Berita kekerasan terhadap anak hampir setiap hari muncul di media, sebagai orangtua baca berita tentang kekerasan, pelecehan anak sudah cukup membuat pusing dan jadi banyak-banyak İstighfar, semoga anak-anak saya dijauhkan dari orang-orang Bejat seperti itu.Amien. Tugas jadi orangtua jelas lebih berat di zaman sekarang. Duh buat yang ngebet pengen buru-buru nikah, apalagi sama orang asing, beneran jangan cuma modal cinta, butuh banyak belajar lagi tentang parenting, pola pendidikan beda bangsa saja kadang jadi pemicu perselisihan dalam keluarga. Kekhawatiran kami sebagai orangtua tentu saja beralasan, melihat lingkungan pergaulan yang semakin rusak, apalagi Suami awal bertugas di Lapas Anak, yang membuat tingkat stressnya cukup tinggi, pernah diawal-awal bekerja, ada anak yang mencoba bunuh diri, waktu itu kebetulan dia sedang off, bagian shif temannya. Cukup membuat masalah.

Lalu ada juga cerita tentang Pasangan anak incest-.-‘ saya mendengar cerita dia cukup syokkk. Adik-kakak, karena rumah kecil, mereka tidur satu kamar meski ranjang terpisah, namun apa yang terjadi? sampai akhirnya keduanya ‘jatuh cinta’ melakukan hubungan badan dan si adiknya hamil:S si kakak masuk penjara anak, terus orangtuanya sama adiknya yang hamil menjenguk-.-‘ untuk kasus si kakak masuk penjaranya saya kurang paham, tapi seakan dianggap biasa, Ya Allah. Belum lagi anak-anak yang terjerat barang haram lainnya, di İstanbul cukup banyak, dan rata-rata justru dari kalangan orang berada, dia sampai hafal merk-merk mobil penjenguk anak-anak ini. rata-rata kalangan orang kaya yang rumahnya di kolong jembatan Bhosporus. Berbagai kasus lainnya yang dilakukan anak-anak ini cukup membuat Suami protektif sama anak-anak, diawal saya hamil, dia dengan jujur mengungkapkan ketakutannya tidak bisa mengurus dan mendidik anak. Melihat dan mengurus anak-anak bermasalah cukup membuat dia mencanangkan : Ga mau punya anak banyak-banyak heheh.

Selain pernah ngurus anak bermasalah, mendorong dia untuk banyak belajar lagi, salah satunya pernah ikut workshop tentang anak-anak, perlindungan hukum anak dll atas kerjasama Turki-Uni eropa, meski itu tugas kantor tapi jadi membawa efek banyak dalam pengasuhan anak sendiri. Ditambah Hobby bacanya baik fiksi maupun jenis buku yang sesuai minatnya, salah satunya buku psikologi pun dia baca, menyumbang pola pikir Suami dalam merencanakan pendidikan untuk anak-anak. Dan beberapa saya bagi, bagaimana kami yang sebenarnya masih jauh dari ‘sempurna’ menerapkan pola asuh, comot sana sini ilmu parenting yang sesuai anak-anak aja.

Lingkungan

Alasan lain ketika memutuskan untuk pindah dinas dari İstanbul, selain karena faktor ekonomi, ya jujur saja kan, Hidup di Kota besar itu sulit. Adalah memilih lingkungan kondusif untuk anak tumbuh besar. Lingkungan yang masih asri, jauh dari polusi juga pertimbangan baik, meminimalisir pengaruh negatif lainnya.

baca:

my first Born: FATİH

Ketika berganti peran menjadi orangtua

punya anak itu capek?

kontrol emosi, amanah dan ujian dalam anak-anak.

Suami selalu menekankan saya untuk ini, kadang sebagai ibu, saya juga suka lepas kontrol kalau terlalu lelah, ngoceh-ngoceh sebentar ya pasti pernah, tapi jika ada babanya. Selalu kena tegur untuk berusaha menata kata, teriakan,atau kata-kata kasar jangan diulang lagi. Untuk masalah ini ada kerjasama dengan suami, jika saya terlihat lelah. Minta istirahat sebentar di kamar, kamar saya kunci:D karena pasti si kecil akan gangguin terus, ga rela banget kalau saya tidur siang. Menenangkan diri agar bisa kontrol emosi terhadap anak-anak. Kesamaan saya dan suami. Punya bapak yang sama-sama galak dimasanya, jadi cukup membekas ternyata dalam ingatan kami, sehingga kedekatan antara ayah sama anak tidak begitu kuat. Dan suami berjanji sama dirisendiri, tidak akan mengulang hal sama seperti yang kami alami dimasa kecil.

