Apa itu Pillow talk?–ngobrol sama bantal? eh bukan– Pillow talk ini istilah untuk obrolan dengan pasangan sebelum tidur, untuk mendekatkan secara emosi, biasa ngobrolin apa saja, ehm lalu seberapa penting melakukan obrolan ini? apa saja yang harus diobrolin? obrolan bebas, lebih intim.

Pillow talk versi keluargapanda

Yang biasa kami obrolin: sebenarnya obrolan sederhana saja, seperti dua hari lalu, tengah malam setelah anak-anak tertidur, saya buka chrome dan pasang model İncognito-Gunanya biar google ga kepo nyimpen data pencarian lalu memunculkan iklan setiap saya buka sosial media– Mulai membuka beberapa marketplace untuk mencari barang yang saya inginkan , begitu ketemu yang cocok, screenshoot dan kirim ke nomer WA suami, yang sedang rebahan di kamar. Kemudian saya masuk kamar, ambil bantal, memulai obrolan:

‘Harganya OK kan?”. ”pokoknya mau warna abu-abu, kalau kemahalan boleh lah ganti warna, itu alternatifnya juga dikirim, sudah lihat”. tanya saya.

”udaaaahhh”. jawab dia.

Ada yang bilang, perempuan itu makhluk yang sulit dimengerti? ehm kata siapa. Padahal daripada nebar kode dan pasangan kurang peka, mending to the point-saja. Seperti mengawali obrolan kami, saya sudah baik hati memberi masukan ke suami, untuk hadiah ulang tahun nanti, kalau mau memberi kejutan, sudah siapkan list beserta gambarnya dan kirim langsung ke nomer WA beliau. Obrolan ini diusahakan malam sebelum pasangan gajian--sungguh sebuah tips bermanfaat—.

Sebenarnya diatas hanya bagian kecil saja obrolan sebelum tidur, kadang juga ngobrol ga jelas, bisa tiba-tiba saya cerita tentang masa kecil, kenangan di masa kecil tentang pohon rambutan di belakang rumah yang ditebang, atau menceritakan aib-aib masa kecil, nama panggilan yang menyebalkan dari sepupu-sepupu, Dia juga menceritakan hal sama, keanehannnya dimasa kecil, kalau dia benci sekali melihat anak kecil berambut pirang atau merah kemudian bermata biru, lah kok aneh ya (bang pantesan dapatnya orang İndonesia hahahah..)

Oh ya, yang paling dia hindari obrolan sebelum tidur adalah bahas kerjaan. Obrolan harus membuat rileks bukan tegang, membuat rencana-rencana apa saja yang akan kita ambil dalam waktu dekat, terkadang membicarakan apa yang menjadi berita hangat di sosial media. Keinginan traveling naik doğa treni yang belum kesampaian, atau tiba-tiba dia nyeletuk ‘‘aku kok pengen çiğ kofte”. Obrolan disambung bahan apa saja untuk membuat çiğ kofte.

Menjaga komunikasi itu penting, ngobrol dengan teman terdekat, teman hidup, seorang teman yang akan menghabiskan waktu bersama sampai menua, jika teman hidupnya aja ga nyambung, membosankan efek nya: hubungan akan terasa hambar.

Kemudian saya teringat obrolan dengan dia dua minggu sebelumnya, kami sempat ngobrol selepas sarapan sambil menikmati çay, tentang alasan sebenarnya kenapa kami memutuskan menikah. ‘‘sana güveniyorum”-i trust you– kalimat itu yang saya ucapkan ke dia.

Secara finansial waktu itu belum terbilang mapan, sekarang juga masih tahap berjuang sih, hati kecil saya begitu yakin dengan dia, ‘‘ oh dia teman yang menyenangkan, merasa aman, bisa nyaman cerita apapun, saya butuh teman hidup, tidak sekadar pasangan berstatus suami guna melengkapi syarat ganti status di KTP ”.

Waktu masalah Blog juga sempat sedikit membuat suntuk, diam seharian, kepala berat, suami sempat mengatakan, ‘‘udah lah, cari hobby yang lain aja ”. Rasanya di’kecil’kan hobby sedikit menyentil, puasa ngomong, sempat adu argumen juga, terus ada kesepakatan. Berujung solusi. Saya peluk dan katakan ” maaf, udah kecipratan bete seharian” ya..ya, terus ngobrol lagi.

Rasanya mendiam-kan lama-lama ga betah juga, sempat juga saya telpon salah satu sahabat dekat, hanya satu yang saya punya di Turki, kenal sebelum menikah dan dia tahu saya banget-lah itu kenapa garis jodoh membawa kami ke Turki:V–Untuk sekadar teman kenal dan teman yang bisa dijadikan ‘tong sampah’ itu beda. Maksud saya diluar pasangan, saya tetap punya satu orang yang saya berikan kepercayaan untuk berbagi cerita, ga usah banyak-banyak, Rahasia semakin terjaga jika hanya segelintir orang yang tahu, jadi kalau ada kebocoran bisa langsung ketebak siapa sumbernya, makanya saya kurang cocok hanya lekat dalam satu kelompok pertemanan, suka menclak-menclok, Zona bebas, berteman kesana kemari.

Untuk siapa orang kepercayaan ini, tentu saja suami mengenalnya juga, jadi ketika dia melihat saya menelpon satu orang, dia menebak, istrinya lagi mau curhat tanpa mikirin grammar, vocab bahasa planet lain…, ‘‘loe tau kan..gue…” Bahasa yang sering kita gunakan dulu di Jakarta.

