Categories
BPNChallange2019

Perlu kah anak dibelikan Baju lebaran?

Hari Raya atau lebaran selalu identik dengan baju lebaran. Saya ingat sekali, di masa kecil ketika bapak saya membelikan baju lebaran, biasanya 2 baju. Untuk lebaran hari pertama dan kedua. Saya senangnya bukan main. Tidak lupa setelah dibelikan baju lebaran , saya datang ke rumah teman, yang kebetulan tetangga sebelah, mengabarkan kalau saya barusaja punya baju lebaran, sengaja saya pamer, iya pamer…, dan si teman datang kemudian memuji, ”wah ada kantongnya ya, wah ada tasnya juga” pokoknya saat itu kalau punya baju lebaran terus pamer ke teman rasa bangganya bukan main, begitu juga ketika si teman dapat giliran dibelikan baju oleh orangtuanya, tak lama pasti langsung datang ke rumah untuk mengajak saya melihat baju lebaran yang baru dibelikan İbunya di Pasar. İni salah satu kenangan di masa kecil saya. Lalu ketika sekarang sudah punya anak 2, apa kebiasaan membelikan baju lebaran diturunkan?

Membelikan baju lebaran perlu atau tidak?

Ketika menikah dan memiliki dua anak, ternyata saya tidak serta merta menurunkan tradisi membelikan baju lebaran ke anak, ini karena saran dari suami, sebagai babanya, Dia tidak membiasakan anak-anak ‘harus’ memakai baju baru di hari raya. Mungkin juga karena İbunya si Baba yang juga tidak membiasakan anak dengan tradisi baju lebaran, jika masih ada baju baru yang di beli sebulan atau dua bulan sebelumnya, ya pakai saja itu. Tanpa harus menunggu moment hari raya.

Karena Kebiasaan orang di negara 4 musim, ketika ganti musim apalagi musim panas, membeli baju baru seperti hal biasa, bisa saja karena baju anak sudah terlalu kekecilan, karena memakai baju tersebut tidak bisa sepanjang tahun, misal dress untuk anak perempuan, dibeli ketika musim panas setahun sebelumnya, begitu dipakai tahun depan di musim panas, ternyata sudah kekecilan, karena anak-anak tumbuh dengan cepat. Kadang kami sudah membelikan baju untuk musim panas sebulan sebelumnya, baju yang layak dan masih tergolong baru, Begitu hari raya, ya pakai saja baju yang ada, Apalagi Hari Raya biasanya jatuh di Musim panas, kalau sudah masuk musim dingin, jarang dipakai atau bahkan sama sekali tidak terpakai lagi.

Membeli baju baru karena butuh

Untuk menekan gaya konsumtif emang susah susah gampang, tapi saya dan suami selalu berusaha mencoba, termasuk mengajarkan ke anak-anak, seperti halnya moment hari Raya yang mesti tidak harus identik dengan baju baru. Memberi pengertian ke mereka tentang Makna hari Raya saja. Baju baru bisa dibeli kapan-kapan, Dan hasilnya terutama Fatih, dia santai aja pakai baju biasa di hari Raya, asal masih rapih, bagus. Karena kami sendiri seringnya memakai pakaian yang ada, yang masih bagus dan emang seringnya dipakai di acara tertentu.

Keputusan beli atau tidaknya baju lebaran bagi saya tergantung kebutuhan, Lebaran yang dulu selalu identik dengan baju lebaran, sekarang mulai bergeser maknanya, Bagi saya dan suami, moment lebaran semenjak menikah, adalah momen kebersamaan, bisa kumpul keluarga, İstirahat. Bukan masalah apa yang dikenakan harus serba baru.

Teman-teman masih beli baju lebaran?

4 replies on “Perlu kah anak dibelikan Baju lebaran?”

wah alhamdulilah si dedeknya seneng pasti, kyk saya dulu..paling dinanti2 baju lebaran:D tp skrg saya jd ngikutin gaya suami krn suasana lebarannya jg ga semeriah indonesia, hawanya biasa aja:D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *