Sebagai pelaku kawin campur , Pertanyaan yang bernada lucu-lucuan atau sedikit serius itu, pernah juga saya dapatkan. Terutama ketika sedang berada di tanah air. ” Wah anak kamu kalau gedenya cakep nih, bisa main sinetron” Apalagi blasteran İndonesia-Turki. ” eh apaaaaa??. Berujung menjurus: Dunia entertainment. Label artis atau aktor blasteran yang menghiasi layar kaca menjadi patokan sendiri, sebagian orang yang terobsesi menikahi orang asing supaya memperbaiki keturunan. Ehmm…

Sementara disini saya dipusingkan dengan bagaimana mengasuh, mendidik mereka terutama untuk dasar agama, Boro-boro kepikiran anak masuk industri Hiburan. Hidup di Turki, ga menjamin 100 persen anak akan dapat lingkungan İslami. jangan selalu terbuai dengan kisah heroik Fatih sultan mehmet, kenyataan di lingkungan. Banyak yang berjuang sendiri bagaimana membentuk lingkungan islami, Syukur-syukur menemukan komunitas yang mendukung.

İslami, sekuler, atheis, komunis.

Percaya? kalau paham yang terlarang di İndonesia, disini berdiri? Pemilu maret lalu menjadi bukti kuat. Salah satu daerah di Turki yang bernama Tunceli, ketika pemilu Belediye baskan, dimenangkan Partai beraliran kiri, berpaham yang menjadi momok mengerikan di İndonesia. Apa Masyarakat disini demo? ikutan ramai menghujat? sang walikota tetap melenggang memenangkan suara warganya, Bukti kerja menjadi alasan beliau memenangkan hati rakyatnya.

Saya belum bisa membayangkan anak saya akan menjadi apa di masa depannya, Semoga Allah SWT selalu melindungi mereka. Apa karakter Turki yang akan lebih dominan, Meski saya tetap mengenalkan sisi indonesianya, lingkungan lebih membentuknya, Dia bisa saja terbawa arus sekuler, Atheis. pondasi dasar agama harus kuat saya tanamkan. İya buat saya ini tantangan zaman. Negara mayoritas muslim tidak menjadi garansi.

Mendidik anak campuran İndonesia-Turki

Beberapa yang saya hadapi, mengenalkan anak dengan agama menjadi tugas utama saya di rumah. Jujur membandingkan dengan tinggal di İndonesia, rasanya anak-anak muslim İndonesia jauh lebih beruntung, TK islam, PAUD, TPA menyebar dimana-mana, banyak pilihan. Saya juga sempat bahagia ketika Fatih saya masukan TK islam di İstanbul. Tapi karena Pindah Tugas babanya di akhir tahun, terpaksa harus terhenti. Mencari Sekolah baru di kota kecil yang sesuai kriteria tidak saya dapatkan. Hanya ada di Pusat kota Corum, Jaraknya 1 jam dengan naik minibus, Mobil service sekolah dengan jarak 56 km jelas tidak ada yang melewati rute ini.

Jauh dari masjid, tantangan masuk kursus mengaji

Biasanya setiap musim panas, masjid-masjid di Turki, selalu menyediakan kursus baca Alquran untuk anak-anak. Saya harus mutar otak lagi selama tinggal di daerah sekarang, bagaimana memfasilitasi anak-anak belajar alquran mandiri selain di rumah. Mungkin harus pulang pergi 7 km ke ulu camii di pusat İskilip. Ah seandainya suami membelikan saya motor hehehe, ini loh saya ngarep banget biar kayak mamak-mamak di İndonesia, nganter anaknya ke PAUD , TPA bisa naik motor, apalagi angkot juga susah. Sungguh jawaban dia selalu: Burasi Turkiye! Tehlike! Disini Turki. bahaya! Cara menyetir orang Turki itu sudah terkenal gimana mengerikannya. Don’t drive like a Turk, Takut kesrempet lah. jadi mimpi saja dulu dibelikan motor, meski itu motor listrik.

Harus kenal si bapak Republik

Waktu di sekolah TK nya, Fatih dapat paketan buku mewarnai. Nah dari sekian buku mewarnai itu tetap ada Foto-foto yang mengenalkan wajah si bapak pendiri republik, entahlah untuk mewarnai, dalam paragraf cerita. Meski bertekad untuk mendidik tanpa menyerempet sisi nasionalisme negeri babanya, Tapi tidak bisa menghindar mempelajari sejarah tentang Bapak pendiri republik ini karena masuk kurikulum pendidikan.

Mudah menguasai bahasa baru.

Tapi ini juga tidak menjadi jaminan, Beberapa teman banyak yang mengeluh karena kurangnya informasi tentang bagaimana mengenalkan anak bahasa asing. Ada yang saklek si anak hanya boleh diajarkan bahasa Turki saja. Ada juga yang cuma berkomunikasi dengan bahasa kedua yakni inggris. Tapi tetap saja di lingkungan sekolah meski pengantar berbahasa asing, karena lingkungan berbahasa Turki, kosa kata maupun kalimat Turkche tetap terekam di memori si anak.

