Saya lebih suka ketika hujan, di rumah saja. tidak punya jemuran, pekerjaan rumah beres dan bisa bobok cantik dikala hujan sambil memandang jendela kamar yang basah terkena air hujan, atau baca Novel menarik. Saya suka hujan menjadi sarana untuk berdoa lebih khusus, karena ketika hujan turun, salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Rumah dan Hujan, jangan Hujan pas di jalan.

Banyak yang mengaitkan hujan dan kenangan mantan

Kenangan tentang hujan dan ‘mantan cowok LDR-an’ yang kini jadi suami, waktu masih newlywed-era. Saya pernah pulang kehujanan berdua sama suami, Pulang dari pusat kota dimusim dingin, hujan lebat, lupa bawa payung. Nunggu di halte kelamaan, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke rumah-saat itu masih tinggal di PİM (pondok İndah mertua) jarak dari Halte Bis di atas bukit cukup jauh ke rumah, harus turun dulu ke jalan raya yang menuju desa, dengan berpegangan tangan ala Rahul dan anjeli..Tsah….kami berlari kecil menembus hujan lebat, sambil tertawa-tawa, sebenarnya pegangan tangan alasan utamanya takut istrinya ketinggalan dibelakang hahaha. Sesampai dirumah, kami menggigil kedinginan, buru-buru ganti pakaian dan menyalakan penghangat listrik di kamar.

karena ketika hujan turun, salah satu waktu mustajab untuk berdoa.

Kenangan Hujan dan pekerjaan

Dulu zaman masih jadi anker-anak kereta– setiap turun hujan adalah ujian, sering sekali pada masanya, KRL telat, ada gangguan. Berangkat telat pulang kerja pernah sampai rumah jam 12 malam karena banyak kereta terlambat, penumpukan penumpang. Di stasiun, kepadatan penumpang luar biasa, kalau naik dari Tn Abang mungkin masih bisa bernafas lega, dapat duduk, kebagian di Palmerah tinggal jadi ‘ikan asin’ siap dipepes karena padat. Dan rutinitas seperti ini selalu terjadi ketika musim hujan mengguyur Jakarta. Tapi pernah juga sih ketika musibah banjir besar Jakarta, sampai rasanya grogol tenggelam, ga ada kopaja bisa lewat, saya memutuskan tidak berangkat kerja dan atasan memaklumi, rebahan deh di rumah.

Hujan dan rencana Diet yang berantakan

Nah ini juga ujian banget, musim hujan selalu dikaitkan dengan makanan hangat, ”duh enak ya kalau makan semangkuk Bakso”, Udah makan Bakso, eh ada sebungkus İndomie di laci dapur, Ga tahan godaan. Runtuh niat dietnya, Oh godaan musim hujan, ada aja!

Hujan dan kenangan

Hujan juga mengingatkan dengan kenangan perih, kepergian orang-orang yang saya kenal, beberapa ada yang wafat dikala musim hujan, sore hari langit mendung kelabu, hujan gerimis dan pemandangan iring-iringian keranda jenazah menuju tanah pekuburan. Seperti kenangan salah satu sahabat yang saya kenal di YİSC al Azhar, Dia wafat mendadak karena sakit, saya dan teman-teman datang ke rumahnya dikala hujan, kami duduk terdiam selama perjalanan sambil mengenang moment singkat bersama almarhumah, kematian menjemputnya disaat yang tidak kami kira, Musim hujan.

Dimasa kecil saya selalu ceria ketika hujan datang, karena bisa main hujan-hujanan dan perosotan di ubin rumah tetangga yang licin, kenangan yang masih membekas. Saya bisa puas main seharian di musim hujan. Namun ketika dewasa, ingatan saya tentang Hujan lebih banyak tentang rasa sepi, sendiri dan mengingat kematian. Apalagi sekarang hidup jauh dari Keluarga di Tanah rantau, turun hujan seketika rasa rindu keluarga muncul tiba-tiba.

Hujan? Teman-teman punya kenangan tentang hujan? Hujan dan mantan..duh dalem pastinya hehehe