Jadi seorang ibu seperti yang selalu ditulis banyak orang: menyenangkan, apalagi anak lucu? Jadi ibu itu profesi yang membanggakan, Bisa memiliki keturunan…,sederet kebanggaan yang ditulis lalu banyak yang share di sosial media? Gak, saya lagi ga bahas itu, saya mau menulis tentang sisi lain. (Ada yang komen: nikmatin aja, jalani, suatu saat pasti dikangeni, syukuri…) saya mau nulis tuh gini: Paling ga, punya anak itu ga asal ‘bikin’.

Teori parenting itu banyak bertebaran, tinggal klik google dengan kata kuncinya, mau segala bentuk motivasi juga tinggal tulis aja. Banyak yang diamanahi keturunan tapi belum tentu bisa jadi ibu atau orangtua? Bener ga?. Contoh: Dulu, lulus kuliah saya langsung bekerja, ada anak tetangga yang secara usia dibawah saya, mereka dapat jodoh duluan, lalu menikah, pasti bisa ditebak sindiran dengan kalimat: ‘kamu kapan nyusul?”. Untung sih rada kebal lah sama sindiran emak-emak se RT, paling emak saya belain: ‘‘ can datang jodohna, keu geh wayahna datang’ —belum dapat jodohnya, entar juga kalau udah waktunya bakal datang– emak saya ga pusing anak perempuannya belum menikah kalau dianggap masih muda, toh belum nyampe angka 30-an ini, nyuruh saya nikmatin hidup, rasain dunia kerja. Karena mungkin beliau tipe yang nyesal ga lewatin masa itu, dulu disuruh nikah muda sama kakek.

Selang tidak berapa lama si tetangga, hamil, kemudian melahirkan. Oh ya dia berusia sekitaran belasan tahun. Secara mental dia belum siap jadi seorang ibu, anaknya dari bayi di urus ibunya, dan dia masih tetap berlaku sesuai dengan usia remajanya, karena alasan, takut dosa, orangtuanya menikahkan anaknya yang masih umur-umur anak SMP waktu itu. Entahlah apa menikahkan itu solusi terakhir ya? menikah muda sama menikah dini-karena memalsukan usianya juga-.-*, dan anak ini masuk kategori menikah dini hanya karena orangtuanya takut anak berbuat zina karena pacaran? Ketika anaknya si tetangga ini berusia setahunan, dia pun bercerai. yang salah siapa? si tetangga ini ?orangtuanya? nasip anak balitanya? lihatnya suka kasihan sendiri kadang. Lingkungan yang negatif, anak balita bicara kasar, ga ada yang mengajarkan tentang adab yang baik. İbunya sibuk jatuh cinta lagi.

menikah kemudaan

Hargai keputusan orang

Saya mencoba menghargai pilihan tiap orang, ada teman yang tidak berniat memiliki anak, ya itu hak mereka. Ada teman yang menunda untuk memiliki anak fokus dulu dalam karier. Ada yang cuma pengen punya anak satu, Ya itu keputusan mereka, Ga usah lah ditambah-tambahin pertanyaan: kapan punya anak-lagi-? karena bisa jadi si teman yang menunda, sedang mempersiapkan diri untuk ‘jadi orangtua’.

Siap mental

İya ini menurut saya, kalau kita siap secara mental, banyak dukungan, dan tahu akan menjadi orangtua seperti apa, bisa meminimalisir keluhan ketika dihadapkan kondisi ga seusai harapan, tiba-tiba harus pindah jauh dari orangtua, berdua saja sama suami, Mertua juga hidup berjauhan, hamil, melahirkan hanya bergantung ke suami. Padahal berharap bisa didampingi ibu, dibantu kakak, dijenguk keluarga besar. Karena kondisi dan keadaan semua harus diurus sendiri. Capek? bohong lah kalau bilang: gak capek. Tapi ketika tahu akan menghadapi situasi seperti itu, bisa loh kita merencanakan dengan baik. Harus ada kerjasama dengan calon bapaknya, menyiapkan mental berdua. Ngurus anak bukan urusan ibunya seorang, peran bapaknya juga harus seimbang.

Banyak anak, Banyak rezeki?

Dalam kondisi apa dulu? kalau kriteria ‘belum siap jadi orang tua’ ilmu parenting tambal sulam, pokoknya lahiran terus, rezeki sudah diatur? Berpasrah gitu aja? tanpa usaha? usaha seadanya? saya salut aja sama orang yang memutuskan memiliki banyak keturunan, jika bisa mendidik dan merawatnya dengan benar, karena pernah juga melihat kondisi bertolak belakang, banyak anak tapi ga keurus, duh liatnya juga kasian. Ada yang bisa merawat, mendidik nya dengan baik, kerjasama ayah dan ibunya patut diacungi jempol, bahkan anak-anaknya berprestasi-menurut saya mereka tipe orang yang emang ‘siap jadi orangtua’ Tapi berapa banyak tipe manusia seperti ini.

banyak anak banyak rezeki
siapin fisik dan mental itu penting loh..

Ketika berusaha tapi belum juga dikasih keturunan?

Ngurus anak memang capek! iya saya akuin sendiri, berasa jadi zombie ketika banyak begadang. Disatu sisi ada juga yang masih menanti akan karunia diberi keturunan,ikhtiar dengan berbagai cara. Padahal secara finansial mereka merasa sudah cukup mapan dan bisa untuk mencukupi kebutuhan anak? Tapi buah hati tidak kunjung hadir. Apa yang salah? Apa Tuhan tidak adil? Padahal banyak kasus di zaman sekarang, bayi dibuang orangtuanya, ditelantarkan, kasus-kasus seperti ini semakin merebak. Lalu yang ikhtiar kesana kemari sampai habis ratusan juta tidak kunjung membuahkan hasil.

Manusia itu punya ‘masa’nya sendiri, ketika si A menikah ga lama langsung hamil, ketika si B menikah butuh bertahun tahun ikhtiar baru dikaruniai keturunan, entah berapa banyak uang yang dia keluarkan, berapa banyak sedekah, ibadahnya untuk mengetuk pintu langit memohon dikaruniakan keturunan.

Lalu ketika saya mendapat curhatan teman-teman yang belum memiliki keturunan, hei..teman, tetaplah berprasangka baik kepada Allah, Ada saatnya nanti ‘masa’ itu tiba, jangan lelah berdoa dan ikhtiar.

9 tips menyapih anak

Stop lah nanya-nanya

Saya sebisa mungkin ‘menjaga’ perkataan ke teman menanyakan tentang anak, kenapa belum punya anak? kenapa ga nambah anak lagi?—mending doain aja kalau si teman belum punya anak. Jangan nambah-nambahin komentar sok menasehati tapi ujungnya menggurui. ” mungkin posisinya salah???” ” saya loh sekali langsung jadi::” apaaaa…****

Saya tuh pernah di posisi- capek ladenin pertanyaan-kapan punya anak, kapan hamil?? dan yang nanya tentu saja pihak keluarga di kampung sana, saya baru dikarunia keturunan setelah 1 tahun usia pernikahan, ga menunda juga, tapi rezeki disaat yang tepat, ketika kami berdua merasa sudah siap secara mental, menikmati setahun kebersamaan untuk lebih saling mengenal dan menguatkan.

Menjadi orangtua itu capek secara fisik dan emosi, suer loh, ada tingkatan depresi juga kalau peran ibu kurang mendapat dukungan pasangan, kelelahan secara fisik. Seakan tanggung jawab ngurus anak hanya di pundak ibu saja.

Menyiapkan diri secara mental, meski belum hadirnya keturunan, ga salah loh ikut ikut kelas parenting, seminar gitu, sambil ikhtiar juga. Afirmasi positif, jauhin saja lingkungan penuh toxic, Baca-baca berbagai artikel tentang ngurus anak. Berdua, iya berdua sama pasangan. Karena menjadi orang tua kan berdua, yang melahirkan memang pihak ibu, yang bantu merawat, peran bapaknya juga penting. Biar kalau lelah jadi lillah, ditanggung berdua, Dan saya yakin menikmati sekali proses ngurus anak sampai besar, biar moment indah berbagi amanat menjadi orangtua. Rasa capek pun terasa nikmat. Seperti sebuah pencapaian tertinggi ngalah-ngalahin jadi juara lomba nyanyi agustusan gitu:V eh iya loh..seharian berjibaku ngurus anak, tidur aja penuh drama , kadang ga bisa diam, eh disatu waktu anak-anak tidur cepat, rasanya tuh huahhhhh bernafas lega bisa berduaan dengan suami, secangkir minuman hangat sambil nonton film di netflix gitu aja, udah alhamdulilah, iya iya saya ngerti kalau ada yang bilang, tunggu deh nanti kalau udah besar pasti kangen masa-masa seperti ini…,

4 alasan menikah

Saya sedang menjalani masa-masa sekarang , masa masih berjuang ngurus balita dan calon anak SD tahun ini, kami mengurus mereka hampir 80 persen berdua, sisanya 20 persen di bantu pas mudik, ada yang bantu ngasuh. Lelah? Oh pasti ada masa nya, sebanding juga sama rasa syukurnya. Jadi tanya dulu sama diri sendiri? terkhusus manten anyar: yakin beneran siap punya anak? apa karena ditanyai terus? terkhusus yang udah berumur pernikahannya ehmmm.. yakin siap nambah lagi?? silahkan loh berbagi cerita dan opini juga di komen:)