Ketika terjadi perang saudara di negara tetangga Turki (Suriah) , Banyak yang akhirnya mengungsi ke berbagai negara, salahsatunya Turki yang menampung pengungsi suriah terbanyak. Menurut AFAD (Badan manajemen bencana dan darurat) tercatat 3.506.532 Pengungsi Suriah yang masuk Turki. Setelah perang saudara mereda, banyak pengungsi Suriah yang akhirnya balik ke negaranya, tapi yang menetap di Turki juga masih banyak, salah satunya di Kota Corum Turki.

Wajah -wajah arab bukan pemandangan asing di Turki , selain Turki juga jadi destinasi Wisatawan dari negara Timur tengah, Ga heran kalau di center wisata di Turki akan menemukan berbagai petunjuk dengan bahasa arab, Bahkan di area Park seperti di Corum juga sudah banyak papan petunjuk berbahasa arab. Sampai pernah salah satu teman saya nyeletuk: orang Turki ga sadar sekarang di’kuasain’ orang arab. Tidak hanya dari suriah, pengungsi dari irak dan iran juga banyak yang masuk Turki, belum lama ada berita juga, tertangkapnya 54 imigran dari afghanistan masuk wilayah Turki lewat provinsi Ercincan, Tujuan utama mereka tentu saja nyebrang ke benua eropa, Karena Turki memang ‘gerbang’ dari wilayah asia. Banyak yang akhirnya tertahan di Turki.

tulisan berbahasa arab kini sudah umum di area publik

Sebagai salah satu negara yang menanda tangani konvensi perlindungan pengungsi, Turki banyak menfasilitasi kebutuhan pengungsi, Dana 30 jutaan USD juga digelontorkan, kalaupun masih banyak kekurangan disana sini, seperti di wilayah perbatasan, saya pikir Turki juga punya keterbatasan, menangani 3 jutaan lebih pengungsi bukan perkara mudah. Apalagi belakangan inflasi di Turki semakin Tinggi, Duh ruwet lah kalau masalah ekonomi.

Sekarang, saya juga jadi terbiasa melihat pemandangan banyaknya orang arab di Corum, orang -orang suriah (orang turki menyebutnya suriyeli) Wajah mereka tentu saja bisa dibedakan, apalagi kalau sudah berbicara, dan busana mereka (kaum perempuannya ) berbeda dengan cara perempuan Turki yang berhijab, lama-lama mata saya terlatih membedakan mana wajah asli Turki dan pendatang dari arab, kendati dari hidung sama-sama mancung kan ya:)

Minggu lalu, seperti biasa, Saya dan suami pergi ke pusat kota Corum, tinggal di ilce didaerah pegunungan, jadi tantangan sendiri ketika harus berbelanja barang yang tidak di jual di daerah ilce, İstilahnya kami turun gunung ke pusat kota, masuk mall, masuk supermarket migross yang biasanya menjual berbagai produk luar Turki, atau yang jarang dijual di jaringan supermarket lokalnya, seperti tujuan utama saya, nyari mie telur merk Nudo yang hanya dijual di Migross. Lalu lalang wajah wajah arab di pusat perbelanjaan bukan pemandangan baru, ada golongan kelas menengah-yang keluar masuk Toko mewah juga banyak saya lihat, atau golongan Pengungsi kelas bawah, yang bekerja serabutan, Bekerja di pabrik-pabrik milik warga lokal.

Kebetulan waktu itu eniste (panggilan suami untuk kakak ipar perempuan)  Mengajak kami mendatangi salah satu pabrik milik kenalannya, saya yang menunggu di dalam mobil sempat bertanya juga ke suami dan kakaknya,kata suami: Pabrik yang didatangi hampir seluruh pegawainya adalah para pengungsi suriah.

toplama ve ayırma tesisleri: semacam pabrik plastik , yang mengumpulkan berbagai plastik untuk diolah kembali.

Hilir mudik para pekerja dan pengepul plastik datang masuk pabrik, mereka biasanya naik motor yang sudah di modifikasi roda tiga, dengan bak kecil di belakang, Kadang di jok depan, duduk berdua, bapak dengan anak, sama -sama bekerja. Tumpukan plastik yang mereka kumpulkan di setor ke pabrik.

Pemandangan yang tidak kalah menyejukan juga saya lihat, saya sempat ambil video dan foto seorang karyawan pabrik tiba-tiba dia menggelar sebuah kardus besar di depan truk yang sedang parkir, kardus itu menjadi alasnya untuk dia sholat, dalam kondisi apapun kewajiban sebagai seorang muslim dia kerjakan.

pekerja pabrik yang sedang menunaikan sholat dhuhur beralas kardus.,

Ya mereka para pendatang berstatus pengungsi yang tidak mau menjadi beban Pemerintah Turki terus, bisa mendapatkan tempat tinggal layak, hidup damai, diperkenankan mencari nafkah untuk kebutuhan keluarganya, bekerja apasaja mereka jalani, pekerjaan kasar tapi halal, selain bekerja di pabrik-pabrik, seputar wilayah corum, banyak yang juga bekerja jadi buruh tani atau menjadi coban (penggembala hewan ternak) mereka biasa diupah oleh para pemilik ternak.

