Pertamakali kenal internet, zaman SMA, itupun sebatas kenal email dan forum Chat seperti MiRc, Kemajuan teknologi bernama internet dan mulai bermunculannya usaha warnet jadi daya tarik sendiri, saya masih ingat harga sewa per-jam sekitar 4000-3000 rupiah. Pernah satu bilik dengan seorang teman, itu pertamakalinya kami masuk warnet dengan noraknya, karena bingung mau buka apa dulu, berbekal website sheila on 7, tujuan pertama yang saya dan teman jelajahi, lalu ada media chat-nya, disitu saya mulai kenal teman chat, ah lupa siapa.

Kemudian masa kuliah dan juga bekerja kehidupan saya sudah diisi internet, saya punya beberapa teman chat, seiring waktu jarang chating-an lagi, kadang masih berkabar lewat sosial media, oh ya saya ada satu teman chat dari pakistan, usianya dibawah saya, sekadar teman ngobrol bareng teman kost dulu, kami berbagi chat bertiga, karena Sherry-kami memanggilnya dengan nama sherry. Umurnya dibawah kami berdua, jadi kami anggap adik. Terakhir saya dan teman pernah kirim Batik untuk sherry, say hello juga dengan keluarganya, ada perasaan Suka? sama sekali engga, tulus berteman, dia sering curhat tentang perjodohannya dengan kerabat sendiri, berbagi foto calon istrinya, cantik bak artis india. Ketika saya menikah, saya kenalkan sherry dengan suami, sempat face-time juga, kemudian sherry memilih unfollow saya di FB beralih berteman dengan suami, katanya adab. Karena saya sudah bersuami. Terakhir dia kerja di Dubai, tapi mengeluh juga dengan jam kerja dan rasisme-hingga memilih pulang kampung dan jadi guru saja, Sherry ini mengenyam pendidikan S2 dibidang İT. Kenal Sherry dari pemuda berbadan cungkring, terakhir melihat foto profilenya sudah ‘membesar’ semenjak menikah dan memiliki 2 anak hehe.

Sherry salah satu teman chat yang berkesan, sampai sekarang silaturahmi tetap terjaga meski tidak seintens dulu. Sesekali dia buka sosial media untuk menyapa saya dan suami. Dia kurang suka main sosial media, dulu hanya bermodal akun Yahoo saja.

Nah bicara sosial media (Lagi) Saya sempat vakum tahun 2016 di FB, saya hapus akun pertama saya, meski banyak foto kenangan, tidak bisa saya unduh semua. Butuh menenangkan diri, hingga kemudian mengaktifkan akun cadangan, karena permintaan keluarga ya sekalian untuk promosi Blog. Twitter juga seperti itu, saya hapus akun lama dan membuat akun baru kembali, lagi-lagi untuk kepentingan Promosi Blog, Lalu Youtube? Terus terang Platform ini meski menggiurkan sekali duit adsense-nya, apalagi makin banyak youtuber sukses kaya raya berkat kanal youtubenya, Saya juga ada kanal youtube, tapi tidak begitu terawat seperti Blog ini, masalahnya konsep yang ingin saya bagikan adalah seputar traveling bukan daily life tapi apa daya dengan kondisi seperti sekarang dan keterbatasan lainnya, saya kemana-mana harus sama pawangnya (baca: suami) sedang sang pawang terbentur dengan izin cuti dan lainnya, dia bukan pengusaha yang punya perusahaan sendiri.

Saya itu ‘abu-abu’ ehm gini, terkadang kepikiran ingin dikenal, Blog tinggi Pageviewsnya, jadi selebblog ehmmm, yang banyak endorse atau tiba-tiba viral, wah seru ya, kok asyik?seakan jalan mengais cuan begitu mudahnya. Tapi kadang mikir sendiri? Loh buat apa, kalau kehidupan pribadi terlalu diekpose dan merasa ditelanjangi netijen, sampai isi rumah dan sudut sudutnya saja dihafal,kegemaran anak-anak juga dihafal, kadang postingan di İG saja saya review ulang atau hapus sekalian, galau gitu ya, apalagi ditambah kesukaan saya menonton dokumenter tentang hal menarik seputar internet, The social dilema, padahal mau saya review tapi kok ya belum sempat-sempat. Wah makin mikir lah saya untuk membuat konten, kehati-hatian demi keselamatan dan kesehatan mental sendiri.

