Hari ke-dua di İnebolu-Kastamonu, tujuan utama kami waktu itu adalah: Pantai, Hari pertama, kita keliling Carsi dan masuk kent muzesi İnebolu, Museum Kota, nanti saya tulis terpisah. Sebenarnya sepanjang garis pantai İnebolu, banyak pilihan Plaj (pantai khusus yang dibolehkan untuk berenang) Tapi karena sekitar İnebolu lebih banyak Pantai berbatu, rasanya kurang nyaman, kami mau cari Pantai berpasir. Pilihan pertama menuju ABana, jarak Abana-İnebolu 20 km, Selepas sarapan di penginapan, Jam sarapan dimulai pukul 8.10 Pagi, dari lantai 2, langsung menuju restoran dibawah, Tidak banyak pilihan selain sarapan standar Turki, ya kali saya pesan nasi goreng heheh, Menu sarapan juga sudah dihidangkan siap santap. Jadi tidak bisa memilih.

Menu sarapan dari Penginapan: deskripsi rasanya, silahkan bayangkan sendiri:)

Sebagaimana biasa sarapan ala Turki, tentu saja segelas cay panas itu jadi pendamping wajib, nah kalau Cay bisa refill sesuka hati, Kalau saya minum Cay, tunggu sedikit hangat baru diseruput, Kalau suami, Cay masih panas langsung srup..srupp, air masih panas dari termos juga langsung diminum. dia sudah cangkir ke-3, saya baru berani seruput cay nya pelan-pelan, takut panas.

Selepas sarapan, langsung masuk lagi ke kamar dan bersiap-siap untuk pergi ke Pantai, suami cek google maps. Yang saya fokuskan kebutuhan anak-anak selama di Pantai, minta suami untuk beli POgaca di Carsi juga, buat bekal, biasa selepas berenang pasti lapar. Tak lupa krim pelindung matahari, terutama buat suami, diakalau kena panas matahari langsung, sering kulitnya memerah dan perih. Tapi hobbynya berjemur setiap ke pantai. Ampun, udah tahu kulit sensitif tapi sering nekad.

Perjalanan menuju Abana.

Sekitar jam 9 pagi kami meluncur menuju Abana, si Fatih yang kangen Pantai, dulu sering kami ajak dia kepinggir laut di İstanbul, serasa lepas kangen, beberapa kali dia mengatakan: ‘‘ anne , kayak di Pendik ya’‘ sambil lihat laut. Dia lebih menyukai suasana pinggir laut daripada Pegunungan. Nah perjalanan ke Abana ini, sepanjang jalan disuguhkan pemandangan cantik, begitu mendekati Abana, suami tidak berhenti di Abana Carsi, malah bilang. Nemu lokasi Plaj yang bagus sekitar 5 km dari pusat ABana-nya, jadilah perjalanan dilanjutkan, tapi dia juga lupa bilang nama Plaj nya, tahu-tahu ke bablasan hahah, dan jalanan yang kecil, sulit putar balik, malah lanjut ke Çatazeytin, padahal tidak direncanakan, tujuan sebenarnya Abana, karena melihat papan penunjuk Çatalzeytin 17 KM lagi, pikir kami, Ah ga jauh lah nanggung. Apalagi Pantai di daerah Çatalzeytin terkenal cantik, Hasil pencarian hastagh di İnstagram.

Perjalanan ke Çatalzeytin

17 Km sebenarnya tidak begitu jauh, andai jalanannya lurus saja, ini pertamakalinya buat kami berkunjung ke area ini, dan jalanannya curam, jujur sepanjang jalan saya cukup tegang dan tidak berhenti berdoa memohon keselamatan, tidak lupa kencangkan sabuk pengaman.Phiuhhh. Saya tahunya jalanan ke Puncak-Sukabumi berkelok-kelok tapi masih merasa aman, arah ke Çatalzeytin, udahlah berkelok-kelok dan banyak tikungan tajam, langsung pinggirnya jurang. Awalnya suami agak sedikit ragu untuk lanjut tapi nyari tempat buat putar balik juga rada susah ..Bismillah aja lanjut.