Jadi sahabat pertama

Buat dia, kedekatan emosi dengan anak-anak itu penting, anak-anak harus merasa anne dan babanya lah sahabat pertama mereka, tidak ada jarak. Meluangkan waktu bersama menjadi hal menyenangkan. Semisal Fatih pulang sekolah, Babanya akan selalu menyempatkan bertanya kegiatannya hari itu, meski dia juga lelah sepulang bekerja. Dan sayapun melakukan hal yang sama. Siapa temannya, bagaimana cerita belajarnya dikelas. Langkah ini tentu saja berkaitan dengan masalah-masalah yang saya tulis diawal, meminimalisir pengaruh negatif di luar, mengantisipasi kekerasan, anak harus mau terbuka dengan kami. Salah satu pencegahan sebisa mungkin di lakukan, pendidikan Se** juga kami kenalkan pelan-pelan, seperti tidak mengganti nama alat kelamin dengan bahasa lucu-lucu untuk menyamarkan, menjelaskan dengan bahasa sebenarnya nama alat kelamin.

Berbagi Tugas

Untuk urusan pendidikan, Babanya lebih banyak ambil peran, mengajari Fatih Baca, menulis, berhitung jika ada PR. Hasilnya dikelas Fatih, dia jadi nomer 1, anak yang paling lancar baca. Metode babanya, Mulai membelikan aneka buku bacaan di luar yang diiberikan sekolah. Setelah baca, fatih harus merangkum untuk menceritakan ulang apa isi buku tersebut, biasanya si Baba akan bertanya tentang inti sari dari buku-buku yang Fatih sudah baca. Sementara saya, kebagian ngajarin Fatih İqro, dan pendidikan agama–ini yang kadang masih ruwet, jika saya mengajarkan Solat secara mahzab syafii sedang yang dipakai di Turki mayoritas berdasar Hanafi, terpaksa saya harus belajar lagi tata cara solat secara mahzab hanafi, ada sedikit perbedaan bacaan dalam solat. İya masih banyak PR.

Gadget? Boleh saja asal…

Kami tidak melarang anak main gadget, asal terkontrol. Seperti nonton youtube, di PC rumah pakai akun saya, jadi sering masuk notif masuk di HP, apa saja yang dia tonton di Youtube, jika melanggar ketentuan saya tegur. Hanya sebatas di PC rumah, untuk internet dan game di HP terus terang saja kami rada pelit:P Mau main internet di jam tertentu dan itu di rumah. Babanya cukup tegas untuk membatasi, jika sedang di luar. Anak-anak harus fokus sama kegiatan outdoornya, yang sering pegang HP hanya saya..upps, itupun sebatas dokumentasi. Babanya kadang pegang kadang ya ditinggal dirumah. karena akan fokus ke anak-anak.

6 Cara terbaik membatasi Gadget pada anak

Bagi orang Turki punya anak bukan prioritas lagi

Anak makan disodorin HP? ga akan ngasih HP, mau anak goyang kayang, ngamuk-ngamuk di keramaian. lagi di mobil supaya tenang? untungnya kedua anak saya itu tipe ‘pelor’ nempel langsung molor:D di perjalanan lebih sering sunyi senyap karena mereka cepat sekali tertidur. Jadi tetap ada batasan dan juga ketegasan sikap. Saya paling gemas kalau ada anak yang bisa ‘ngatur’ ibu atau ayahnya demi mendapatkan keinginannya, sering sih melihat anak tetangga di komplek ya seperti itu, daripada anak rusuh terus dengan alasan SUPAYA tenang, disodori lah HP. Buat saya dan suami, yang memegang kendali itu KAMİ sebagai orangtua, jangan sampai luluh dengan mudah hanya demi anak. Orangtua tentu tahu yang terbaik untuk anak mereka masing-masing, begitu jg saya dan suami.

Saya dan suami berusaha untuk kerjasama dengan baik dalam mendidik anak-anak, karena tanggung jawab kami berdua sebagai orangtua. Tidak memberatkan ke salahsatu saja, Persiapan matang dengan banyak belajar, sampai sekarangpun masih banyak kurangnya, menjadi orangtua tidak hanya asal punya anak, lahiran lalu bisa pamer kelucuannya di Feed sosial media, ada banyak tanggung jawab yang harus kami panggul. Mengantarkan mereka ke masa depan yang lebih baik tidak hanya perkara dunia tapi juga akhiratnya. Semoga saya dan teman teman dimampukan jadi orangtua yang lebih baik lagi dalam mendidik dan mengasuh anak