Jadi setiap apapun yang ingin saya bagikan di sosial media, rules yang saya terapkan:

Jangan pernah tag check-in sedang dimana--karena menurut saya selain ga penting banget:D malah menunjukan keberadaan kita, ya bisa saja dimanfaatkan sama orang-orang yang berniat jahat.

Membagikan foto liburan, ketika sudah pulang ke rumah. Untuk hal ini saya sengaja membuat album sendiri di FB, Nama-nama daerah yang sudah saya kunjungi, sebagai dokumentasi, isinya 70 persen foto pemandangan, ya karena tujuannya memang berbagi itu, bukan foto narsis sekeluarga dimana-mana. Ya meski ada sebagian foto foto kami dengan jarak yang aman.

Saya paling tidak suka menulis lengkap riwayat pendidikan. Saya bukan seseorang yang menawarkan sebuah jasa di internet, tapi rasanya aneh kalau nama SD sampai kampus saya tulis di sosial media, ya buat apa saya tulis lengkap bak Curiculum vitae, kecuali memang di platform khusus nyari kerja gitu. jadi sok -sok misterius..LOL.

Tidak memposting foto terlalu mesra sama pasangan-maksudnya kayak ciuman gitu, mesti halal dan konon katanya bikin baper para jomlo syar’i. Mungkin bisa menaikkan konten apalagi kalau punya pasangan Alien dari Pluto, duh hari gini Bule ga jaman, Tahu kan Alien itu ganteng, pernah nonton K-drama My love From Star, Andai semua Alien ganteng seperti kim soo Hyun:D.

Saya dan suami ya gitu itu, ‘abu-abu’. Dia bahkan menghapus hampir semua followernya di İG dari ratusan kini cuma 8 follower. Kadang ga terlalu nyaman di’kepo’in banyak orang, apalagi Keluarganya sendiri, Posting foto suka-suka yang nge like kadang cuma saya doang:D Saya tidak bisa mengikuti jejaknya karena butuh sosial media untuk kepentingan Blog. Nah ini juga kan yang membuat saya lebih nyaman nulis di Blog dibanding membuat video, kalau mau bahas sesuatu sama suami, Karena terlalu banyak ‘keberatan’nya direkam dibanding saya ‘julid’in di Blog, Kalau di Blog, cuma tulisan katanya.

Sekarang ya gini ini, jadi Blogger karena memang untuk berbagi tulisan saja, kalau ada Job ya Alhamdulilah, berarti ada rezekinya. Kalau akhirnya bertemu pembaca yang loyal, ini juga ga nyangka sih, entah berapa kali email atau DM yang masuk, mengikuti saya dari awal ngeBlog, sayanya aja ga nyadar, ada yang hafal cerita awal saya hidup di Turki. Kadang ya kalau sudah terlalu Jenuh, ingin menarik diri, saya ga kurang kebahagiaan kok, kalau kurang duit oh ya pernah hahaha, tapi bukan sebuah keluhan berat, selama sang kepala rumah tangga sehat wal afiat, rezekinya Lancar dan sudah sesuai takaran untuk masing-masing kepala. Dikejar gimanapun tidak akan pernah ada kata cukup. Kayaknya hidup saya lempeng aja di sini hahaha, tapi ga mau buat sensasi juga lah. cukup tahu diri. Tidak perlu ngotot untuk pencitraan bahagia selalu, Menulis lah terus.

Tentang Planning 2020, apa saja yang sudah tercapai

Oh ya planning 2020 sebagian terwujud, Meski tidak dalam bentuk Bullet Journal tapi lembaran kertas yang saya tempelkan di lemari dapur. Saya ambil kelas bahasa, karena mengakui lemahnya di linguistik, Sampai sekarang bahasa Turki saya tidak 100 persen Turki, masih kecampur bahasa lain kalau Kalimat dalam bahasa Turkinya lupa, Payah ya. Lalu untuk sisi Batin, saya juga ikut gabung di Majelis yang diampu Kyai Muda NU di Belgia. Lalu diajak Gabung Fatayat NU wilayah eropa, sama teman Blogger Mba Gina, yang ternyata sempat satu almamater pondokan di Yogya.

Nah yang paling berat itu target olahraga,sudah rajin save Video dengan judul:” cara mengecilkan perut” tapi penyakit malasnya ampun ampunan, ditambah memasuki musim dingin bawaannya lapar terus (selalu alasan basi seperti ini) rasanya pesimis target 2020, Perut sickpack bak cinta laura–ngimpi aja mbak–