Apa yang paling sering menjadi perdebatan dalam pernikahan beda bangsa terkhusus bersuamikan pria Turki?
-Tentang status warga negara-
Pembahasan tentang tawaran atau ajakan suami untuk pindah warga negara ‘sering’ tiba-tiba muncul disaat dia pusing mikir ekonomi atau semakin ribetnya urus perpanjangan ikamet saat ini.
İsi curhatan di Grup WA seputar Goc idaresi (keimigrasian) yang tiap tahun ada saja penambahan aturan terbaru. Apalagi pertahun 2018 ini, biaya pengurusan izin tinggal untuk warga asing di Turki (selain berstatus pengungsi) mengikuti kurs dollar, biaya perpanjangn ikamet pun naik.
Kenapa ga pindah warga negara aja sih?
-İbarat lagi sayang-sayangnya sama pacar terus dipaksa putus-
Beraddddd**duhhh curhat.
Banyak pertimbangan secara pribadi, kenapa saya ‘belum’ tertarik untuk pindah warga negara, ya memang. Tiap orang punya alasan tersendiri memutuskan bertahan dengan status WNİ atau pindah warga negara, terutama yang bersuami atau pasangan warga negara asing.

Alasan belum tertarik pindah kewarganegaraan:

  1. Keluarga besar saya masih lengkap
  2.  Ada harta berupa tanah di kampung, masih menyimpan cita-cita membangun rumah di kampung halaman.
  3. Turki negara yang berstatus dekat dengan wilayah konflik (suriah-iran, irak dan timur tengah sana itu)
  4. Masih berharap bisa doublecitizen meski harapannya masih di php-in terus.
  5.  Cinta sama İndonesia masih lebih besar dari cinta ke Turki eaaaaaa prikitiwww.
  6. Punya pasport Turki belum ‘sesakti’ amerika, singapura atau jepang:P masuk uni eropa aja masih kudu mikir visa.
  7.  Saya tidak bisa memprediksi masa depan bahwa semua akan tetap baik-baik saja. (Perpisahan,kematian,peperangan)

-Tumpukan dokumen yang harus di lengkapi untuk mengurus izin tinggal memang sering membuat pihak sponsor (a.k.a suami tertjintah) pusing 10 keliling, kadang harus terpaksa izin kerja buat ngadep ke kantor goc,kalau ada dokumen yang dirasa kurang, Perpindahan manajemen keimigrasian dari emninyet ke Goc idaresi  masih belum sempurna kinerjanya, jadilah pertahun ada saja aturan-aturan  terbaru, semisal tadinya ga perlu dokumen diterjemahkan, tiba-tiba aturan baru keluar, dokumen harus diterjemahkan lagi dan di cap notaris..jreng! sibuk lah nyari kantor notaris.
Belum penambahan aturan untuk sponsor, misal sang suami bekerja mandiri, harus ada jaminan uang besar direkening, Tiap tahun aturan izin tinggal di Turki semakin diperketat terutama semenjak banyaknya Menampung warga pendatang dari negara konflik, dimana mereka ‘dibantu’ dengan dana negara, bebas pajak,dapat tunjangan. Sebagai pihak yang bersponsor warga lokal, jujur saja para sponsor ini  kerja keras bagai quda, karena pajak pun makin tinggi ditambah menghadapi situasi ekonomi Turki dengan inflasi tinggi seperti sekarang, maka makin jadi jadilah tawaran:
‘ pindah warga negara ya”
‘ duh..sejujurnya aku cinta kamu…,tapi…duhhh hayang ceurikkkk kalau mikir sepintas menyanyikan istiklal marsi bukan indonesia raya.
Lalu menghibur diri: ” hey Turki akan baik baik saja!! ‘

Kenapa masih bertahan dengan status WNİ padahal tinggal di negara suami

-Emang harus ya begitu menikah sama ‘bule bule-an’ otomatis pindah warga negara.
Balik lagi ke urusan: Hidup itu pilihan dan saya belum mau milih pindah:D
Pindah ke luar negeri bukan berarti otomatis berniat pindah warga negara.
 Untuk apa bertahan berstatus WNİ, liat tuh politiknya aja bikin puyeng, Hoax mulu, cebong vs kampret, korupsi. Banyak bencana, mending pindah Turki, presidennya itu…..,
-senyumin aja-
Nanti kalau dijelasin panjang lebar, wah kok ga bersyukur,pemimpinnya lebih bagus loh daripada si bapak itu, presiden kok dikendaliin emak-emak, eh mulai deh perang-.-‘
Pindah aja..ngapa sih, urus dokumen ribet, banyak pungli, korupsi. Uh gemayyyy.
Ehmmmm…
Bacapria Turki
Menikah di Turki
İndonesia itu…
Gimana ya…
Gimanapun keadaannya, kondisinya, kecewa dengan para aparaturnya…
gimana ya….
Cintanya sulit tergantikan.

promote what  you love instead of bashing what you hate

Baiklah seperti gini:

 
Lagi nulis blog dengan backsound kayak gini, gimana rasanya?
Keingetan obrolan dengan suami, keingat dengan tugas upacara di sekolah, kepilih jadi pasukan pengibar bendera merah putih, atau menang dalam lomba gerak jalan antar sekolah. Wuih bangganya gitu dulu..meski bukan sekelas anggota paskibraka di İstana merdeka.
Sampai detik ini saya belum berpikir untuk pindah, seperti alasan no 7, saya tidak bisa memprediksi masa depan .
Pada saatnya sebuah keputusan pasti harus diambil.
Berharap ada win-win solution. Rencana ingin mengajukan ikamet suresiz, İzin tinggal tanpa batas, bisa di ajukan setelah 8 tahun menetap di Turki dan dihitung hanya sebatas 120 hari keluar dari Turki (atau 180 hr-sorry lupa) berharap bisa mengajukan (karena pasti syaratnya pun akan lebih panjang) dan di approve Pemerintah Turki. Sejauh ini baru satu teman WNİ yang berhasil mendapatkan izin tinggal khusus ini.
Supaya saya senang, suami ga pusing,….
semangat teman teman İDNG ( indonesian diaspora network global) meski katanya ngurus dwi kewarganegaraan mental lagi di prolegnas DPR. Tahun depan pilpres mau optimis apa pesimis nih , apa ada harapan baru.
Kalau bisa dwikewarganegaraan tanpa pikir panjang ambil juga status WN Turkey, artinya punya dua kewarganegaraan-yang mana masih mimpi panjang-
Sedang sang sponsor kadang kurang sabar menanti…ishhh di php-in terus ditingkat dewan negara api sana.
Berhadapan kembali dengan urusan dokumen Goc idaresi…kudu banyak banyak berdoa, semoga sang sponsor tidak naik tensi…hehe.