Menjaga komunikasi dalam pernikahan

Hitung-Pillow talk juga menjadi ritual buat kami untuk menjaga komunikasi, karena prinsip yang dijalani, sebelum beranjak tidur, punya rasa kecewa, amarah harus diselesaikan dulu, biar tidur ga hadap-hadapan punggung. Diawali meminta maaf duluan lepas siapa yang salah, kemudian meluruskan kesalahpahaman dan dilanjut obrolan santai, mulai dari rencana liburan yang entah kapan, piknik bahkan bahas promosi di market, kalau esok paginya akan pergi ke Çarsi. Kalau bahas politik takutnya mimpi buruk hahaha.

Kalau baca disebelah, pillow talk dikaitkan sebagai ritual penting setelah berhubungan intim..ehm gimana gimana? kayaknya enakan langsung tidur deh.

Tapi ya ini sih menurut keluargapanda: Pillow talk juga jadi salah satu sarana: Quality time sama pasangan, apalagi kalau sudah berbuntut, dan anak bungsu suka ngekorin kemana saja ibunya, ngobrol bebas lepas tanpa ada interupsi, disaat mereka tidur dan kami berdua terjaga sebelum beranjak tidur, bisa sambil main gaple,congklak..hahah ga gitu juga sih.

Setiap pasangan memiliki ladang ujiannya sendiri

Ya ini sudah pasti lah, ketika dihadapkan sebuah masalah, kami menghindari sekali pertengkaran dengan tensi tinggi, memilih salah satu menghindar dulu, menenangkan pikiran. Entah masuk kamar atau keluar rumah sebentar, Kemudian bertemu lagi dengan kondisi dan suasana hati yang lebih terkendali.

Obrolan dimulai, masing-masing mengeluarkan apa yang diinginkan sebenarnya, isi kepalanya tuh apa, biar bisa ambil jalan tengahnya, solusinya bagaimana? Apapun, ngeluh tentang sikap mertua misalkan, ga ada yang kita tutupi. Harus bagaimana?

pasangan romantis
bisa jadi teman ngobrol yang menyenangkan

Balik lagi ke awal memutuskan menerima ajakan menikah dengan lelaki ini, kenapa saya begitu nekad mengambil keputusan hanya modal saya jatuh hati dengan sikapnya, dengan adabnya memperlakukan orang lain. Klise banget ya. Dia mau mendengarkan masukan saya, ketika dia gagal ujian-nya sempat down, kemudian saya sarankan dia bertahan ambil keputusan, ambil pekerjaan apapun yang halal, saya kepikiran dihati kecil, ” wah bisa nih jadi partner hidup” bukan berarti seseorang yang bisa dikendalikan, dia manusia merdeka kok! dia menjadi dirinya sendiri dan dia tipe manusia yang masih mau mendengarkan saran dari orang lain, tidak terlalu keras kepala dengan prinsipnya.

Karena kunci pernikahan yang berdasar cinta, modal cinta tanpa komunikasi yang lancar bakal jadi penghambat perjalanan biduk rumah tangga, ini yang saya sadari betul ketika kepikiran ingin menikah, harus ketemu pasangan yang benar-benar enak diajak ngobrol, diskusi apapun, orang yang bisa mendengarkan dan juga memberi solusi, dan juga aksi nyata, seseorang yang adabnya lebih menonjol, iya saya tahu, suami saya masih jauh dari kata sempurna untuk urusan agama, tapi cara dia memperlakukan orang lain lebih dari cukup saya melihat seseorang yang mempraktekkan apa yang sebenarnya diajarkan dalam beragama.

Ya contoh simpelnya, dia paham latar belakang saya, tapi tidak ada tuntutan dalam urusan berbusana, saya ga terbiasa dengan busana feminim ala-ala hijaber, saya masih nyaman dengan gaya yang kata teman-teman ga pernah banyak berubah, casual malah selalu dinilai tomboy, warna juga itu itu aja, giliran menggunakan warna mencolok jadi pembahasan hahaha.

Baca: Tips melewati tahun pernikahan dengan pasangan asing

7 Resiko bersuamikan orang Turki

Anak campuran İndonesia-Turki ikut mahzab islam mana

Mengobrol apapun meski kondisi sesulit apapun yang sedang dihadapi, rasanya menjadi sumber kekuatan tersendiri, bahwa pilihan untuk hidup bersama bukan pilihan yang salah, terkadang saya kurang setuju ketika sebagian ilustrasi menggambarkan kondisi biduk rumah tangga bagai masuk ke kandang singa, terpasung dengan segala tuntutan dan kewajiban. Ya bisa saja kita menghindari kemungkinan seperti itu—kadang dijadikan konten seperti di tiktok-— memang sulit ketika sedang jatuh cinta, logika juga jungkir balik, meski pacar sudah menunjukan gejala buruk, marah dengan nada emosi tinggi atau keluar makian, dan masih memaafkan, karena rasa cinta yang teramat besar dan yakin bahwa akan datang masa dia berubah. Tapi yakin sih kesempatan untuk bertemu yang lebih baik itu sebenarnya ada, jangan memaksakan bertahan.

Karena hidup bersama dengan satu manusia itu-itu aja, kalau ngobrol sama pasangan aja ibarat Raja dan pelayan, rasa tertekan, ketidakpuasan akan selalu menyerang, boro boro pillow talk, bisa ngobrol normal tanpa ada piring melayang saja sebuah keajaiban. Ga mesti nyari pasangan berlatar belakang pernah jadi MC atau tukang orasi pas demo mahasiswa ya heheh. Kalau teman teman bagaimana, punya ritual quality time seperti apa selain pillow talk?