Teman Turki saya nge-WA ngundang main ke rumahnya, karena minggu lalu kita ga jadi ketemuan, anaknya sakit. Ya udah menuhin janji, saya datang ke rumahnya, meski dalam kondisi Batuk pilek, ketularan mak mertua, saya berkunjung ke Koy dan lupa cipika-cipiki, berakhir ketularan-.-‘ Meski menuhin janji datang ke rumah si teman, saya berusaha tetap jaga jarak terutama sama anak-anak.

Seperti biasa obrolan khas mamak-mamak Turki, ga beda jauh dengan obrolan kaum hawa lainnya jika berkumpul, hingga berujung obrolan sampai dengan curhatan si teman tentang mertuanya, Dia menantu asli Turki Btw.., Bercerita tentang problem dengan ipar, merasa tidak disukai keluarga suami? Lalu bertanya bagaimana dengan hubungan Mertua-menantu versi İndonesia? Nah masalahnya saya juga ga punya pengalaman pribadi dong, kalau nanya tentang karakter Mertua İndonesia, lah mertua saya kan orang Turki:D

cerita 3 minggu di rumah mertua

Ketika mertua berkunjunga ke rumah

KELUARGA TURKİ Yang penuh warna

Oh ya si teman ini, terbilang ibu muda, usianya 23 tahun. Dengan polosnya dia bilang. ”umur saya 23 tapi pikiran berasa 43 tahun karena pusing mikirin problem rumah tangga” dharrr. Minta saran? dalam kasus saya, punya ipar diatas 47 -57 tahunan, mereka udah ga kepo-kepo amat sama hidup kami, hubungan dengan mertua dan keluarganya bisa dibilang lempeng-lempeng aja meski tidak terlalu dekat semuanya. Saran saya tidak terlalu banyak, dia cuma butuh didengarkan saja sebenarnya, berhubung saya juga sedang batuk-pilek, hanya sesekali menimpali obrolannya.

Teman-teman galau

Lalu bercerita tentang si teman yang lain, yang sedang galau. Karena suaminya tipe ‘anak yang nurut banget emak’ dia sudah merasa ‘free’ ketika suaminya pindah dinas ke Pluto, jauh dari keluarga besar suami, mertua dan ipar-ipar. Tapi ‘titah’ mak mertuanya, yang ngarep mereka balik lagi ke kampung halamannya, meminta si anak ajuin pindah dinas lagi. Benar-benar membuat si teman galau, Ada kultur yang tidak bisa dia rombak, ada kekangan, tekanan. Sistem patriarki yang sangat dominan dalam lingkup keluarganya.

Kemudian Saya juga bercerita tentang beberapa nasip yabancı gelın (menantu asing) yang menikah dengan Pria Turki, banyak yang bernasip kurang baik, sulitnya penerimaan dari keluarga suami, ada banyak drama mertua vs menantu, Menyedihkan memang. Dan dia turut prihatin. Pİkirnya kenapa makin banyak Perempuan asing termasuk Perempuan İndonesia yang mau menikah dengan Pria Turki yang otomatis sepaket dengan keluarga besarnya, butuh extra kesabaran luar biasa. Perbedaan kultur.sistem patriarki yang masih kuat sekali, Dia pernah dengan jujur berandai-andai.

saya dulu bercita-cita ingin menikah dengan pria korea, bukan pria Turki” Ujarnya. ”tapi perjodohan dari orangtua, harus saya terima” Mengingat usianya 23 saya pikir memang dia masih masuk Zona generasi Turki era K-pop.

Kesimpulan dari obrolan sore itu dengannya, simpel aja: Kalau bisa jangan tinggal bareng atau tinggal dekat Mertua.., ternyata ada banyak teman tetangga di komplek ini yang merasakan ‘Kebebasan’ diajak tinggal di Pluto asal jauh dari para mertuanya hahaha. Karena setiap ada undangan nge-cay bareng, obrolan akan terus nyerempet bahas mertua, ampun deh yaaa.. Bahkan para menantu asli Turki sendiri mengeluhkan tipe tipe Mertua Turki-nya. Ya gitulah, hidup dimana aja, drama mertua-menantu berbagai versi pasti ketemu aja.