jalan menuju Çatalzeytin, medannya cukup sulit, harus naik turun tanjakan, tikungan tajam, meski disuguhkan pemandangan cantik sepanjang jalan

Dan begitu menemukan jalanan menurun dan masih berkelok lagi tapi ada tulisan Çatalzeytin , rasanya udah mau sujud syukur aja nyampe, perjalanan cukup tegang, apalagi suami belum banyak pengalaman mengemudi, Bisa dibilang nekad dan uji nyali. Tadinya mau lanjut juga ke pusat kota Çatalzeytin, tapi ketika dari kejauhan bisa melihat jalanan berkelok dan nanjak lagi ke atas, engga deh! Sudah ketemu Pantai Cantik duluan, Namanya Ginolu Plajı- diawal masuk daerah ÇatalZeytin. Langsung memutuskan berbelok menuju Pantai Ginolu.

ini ada versi video drone ginolu koyu nya, saya blm sempat upload di youtube channel. Jadi bisa kebayang perjalanan kami menuju lokasinya ini, melewati gunung.

Dan hasilnya terbayar juga, Pantai dan pemandangan Ginolu koyu cukup memanjakan mata

Pantai Gratis Bayramoglu, dekat dari İstanbul

Ginolu Plaj, masuk Pantai gratis, jika mau duduk di bangku,hanya sewa 20 lira perkursi
Pemandangan dari atas Benteng

Tips untuk Traveller di İstanbul

Ginolu koyu Plaj

Alam di daerah pesisir laut hitam memang cukup cantik, Saya selalu mengagumi beberapa daerah Turki khususnya karadeniz (blacksea) hijau dengan rimbunnya Pohon, ehm seandainya dipinggiran pantai banyak pohon kelapa, yah jadi ngayal pantai Tropis heheh, Laut hitam termasuk daerah dingin, apalagi seberang laut hitam ini langsung daerah eropa Timur, Rusia, Ukraina, Georgia. Jadi ya jangan ngayal ketinggian ketemu yang jual es kelapa degan sama mie rebus dipinggir jalan, dikira ke Anyer-.-

Kejadian tak terduga di Pantai

Di pembuka saya sudah tulis, Sebelum ke Pantai, saya fokus ke kebutuhan anak-anak dulu, takut ada yang ketinggalan di Penginapan,dan saya melupakan sang komando Keluarga hahaha, Apa yang saya lupakan? daleman buat ganti nya upps.., Saya sampai dobel bawa baju ganti anak, sedang kebutuhan Babanya ketinggalan semua di Kamar, Dia asal nyebur, pakai celana setengah lutut tapi saya lupa bawa ganti dalemannya heheh, nah kepaksa pas balik ke İnebolu ya gitu itu, mukanya agak kecut, udah kasih tampang melas dulu takut kena omel, untungnya ga sempet ngomel, cuma kayaknya dia ga nyaman:D emang ya kadang fokus emak-emak anak dulu diprioritaskan sampai lupa bapaknya.

Yang terlihat İndah belum tentu sebenarnya İndah

İni udah semacam foto menipu dari kejauhan, jadi sebagaimana pecitraan di sosial media, dari kejauhan pantai ini cukup cantik, terutama pantai di foto ke tiga, karena letaknya agak jauh sedikit dari pantai berpasir, LOkasinya agak tertutup, harus nanjak dulu kemudian turun lagi kebawah, dari atas warna biru turqoise nya cukup cantik, bagus untuk objek foto

