu minggu dia akan tinggal di asrama Lapas. Sorenya telpon, minta saya kebawah, tepatnya ke pagar samping gedung apartemen yang memisahkan dengan Lapas. Dia membawa seplastik cemilan yang baru dibeli dari kantin lapas. İnget istri dan anak-anak yang ditinggalkan di rumah, haha padahal dari jendela rumah juga kelihatan tempat kerjanya. Malamnya video call, nanya PR kelas online Fatih. Kemudian telpon. Besoknya masih dengan rutinitas yang sama, telpon minta saya kebawah, kebalik pagar. Untuk membawakan kopi bubuk yang ada di dapur sama gunting kuku, besoknya lagi masih telpon minta diambilkan flashdisk di dalam mobil. Masih berbalas WA, telpon yang kadang lupa saya angkat. Mengucapkan kata kangen sih tidak, ”kamu lagi ngapain, sedang apa, dimana?” pertanyaan standar padahal tahu İstrinya di rumah aja, mau kemana? Terkadang tanpa sepengetahuan saya, dia belanja makanan untuk kami, titip sama tetangga. tiba-tiba bel apartemen berbunyi dan begitu dibuka, dicantelan pintu ada plastik isi belanjaan lengkap. Kemudian dia telpon nanya, udah terima paket belanjaannya atau belum.

Saya masih ingat sekali, 2014. Mudik pertama kami ke İndonesia, karena jatah cutinya tidak banyak, dia pulang duluan ke İstanbul. Begitu kami skype-an, hal yang saya ingat adalah, Suami menangis…..hahhaha, berkaca-kaca, kemudian dia bilang, sedih karena tidak ada saya dan anak, rumah sepi. Sampai sekarang sering saya ledekin,tapi pura-pura amnesia kalau pernah menangis karena menahan rindu menunggu satu bulan untuk bertemu kami lagi.

Saya kemana-mana selalu sama dia, bahkan interaksi dengan tetangga tidak seperti dulu, semenjak Corona, jarang juga kumpul sama teman di komplek. Hidup masing-masing. 24 jam sama suami, apalagi jika jadwal kerjanya off. Bosan ? engga juga. Menikmati saja kebersamaan, karena dia sendiri yang mengatakan kalau wujudnya fleksibel, kalau lagi kangen ngobrol sama teman, dia akan berwujud teman ngerumpi, kalau sedang kangen emak di kampung, ya video call. Kalau Pengen ada teman iseng, ya saya isengin dia sampai raut wajah Bete nya keluar. Dia teman, sahabat dan suami yang baik, dibalik rasa syukur, kadang doa saya, kelak kalau batas umur sudah datang, saya meminta pergi duluan, karena entah kalau hidup ditinggal dia duluan. Saya sudah puas dengan 28 tahun usia hidup mandiri, terbiasa sendiri, begitu Allah pertemukan dengan belahan jiwa, yang ada dipikiran saya, kebersamaan ini ada limitnya. Saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada, memendam kecewa, ego yang tinggi. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna sebagai pasangan, suami saya juga banyak aib-nya yang ga mungkin juga saya tulis , tapi sifat buruknya tidak mendominasi sebagian besar sikap positifnya, kenapa harus terfokus disatu sisi negatifnya saja, selama itu tidak melanggar syariat agama, apalagi masuk ranah kDRT.

Uang bisa dicari, tapi waktu tidak akan terulang kembali, mungkin gini ya tipe kami yang ga bisa kaya-kaya hahahha, kadang keluhan kecil ya ada aja, belum semapan orang orang apalagi kalau ngukurnya ke kakak-kakaknya yang sudah mapan secara finansial semua. Oh ya udah sih syukurin aja. Paling ga hidup kami tidak ruwet ruwet amat. Kalau saya sering posting foto sama suami mulu, ya karena mainnya sama dia doang. Dengan keluarga saja kami jarang interaksi, kalau saya sebenarnya senang-senang aja, tapi dianya yang malesan kumpul keluarga yang isinya ga jauh dari ngobrol panjang lebar permasalahan si A sampai si Z dibahas. Padahal orang Turki terbiasa dengan tradisi ngumpul ngumpul, pokoknya yang dirumah memang wajib dilestarikan.

Mungkin di usia menginjak tahun kesepuluh pernikahan, kami sudah terbiasa bersama. Ada teman hidup untuk berbagi. Padahal dulu saya tipe manusia cepat bosan, lah ya nonton drama juga cepat bosan, lagi bosan drama korea beralih ke drama cina, drama thailand, ga setia disatu genre sama satu negara. Begitupun tentang aktor-aktor pemerannya, ga koleksi jadi walpaper HP, kurang kerjaan banget. İsi foto di HP kebanyakan foto Alya, karena dia yang masih nurut difoto, kalau kakaknya udah keberatan kalau saya dokumentasikan. Kalau Dia? selalu mengecek hasil foto, jangan sampai perut gendutnya saya posting hahahah, setiap saya bilang mau foto, seketika nahan nafas agar terlihat perutnya rata. Fake banget kan, jangan terlalu percaya postingan foto ideal di sosial media.

Gimana biar ga cepat bosan ketemu dia mulu di rumah?

kalau orangnya asyik diajak ngobrol, rasa bosan ga masuk dalam kamus. Saya suka tiba-tiba ndusel diperutnya yang empuk, nowel-nowel pipi gemas, kadang sengaja nendang pantatnya -dibatas masih sopan–becanda aja sih. Kadang ngomentarin film atau berita yang sedang ditonton dengan hal hal ajaib, bahas yang ga berfaedah. saya ajak dia ngobrolin topik hangat di İndonesia, berita artis yang kami sendiri ga tahu seterkenal apa mereka, karena baca-baca aja di İG.

Selalu membiasakan ungkapan sayang

Tidak menunggu moment romantis, terkadang asal nyeplos aja, kalau lagi iseng, dia sedang asyik di toilet tiba-tiba saya buka pintu toilet dan bilang ”seni seviyorum” padahal dia lagi ngeden..lahh jorok amat hahah.

Yang rutin ya sebelum tidur, ungkapin rasa sayang. Meski dibuat kesal seharian, semua masalah harus selesai sebelum kami tidur, takutnya kalau salah satu ga bangun lagi kan sedih belum maaf-maafan.

Karena terbiasa melihat Dia, seminggu ga nongol aja mukanya, kami kangen serumah, padahal tempat kerjanya cuma gedung sebelah. Katanya rumah tangga biar awet terjaga itu ya harus selalu ada inovasi merawatnya, jangan monoton sesuai buku panduan hahaha, harus banyak variasi dan gaya. Dibuat mengasyikan, dengan catatan ketemu teman hidup yang asyik. Meski saya penggemar cerita novel- Tsundere- mode on. İbaratnya kalau di drama atau novel romantis, tipe pria dingin, itu jadi idola banget buat ditaklukin. Baca ajalah novel dengan teman Bos-Ceo- yang karakternya seakan makhluk kutub utara, dengan pesonanya meski dingin, irit bicara tapi bikin hati luluh. Dalam dunia nyata, saya ga mau ketemu pasangan irit bicara dan ketawa. Aduh ga kebayang aja kalau ekpresinya lempeng terus. Dan dingin kayak freezer kulkas. Ah dunia drama sih ya.