Beberapa hari ini saya ke-trigger dengan berita berita pelecehan Se**ual terhadap anak-anak, apalagi ketika pelakunya ternyata orang terdekat, jujur tidak sanggup baca beritanya sampai tuntas, karena langsung terbayang bagaimana diposisi ibunya yang hancur, anak-anak yang dia lahirkan penuh perjuangan dirusak oleh orang yang seharusnya menjaga, menjadi tempat yang aman untuk tumbuh kembang mereka. Dalam benak saya, kok bisa pelaku melakukan perbuatan bejat itu ke darah dagingnya sendiri.

Rumah tidak lagi menjadi tempat yang aman

Kemarin saya sempat baca tulisan membahas ini, tentang rumah yang tidak lagi menjadi tempat aman untuk anak-anak tumbuh, betapa mengerikannya, Di rumah tidak merasa aman, dan kadang ada beberapa kasus, di lembaga pendidikan pun mulai tidak terasa aman, Sempat melihat gambar viral seorang guru yang memaksa memegang payudara anak didiknya, seorang siswi ketika kegiatan belajar berlangsung. Dunia semakin gila.

Kekhawatiran tidak bisa menjadi orangtua yang baik pernah terbersit

Suami, tipe lelaki Turki yang tidak terlalu ambil pusing untuk memikirkan,: Dalam pernikahan mesti ada anak atau tidak, sebelum menikah kita sempat berdiskusi, dan dia kesannya santai aja, dikasih keturunan ALhamdulilah, ga ada keturunan, bisa hidup berdua kata dia, keponakan banyak, cicit juga lebih dari 5 (sekarang 10 dan masih on the way nambah lagi..) Sebagai istri saya juga tidak terbebani untuk segera hamil, butuh 1 tahun dari usia pernikahan, baru hamil. Tapi jangan tanya bagaimana keluarga di İndonesia, pertanyaan kapan punya anak? tentu saja sering saya dapatkan.

Awalnya berencana hanya 1 anak saja, tapi kita juga tidak bisa menolak rezeki ketika Allah memberikan keturunan kembali, tahu saya hamil lagi, dia sempat stress, overthinking, ketakutan tidak bisa memenuhi kebutuhan secara materi dan lainnya, sampai kakaknya turun tangan, dia diajak diskusi.

Lingkungan kerja berperan besar

Oh ya ditambah saat itu pekerjaannya bertugas di lapas anak İstanbul. Beban kerja dan situasi sehari-hari menghadapi anak-anak remaja binaannya membuat dia -trigger- juga, panik, merasa tidak siap dengan amanah baru.

Alasannya, dia takut tumbuh kembang anak-anak di lingkungan yang buruk, sehingga menambah beban sosial saja, dia takut tidak cukup memberikan kasih sayang sehingga anaknya menjadi pemberontak dan nakal. Sehari-hari pekerjaannya ‘mengurusi’ anak-anak bermasalah. Sesekali pernah juga cerita bagaimana dia bisa tercengang melihat kelakuan satu keluarga, orangtua yang menjenguk anaknya di lapas, anak laki-lakinya usia remaja, selain bertindak kriminal, mereka juga melakukan hubungan inses dengan adiknya, seolah bukan hal mengerikan, orangtuanya menganggap biasa saja.

Disatu hari, banyaknya pengunjung bermobil mewah, golongan orang kaya istanbul, datang berkunjung, rata rata anaknya terjerat kasus narko**a, secara materi jelas tidak kekurangan apapun, pernah juga diawal tugasnya, kebetulan bukan pas shif nya dia, jadwal sesudahnya, lalu ada kejadian, percobaan bunuh diri dari salah satu anak binaan, beritanya sampai masuk berita TV nasional, syukurnya si anak selamat dari percobaan bunuh diri, tapi semua petugas yang hari itu kebetulan jadwal shif kena sidang disiplin semua, entah bagaimana nasibnya, dipecat langsung atau masih harus diselidiki karena dianggap kelalaian. Dia tidak menceritakannya lagi.