ketika turun ke bawah dan duduk di pinggir pantai

OK yang saya lingkari itu adalah: SAMPAH! sayang sekali, pantai cantik di kotori pengunjungnya, saya banyak menemukan bekas diapers anak yang dilipet dan diselapkan di bebatuan, warnanya putih jadi dari kejauhan berkamuflase diantara bebatuan, begitu mendekat, Ya Allah, Tuh emak-emak kayak gimana sih bentuknya, Jorok! dirumah aja bersih, kelakuan ditempat umum, ampun. Padahal di jalanan atas sebelum turun ke Pantai ada tempat sampah yang disediakan pemerintah lokal, ga sulit loh ya! cuma tinggal bawa sebentar ketika pulang dan tinggal lempar masuk ke tong sampah, Semudah itu bukan!* Mental sebagian orang Turki itu sebenarnya ga jauh beda sama sebagian orang İndonesia, masih pada bandel buang sampah suka sembarangan, kalau rumahnya memang terkenal cinta kebersihan, sampai lalat aja bisa kepleset nempel di kaca istilahnya, tapi soal urusan buang sampah di tempat umum masih pada bandel juga, terutama kulit kuaci. Dulu suami pernah negur orang ‘kemproh’ gitu di Pinggir Sahil İstanbul, Tahu apa yang dikatakan orang tersebut: ” kita bayar pajak juga buat gaji petugas kebersihan, ya sudah kerjaan mereka, bersihin sampah’ Sambil tetap asyik makan kuaci. Rasanya tuh pengen menenggelamkan dia di Tempat pembuang Akhir Sampah, orang macam ini. Sayang kan tempat cantik gini di kotori orang orang ga bertanggung jawab.

Bisa baca ini juga:

Lİburan dan Sampah di pantai?

Kami berenang dari jam 10 sampai jam 12 siang, begitu mulai banyak mobil berdatangan, langsung memutuskan acara main di pantai selesai, apalagi anak-anak kedinginan, waktu itu cuaca cukup berangin. Menuju toilet dan tempat membilas, kami dihadapi kesulitan menangani Fatih dan Alya, yang ga mau kena air dingin..ampun! Baba nya bolak balik ngebilas Fatih dan Alya di shower yang hanya menyediakan air dingin, dengan paksaan. Terbiasa mandi dengan air hangat, ketemu air dingin, kaget semua.

Sengaja menghindari keramaian, karena jalan jalan dadakan ini masih dalam masa Pandemi Corona, hampir 2 tahun belum melihat laut lagi, yang awalnya Suami mengatakan tidak akan mengunjungi Pantai, kemudian malah mendadak ngajak kami liburan 4 hari ke Kastamonu. Pikir dia, Kastamonu masih relatif aman dari Kasus Covid dibanding datang ke Pantai daerah Samsun, yang sebenarnya jarak Kotanya lebih dekat dari Pluto. Apalagi saya sempat bertukar pesan WA dengan teman di Samsun, dia juga tidak menyarankan kunjungan, Kota ini Sempat masuk Zona merah kasus Covid di Turki, Jadi kami cari aman saja, Cari Pantai yang sepi pengunjung.

Sepulang dari Ginolu, kami Baru mampir ABana di arah jalan pulang ke Penginapan di İnebolu, karena jam makan siang juga, sekalian cari restoran. Tidak banyak pilihan selain menu standar Kebab, Harusnya mumpung jalan ke Pantai, makan seafood gitu ya, tapi musim İkan belum datang, Menu serba İkan masih kosong, Jika ada,harganya sedikit lebih mahal. Karadeniz terkenal sebagai daerah penghasil İkan di Turki, setiap memasuki Musim dingin, menu makanan Orang Turki akan beralih ke İkan, terutama Hamsı. Bulan agustus belum masuk musim ikan. Jadi mampir Abana untuk makan Kebab juga. Kemudian berjalan-jalan sebentar di Abana

pusat kota Abana

Tidak sempat menjelajahi kota Abana,karena tujuan utama memang hanya untuk mampir cari makan siang, lalu berjalan jalan sebentar di Carsi-nya. kota kecil dipinggir Pantai, cocok untuk kota Pensiunan, karena sepanjang jalan, banyak dibangun unit apartemen baru ditawarkan, sepanjang abana saya lebih sering melihat pasangan Manula, sedang duduk di cafe pinggir jalan, atau bersantai di balkon rumahnya, Mungkin bisa jadi pilihan menikmati masa tua di kota kecil jauh dari keramaian.