Masih edisi #ceritaKeluargapanda, Setahunan tinggal di Planet Pluto–saya mau nulisnya demikian, karena lokasi tinggal di pedalaman, jauh dari pusat kota, Bandara maupun Terminal Bis, Kota kecil yang hanya berpenduduk 20 ribu jiwa,tapi belum kehitung sama Penghuni gedung Lapas samping apartemen saya, berjumlah 700 orang. Untuk ke area tinggal,lewat jalanan berkelok, Gunung, desa-desa, Sungai besar kizilirmak. Ya anggap saja planet Pluto meski saya juga belum pernah ke sana. Baiklah Random #ceritakeluargapanda saya tulis.

Awal tahun 2019, dibuka dengan salju dan suhu minus, ya selama di Turki. Untuk pertamakalinya saya merasakan suhu minus sekian, di siang hari pernah di bawah minus-1 sampai 12, lalu malam -15 C, Bagaimana rasanya buat kulit tropis ? Langsung kebayang kamar kost Sauna di Jakarta barat dulu, dan Tiba-tiba kangen minuman hangat Bandrek di Ciwidey , Bandung.

view danau Beku waktu mau keluar dari planet pluto

Perjalanan menuju Planet Lain, demi mengurus kartu izin tinggal (ikamet) berhubung saya pindah ke Planet Pluto dari Bumi İstanbul, ikamet saya yang di keluarkan kantor Goc İstanbul harus di tukar dengan kartu baru yang di keluarkan Planet sebelah (ibukota provinsi) jadi keluar planet pluto di tengah suhu minus demi kartu baru. Urus dokumen ulang, bayar lagi.

Memasuki musim semi, saya baru sadar dikelilingi perbukitan hijau ladang gandum, kalau musim dingin, semua terlihat membosankan dengan warna coklat dan daun menguning, ketika memasuki musim semi dan benih gandum mulai tumbuh menghijau bak permadani.

ladang gandum di belakang komplek planet pluto

Biasanya diakhir musim gugur,para petani pemilik ladang ini, akan disibukan bolak balik bawa traktor, mereka menggarap tanah, kemudian menaburkan bibit gandum, bibit ditanam dari awal-awal musim dingin, dan hebatnya, benih gandum tetap kuat bertahan dicuaca dingin, saya masih bisa melihat dari balkon apartemen, mulai tumbuh tunas hijau kecil-kecil, melewati musim dingin dan akan semakin kuat ketika masuk musim semi seperti foto diatas. Dimana bahan dasar dari kue bolu sampai bakwan jagung, terigunya sama.

penghujung musim panas, saatnya panen gandum

Nge-Mall- Bagi anak gunung serasa rekreasi…

Bagi bekas pekerja kantoran dan ngekos di area dekat salah satu Mall di Jakarta, yang mana pengen baca buku aja masuk toko buku, Beli satu baca ditempat 5, kalau lagi tanggal gajian, makan malamnya ke Mall..aihh, Masa depan siapa yang bisa menebak, kalau akhirnya dibawa Suami tinggal di Gunung. Yup diajak ke Mall aja udah seneng banget sekarang, nge-Mall terdekat ke Kota sebelah, buat saya wajib makan di luar, karena sehari-hari masak terus, libur sebentar. Padahal dulu di İstanbul, Suntuk dikit, dorong stroller anak, bawa duit, jalan kaki doang udah nyampe Mall. Karena apartemen juga di area belakang Mall. İnilah hidup kawan:)

jalan jalan ke emol

Setahunan tanpa bertemu teman setanah air

Komunikasi dengan teman-teman WNİ di Turki, semuanya lewat media sosial dan telpon saja, meski ada kenal salah satu dikota terdekat tapi sampai sekarang belum terealisi bertemu, dan untuk di Planet Pluto dengan bangganya saya mengatakan: satu-satunya orang asing, bahkan tidak menemukan sama sekali orang syuriah disini, padahal hampir disemua kota Turki di ‘ekpansi’ orang suriah dan arab lainnya sekarang. Di Planet Pluto, wajah asing masih jarang. Sampai Dokter mata di rumah sakit di planet Pluto, terheran -heran dengan saya, kenapa bisa nyasar disini? Ya mau bagaimana lagi Pak Dokter, kan ikut tugas suami, nyari nafkahnya di planet sini.

salah satu sudut planet pluto ketika mulai menghijau… tapi ini jauh dari apartemen kami:) naik gunung lagi.