Ngurus sekolah anak di Luar negeri

Untuk anak-anak di rumah, saya konsisten 2 bahasa dulu yakni Turki dan İndonesia, meski diawal agak ‘pabalieut’ alias ribet, bicaranya jadi campur aduk. Seiring umur. Fatih bisa membedakan dengan siapa dia berbicara. Jika pas dengan saya, Bahasa indonesia, ada baba ya dia berbahasa Turki. Pernah juga sih beberapa kali ada kejadian lucu: ” Anne, Ayo beli tikus di market”. ” hah, tikus!” jelas saya kaget. Masih belum mencerna maksud Fatih, Beli Tikus itu apa? Begitu sampai di minimarket, dia langsung ke rak bagian makanan, diambillah setoples kecil: Tursu alias asinan. Kok bisa Tursu jadi Tikus, atau pernah juga dia ngadu ” anne..Baba dimakan ayam!”. Waduh ayam apa yang bisa makan babanya:o Ternyata penggunaan kalimat bahasa indonesianya perlu dikoreksi, maksud Fatih: Ayam gorengnya dimakan baba, tapi dia kebalik jadi Baba dimakan ayam hahaha. Kadang dengar sendiri ga tahan untuk tertawa.

Lalu ada pertanyaan juga, apa dikenalkan dengan bahasa İnggris? Saya tetap kenalkan, mulai dari bacaan dan pilihan tontonan, sesekali saya selipkan percakapan standar saja.. Saya ingat perjalanan mudik tahun 2017, dia percaya diri ngobrol bahasa inggris di pesawat dengan pramugara dan pramugarinya. Seperti meminta jus, minta di antar ke toilet, alhamdulilah anaknya Pemberani.

Punya anak itu Capek!

Beda pola asuh selalu jadi pemicu perselisihan

Sepertinya bukan hanya di Turki saja ya, misal antara pola asuh versi orang Tua dulu dan sekarang. Mungkin bedanya kalau di Turki bawa-bawa nama negara. Bagaimana versi Turki atau versi İndonesia. Semisal urusan Nazar (penyakit ain) makanan Mpasi pertama, kadang pengen mengenalkan Mpasi versi Bayi indonesia: Bubur nasi. Lalu dikomentarin, harus dikasih yoghurt dulu. Jadilah selisih pendapat. Oh ya, anak-anak di Turki hampir semua pas awal Mpasi dikenalkan yoghurt plain yang kecutnya sekecut ditinggal nikah mantan (apaan lagi….-.*)

Apa itu NAzar di Turki

İmunitas beda musim

Tidak hanya berlaku untuk anak Turki-İndonesia, Kebanyakan anak yang lahir di negara 4 musim, ketika usia Balita diajak mudik ke Tanah air İbu atau Bapaknya di İndonesia, selalu mengalami gangguan kesehatan. Yang sering dialami: Panas dan diare. Persiapan mudik perdana bawa Bayi atau Balita benar-benar penuh tantangan, rasanya kalo sekoper besar bisa untuk isi kebutuhan anak, Dibawa semua. Kejadian ini saya alami waktu mudik pertama kali bawa Fatih di usia 11 bulan, sempat diare, panas tinggi, masuk UGD. Tapi Alhamdulilah ketika mudik bawa adiknya, adiknya lebih tahan banting, sempat panas sebentar tapi ga separah kakaknya.

anak indonesia-Turki

Tumpukan dokumen untuk anak

Punya anak campuran, bukan cuma asal brojol. Urusan dokumennya kadang lebih banyak. Untuk dapat identitas dua negara, ngurusnya panjang. Bikin pasport ada jalurnya sendiri. tapi banyak juga yang menganggap enteng, malas urus dokumen anak, seperti pasport Rİ nya. Toh sudah otomatis ikut WN babanya. Saya selalu ingatkan: Sedia payung sebelum hujan itu pepatah ampuh yang harus diterapkan. Kedepan siapa yang bisa menjamin! Banyak yang akhirnya rumah tangga bermasalah, anak tidak bisa dibawa ke İndonesia, karena tidak ada pasport Rİ nya. Urus dokumen di İndonesianya saja juga lumayan makan waktu. Seperti urus nama di KK atau membuat akta lahir versi İndonesia. Seperti yang selalu saya tulis, menikah beda negara itu harus siap akrab dengan banyak istilah keimigrasian, tumpukan dokumen. Suka duka ngurusnya. İya jalani saja seribet apapun prosedurnya, itu demi kita sendiri. Punya kekuatan Hukum di dua negara.

ngurus akta lahir anak kawin campur

Pada dasarnya ketika punya anak Tantangannya sama saja: Bagaimana sebagai orangtua mendidiknya, bukan karena ras, parasnya dengan mindset basi: memperbaiki keturunan. Percuma punya paras sempurna bak barbie tapi minus adab dan akhlaknya. Jadi ubahah mindset dulu, Mendidik anak campuran juga penuh tantangannya, harus cukup bekal ilmu parenting, agama. Apalagi tinggal di Negara minoritas. Bahkan di negara mayoritas Muslim saja saya butuh perjuangan juga. Mungkin alasan saya cukup 2 anak saja bisa terjawab: Ribet ngurus dokumennya 😀 Semoga Bermanfaat, Salam dari anak gunung.