Kadang dia juga berperan sebagai bapak asuh untuk mereka, karena sering berinteraksi dengan anak-anak bermasalah, ketakutannya memiliki anak lebih dari satu jadi tumbuh, sampai keputusan untuk mutasi kerja sebelum Fatih masuk SD juga sudah dia rencanakan, di İstanbul, kami bukan tinggal didaerah terbilang aman dari sisi keamanan, daerah mahalle biasa, bukan sitesi-semacam komplek apartemen yang memiliki tenaga keamanan 24 jam. Terus ditambah banyaknya pendatang dari daerah konflik yang menetap di mahalle kami tinggal, secara sosial dan sisi keamanan semakin membuat dia khawatir.

Lingkungan tinggal saat ini

Meski terkadang saya mengeluh karena jauh dari mana-mana ..huhuhuhu…, disisi lain, tentu ada juga yang wajib saya syukuri, anak-anak tumbuh dilingkungan terbilang aman. Maling pun segan masuk komplek tinggal kami saat ini, karena penghuninya biasa ngurusin narapidana semua, hampir tiap minggu mobil jandarma atau mobil polisi silaturahmi ke gedung sebelah. Disisi lain

, kami juga rada individualis, saking jauh kemana-mana, terakhir ada tamu ke rumah, musim panas lalu, kebetulan sahabat dekat suami dari jerman datang liburan mudik, ingin berkunjung ke rumah, tahun 2020, sama sekali tidak ada tamu. Karena dilarang menerima tamu ketika pandemi sedang tinggi kasusnya. Keluarga sama sekali tidak ada yang berkunjung. Jadi dirumah, kami bisa mengontrol kehidupan sehari-hari.

Lingkungan dulu tinggal

Saya tinggal di kampung yang ramai, belum lagi sekarang sudah banyak komplek perumahan baru, komplek real estate, apartemen, banyak juga warga pendatang, terakhir mudik, disamping kanan kiri rumah orangtua sudah banyak berjejer ruko, bahkan di seberang rumah, sudah berdiri coffeeshop yang belakangan trendnya saya pantau naik, tidak lupa rumah kontrakan pun banyak.luar biasa perkembangannya dari sisi ekonomi, sehingga banyak wajah wajah asing yang jelas saya tidak mengenali. d rasanya menyenangkan, segala kemudahan ada didekat kita, mau makan bakso terkadang tinggal teriak, ada tukang bakso keliling dan ada juga yang buka di salah satu ruko.

Tapi untuk tumbuh kembang anak, lingkungan seperti itu justru tidak saya inginkan lagi, mungkin untuk mudik melepas rasa rindu cukup, saya tidak bisa mengontrol lingkungan anak, pengalaman ketika Fatih jadi terpapar HP aja sudah cukup membuat kelimpungan, karena hampir semua anak-anak kecil di kampung, terbiasa atau dibiasakan memakai HP, Jauh-jauh mudik, inginnya anak bermain normal layaknya anak-anak sebaya, tapi disuguhkan pemandangan anak-anak yang sibuk dengan HP masing-masing, Hingga Fatih merasa beda dan iri, kenapa dia tidak punya sama sekali? kenapa anne baba tidak kasih dia hp.

Butuh kerjasama dengan babanya lagi ketika kami pulang ke İstanbul, agar anak tidak tertarik dengan HP, bukan urusan mudah, tapi alhamdulilah bisa! Sampai saat ini, anak-anak tetap konsisten belum diperkenankan menggunakan HP, ketika kelas online, kami sediakan pc lengkap. Ada jatah dia main game dan youtube di PC, dengan akun saya, sehingga bisa ditelusuri history apa saja yang dia buka.

Saya ingin menciptakan lingkungan yang aman untuk tumbuh kembang anak-anak, peran sosial media begitu besar, dan kami tetap memegang kontrol agar bisa meminimalisir pengaruh negatif konten konten yang tidak bermanfaat. Sampai nanti ketika saya dan babanya sudah yakin untuk memberikan hak dia memiliki gadget sendiri.