Akhirnya saya mulai beradaftasi dan berteman dengan ibu ibu Turki,hitung hitung melancarkan bahasa Turki, karena komunikasi di rumah,saya dilarang suami ngobrol sama anak-anak bahasa Turki, harus bahasa İndonesia, cuma sama suami ngobrol bahasa Turki dan tidak mengalami perkembangan, ngobrol sama ibu-ibu lebih cepat belajar karena sering dibumbui tema gosip hahaha, jadi cepet nyantol gitu..astagfirullah. Dasar mamak-mamak dimana saja gini amat.-.-*

Fatih masuk SD

Di tahun 2019 ni, Fatih mulai masuk sekolah dasar, lokasi sekolah berada di Pusat kota. Seharusnya jika sesuai Zona wilayah, Dia sekolah di SD terdekat bareng anak-anak penduduk lokal, karena mempertimbangkan kualitas sekolah, anak-anak penghuni Lojman dipindahkan ke pusat kota, proses pindah zona sekolah diurus Babanya, Kemudian disediakan mobil antar jemput pulang pergi ke Lojman dari sekolah, setiap jam makan siang, anak-anak Lojman pulang ke rumah, sekolah tidak menyediakan menu makan siang, tapi juga ngelarang anak-anak jajan di luar, solusinya setiap jam makan siang, anak-anak bebas pulang ke rumah masing-masing untuk makan.

Perkembangan Fatih di sekolah, sudah terjawab kalau dia memang anak kidal, keturunan Babaannenya,menulis tangan kiri. bahasa Turkinya jauh lebih berkembang karena interaksi disekolah, bahasa İndonesia-nya masih harus saya disiplinkan, karena hanya berkomunikasi dengan Anne-nya saja.

Ada kabar Duka dan juga bahagia

2019, saya kehilangan salah satu om-saya di İndonesia, karena sakit. Beliau wafat. Dan begitu juga suami, kehilangan om-nya karena sakit kanker. Sementara di Turki, salah satu keponakan yang sudah menikah hampir 10 tahun, dikarunia anak laki-laki sehat. Penantian panjang ikhtiarnya. Lalu salah satu kerabat yang menikah 20 tahunan memutuskan berpisah. Keponakan yang lain, melangsungkan pertunangan dengan pesta meriah.

Selama ngeblog 2019, dua kali cair adsense, 3 job CP, Ehm Alhamdulilah saja masih ada yang melirik Blogger di Planet Pluto ini. Harapannya di tahun depan akan lebih banyak variasi tulisan dan stok cerita jalan-jalan, karena setahunan ini hidup prihatin, kurang jalan-jalan heheh, prihatin hanya bisa makan bakso belum nyoba makan steak-nya Saltbae😀

Oh ya kemarin,saya sempat mengundang teman turki, tetangga di lantai dua, tadinya saya pikir usianya lewat 25 tahunan, ternyata baru 24 tahun dan dia mengira saya berusia 25 tahun. Masih muda jika dibanding usia saya yang sudah lewat tiga puluh tahunan plus plus, ngobrol masih nyambung, apalagi si teman penggemar drama korea, lucunya dia pernah bercita-cita menikah sama orang Korea tapi ternyata jodohnya tetangga sebelah, dia menyukai ramen dan makanan asia,dan sudah bisa ditebak ketika saya tawarkan semangkuk bakso, dia bahagia sekali, bahkan dengan jujur mengatakan kalau dia sering beli İndomie dan menyantapnya sendiri. Wow sudah terpapar micin rupanya.

Bakso penghangat hubungan pertemanan İndonesia-Turki

Si teman jatuh cinta dengan bakso, sampai bertanya bagaimana cara membuatnya? saya tunjukan video yang banyak beredar di youtube, sekalian terjemahkan bahan-bahannya, dia antusias.Tapi saya bilang kalau bakso bukan orisinal makanan İndonesia. Bakso dibawa para pendatang dan menjadi makanan populer di İndonesia, dimana warung bakso akan mudah dijumpai diberbagai daerah. Sama halnya dengan simit di Turki.