Menjaga agar bisa memberikan

Menitipkan anak-anak? terus terang kami tidak terbiasa, ke tante dan neneknya disini, itu juga jika kondisi emang mendesak dan anak-anak tidak bisa ikut, apalagi ke tetangga? meski kenal baik, tetap saja pikiran tidak tenang. Sejauh ini belum pernah menitipkan anak di luar tante dan nenek turkinya, hanya ke mereka saja, Babanya memberi kepercayaan. 24 jam hidup saya dengan mereka. Kami ingin memberikan lingkungan aman untuk tumbuh kembang anak-anak. Biarlah minim sosialisasi ditambah lagi semenjak pandemi.

Memberi pemahaman tentang batasan

Tips-tips ini banyak beredar di internet, tentang perlindungan anak dari predator se**, mengenalkan anak, batasan aurat, saya dan suami menerapkannya, mengenalkan kata ‘ayıp’-tabu– jika mereka tidak berpakaian lengkap meski itu di rumah. Fatih akan ngomel-ngomel kalau tiba-tiba saya masuk kamar dan dia sedang berganti pakaian, padahal tidak sedang telanjang, hanya kaus singlet dan celana dalam, menurutnya, saya melanggar privasy dia. Dan ketambahan terakhir liburan di pantai, dia keberatan untuk difoto apalagi diposting. Begitu juga dengan adiknya, sebisa mungkin pemahaman tentang batasan ini kami terapkan juga.

Harus mau terbuka, tidak boleh ada orang asing yang memegang area vitalnya,kecuali kondisi darurat semisal ada sakit. Termasuk baba atau saya ibunya juga tidak diperkenankan. Ketakutan ketakutan itu harus kami kikis dengan memberikan bekal ke mereka, memberikan lingkungan aman semampu kami.

Diluar sana, banyak anak-anak kurang beruntung, rasa empati saya terhadap anak anak korban kejahatan manusia manusia tidak bermoral itu, semoga ibunya diberi kekuatan, semoga anak anak korban kejahatan se** al lainnya diberi kekuatan diberi pertolongan, orang-orang baik yang melindungi mereka, memulihkan mentalnya kembali dan bisa bangkit meraih cita-cita dan impiannya kembali. Kerusakan moral yang luar biasa, perbuatan dosa besar bahkan lebih besar dari dia menzinahi perempuan lain tapi darah dagingnya.

Dunia diakhir zaman

Saya ingat dimasa-masa sekolah, pernah membaca tulisan tanda tanda akhir zaman, sekarang rasanya tanda tanda itu begitu mudah kita saksikan, berbuat dosa seakan hal biasa, kasus terus saja terjadi, perbuatan biadab dari orang orang terdekat, lama kelamaan menjadi hal biasa saja karena seringnya terjadi, kemarin saya sempat juga menulis di quora menanggapi pertanyaan seseorang, dan saya tulis tentang apa yang ada dibenak saya saat itu, menanggapi kasus diatas, karena seringnya terjadi, kenapa tidak dihukum kebiri dan mati sekalian!

jahat ya? saya memposisikan diri sebagai seorang ibu yang melahirkan anak-anak, sakit! rasanya ikut sakit ketika anak-anak yang lugu itu menjadi korban kebejatan moral orang dewasa, anak-anak yang seharusnya dijaga, amanah besar, titipan Allah, kelak ketika di akhirat akan dimintai pertanggung jawaban. Tidak bisa tidak peduli, meski banyak yang menganggapnya biasa. Semoga anak cucu kita dijauhi dari manusia manusia predator, manusia dzolim, tidak bermoral, bejat.

Entah apa bisa keadaan seperti ini diperbaiki? kerusakan moral yang luar biasa, saya tidak bisa mengubah hukum dunia, saya hanya berusaha menjaga, memberikan lingkungan sehat untuk tumbuh kembang dan mental anak, menjaga mereka dalam perisai perisai doa, kelak ketika mereka menghadapi dunia yang rusak itu, mental mereka cukup kuat, tidak terpengaruh dan mudah terbawa arus, menanamkan prinsip kuat. Ketakutan ketakutan kami tidak bisa menjadi orangtua yang cukup baik untuk mereka masih terus ada, semakin anak bertumbuh dewasa, semakin banyak ketertinggalan ilmu yang harus kami pelajari, Mendidik mereka sesuai zamannya.