Saya tipikal orang İndonesia yang kadang ngirit heheh, selama makanan nusantara masih bisa diolah sendiri di rumah, saya jarang beli makanan jadi seperti bakso, banyak teman teman WNİ di Turki yang bisnis jualan online, saya lebih memilih membeli bumbu atau bahan yang dibutuhkan saja, seperti tapioka atau aneka saos. Selalu ditantang suami untuk belajar mengolah masakan kampung sendiri. Dia lebih suka membelikan saya tapioka, daging giling untuk bahan dasar bakso, karena biasanya kalau saya minta beli makanan İndonesia, ditanya? ” emang kamu ga bisa bikin? temen kamu aja bisa, kenapa kamu ga nyoba?” nah loh. Belajar membuat bakso sendiri lewat berbagai tahap, sering juga gagal sampai akhirnya berhasil. Puas dan tentu saja bangga ke diri sendiri. Tapi untuk tahu tempe saya jarang beli, tahu saya cukup suka dan sering membuatnya sendiri, untuk tempe, bisa dibilang bukan juga makanan favorit dari dulu, jadi kalau ga ada, ya gak apa-apa, atau karena saya pernah merasa ‘enek’ dengan makanan berbahan tempe? Dulu.., di asrama saya tinggal, ada donatur pemilik pabrik tempe, tiap hari mengirim tempe ke dapur asrama, nah bayangkan hampir sebulananmenu tempe tidak diganti. Sampai saya lihat tempe, nafsu makan berkurang. Sesuatu yang dimakan tiap hari dengan menu sama, pasti dihinggapi rasa bosan, itu menurut saya. Sampai akhirnya saya memandang makan atau ga si tempe, hidup saya tetap baik-baik aja di Turki.

Berbeda dengan Saudara sepupu saya, ehm apa ya manggilnya. Saya panggil dia si Ucu:D usia hampir sama. Dia ini anak dari nenek tiri dari pihak bapak saya, dulu ibu dari bapak saya wafat, lalu kakek menikah lagi dengan istri barunya, memiliki anak satu, dan kakek menyusul nenek. Wafat. Manta istri si kakek (ibu tiri bapak saya) menikah lagi dengan seorang Guru dari Bandung, nah si Ucu ini anak Bungsu mereka. Nenek tiri saya juga wafat tahun 2014 silam, belum sempat bertemu lagi, jangan tanya sebaik dan sesayang apa beliau, saya berangkat ke Turki menangis kencang, dicium berkali-kali. nangis terus. Padahal nenek satunya lagi santai aja. Ya mungkin juga pertanda bahwa kami akan berpisah selamanya. Eh balik lagi ke cerita si Ucu dan tempe.

Si Ucu ini penggila berat tempe, hidupnya hanya kenal makan tempe, dia tidak suka daging ayam, kalau ada masakan beraroma kaldu ayam, dia langsung peka, bahkan penggorengan yang dipakai goreng ayam harus dicuci dulu, dia ga mau makan tempe beraroma daging ayam. Jauhkan lah ayam dari si Ucu. Nah kebayang kalau si Ucu hidup di Turki, dia bisa otomatis jadi vegetarian karena tidak suka protein hewani, setau saya daging merah pun dia jarang konsumsi.

Menikmati panen di kebun mertua

cerita di pedesaan Turki

3 minggu di rumah mertua

Sering nyetor muka ke rumah mertua

Selama 2019, entah berapakali datang ke rumah mertua, karena masih tinggal satu provinsi, kalau sedang ada urusan ke planet sebelah, jika ada waktu , luangkan pergi ke planet mertua, lokasinya setengah jam dari pusat kota. Tapi kami lebih sering menginap di rumah dua kakak ipar yang kebetulan rumahnya di Pusat kota semua. Seperti biasa jika berkunjung ke rumah mertua, si Baba tenaganya kepake, bantu-bantu pekerjaan rumah. Pulangnya buah tangan dari Mertua tidak akan lupa, apa saja hasil kebunnya selalu kami bawa.

Baiklah sepanjang tahun 2019 ini, ALhamdulilah keluargapanda masih punya cerita, suka duka di planet pluto, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, apalagi sekarang tarif angkutan umum saja mulai naik, kalau dirupiahkan ongkos naik angkot ke pusat kota hampir 15 ribu rupiah, dengan kondisi ekonomi Turki yang sedang ngap-ngap-an. Saya masih bisa bersyukur, ada kesempatan menulis di Blog. Bersyukur era teknologi, masih bisa berkomunikasi dengan teman maupun sanak family lewat internet, bayangkan jika hidup ditahun 50-an -.-‘ apa-apa nunggu pak post, atau mungkin pengiriman kapal laut, atau jangan jangan kirim-kirim telegram. Ditambah tinggal di planet pluto, pasti saya ga tau kabar viral dari tanah air, semacam happeningnya kuliner kekinian, artis artis pansos ..ya hiburan aja kan.

Teman-teman, hal berkesan apa setahunan ini?