suasana sore di koy..melihat cobanci menggembalakan ternak

Seperti di koy Mertua, setiap pagi hari, biasanya para pemilik hewan ternak akan menggiring hewan hewan nya ke jalan besar , ternak ternak di kumpulkan di pinggir jalan, kemudian para coban akan datang untuk menggembalakan hewan ternak milik warga desa, kadang saya mengibaratkan, seperti anak-anak yang mau sekolah, dijemput para pengasuhnya:) Lalu para coban mulai bekerja menggiring hewan ternak ke daerah perbukitan, sore hari sebelum maghrib biasanya mereka datang kembali ke koy, membawa hewan hewan ternak asuhannya, para pemilik ‘seperti para orang tua’ yang menjemput anak-anaknya pulang sekolah, kadang berdiri di pinggir jalan menunggu hewan ternak mereka datang. Setiap hari saya selalu melihat pemandangan seperti ini jika sedang menginap di rumah mertua, biasanya si baba atau anne yang menjemput hewan-hewan ternaknya, kadang ada juga yang bandel, ga mau pulang masuk kandang, malah kabur, nah ini jadi tugas si baba fatih disuruh nyariin:D dan hampir semua coban yang bekerja ini sekarang didominasi orang suriah. Mereka akan menerima upah tiap bulan dari para petani yang hewannya mereka gembalakan.

Baca: cerita pedesaan Turki

Apa para pengungsi suriah bisa bahasa Turki?

Ketika mereka masuk Turki, pihak pemerintah memberikan bantuan cuma-cuma kursus bahasa Turki untuk mereka, seperti sekarang di lembaga kursus seperti İSMEK di İstanbul, kelas bahasa Turki di buka dengan pengantar bahasa Turki? nah bingung kan:V Tapi yang lebih bikin saya puyeng, pernah mau daftar kelas bahasa Turki Gratis di İSMEK dekat rumah dulu, karena banyaknya orang suriah di mahale lokasi saya tinggal, pengantar kursusnya berbahasa arab:S saya urungkan untuk mendaftar.

Kalau saya tanya ke kakak ipar, terganggu kah mereka dengan banyaknya para pendatang itu di kotanya? Dia jawab biasa aja, para suriyeli mau bekerja apa saja, pekerjaan-pekerjaan kasar yang jarang dilakukan penduduk lokal sekarang banyak diambil alih para pengungsi. Untuk sektor ini karena mereka juga ga menuntut dengan upah UMR, Beda mungkin kalau sektor pekerja profesional , isu nya sempat menghangat di Turki tentang izin bekerja untuk para pengungsi kalangan tertentu. Apalagi disatu sisi beban pajak orang Turki juga semakin tinggi, Para pengungsi dapat fasilitas layanan kesehatan gratis, sedang para penduduk lokal tiap bulan dipotong gajinya untuk bayar SGK (asuransi pemerintah) Belum isu naturalisasi yang sempat dihembuskan, Gesekan sosialpun sering terjadi.

Diatas hanya beberapa contoh pengungsi suriah yang saya lihat dan temui di kota Corum, mereka banyak bekerja di sektor non formal, banyaknya pengungsi juga bukan jaminan mereka semua giat bekerja di Turki, ada yang akhirnya jadi masalah sosial, kriminalitas, pengemis, sehingga akhirnya banyak timbul antipati dari penduduk lokal itu sendiri. Apalagi ketika Turki mengalami masa-masa inflasi belakangan ini, banyaknya pengungsi sering dijadikan ‘kambing hitam’ karena membebani keuangan negara, tapi sebagian ada juga yang membantu jalannya roda perekonomian warga lokal.

Kadang saya bertanya dalam hati, kenapa mereka belum berminat untuk kembali lagi ke tanah airnya, sedang situasi suriah belakangan ini bisa dikatakan lebih baik (saya sering baca info dari PPİ damaskus) Entahlah, mungkin karena perbedaan politik dengan penguasanya, dan mereka sudah merasa ‘aman’ dengan kehidupan baru di Tanah anatolia, Sejarah mencatat, Semenjak masa kekhalifahan Utsmaniyah, wilayah ini terbiasa didatangi para pengungsi, tidak hanya dari bangsa arab, orang yahudi pun dilindungi dibawah kekhalifahan.

Toh dalam sejarahnya, Negeri Syam (suriah) dahulu, juga masuk dalam wilayah kekuasaan Ustmani, karena revolusi arab 1918, Suriah pun lepas dari kekhalifahan, Sebagian orang Turki tetap menyambut hangat para pengungsi karena keterkaitan dengan sejarah masa lalu mereka sebagai satu wilayah. Menolong mereka adalah kewajiban kita sebagai sesama muslim.., sering saya dengar ucapan itu, terutama dari ibu-ibu pengajian di İstanbul dulu.

Saya juga pendatang di tanah anatolia ini, meski kondisi kedatangan saya dan mereka berbeda, saya datang karena pernikahan, mereka datang karena konflik perang saudara, meski perlakuan untuk kami juga berbeda, bagaimanapun saya yakin tidak ada yang mau terusir dari tanah airnya sendiri dengan kondisi hancur lebur karena perang, Peperangan selalu menyisakan penderitaan.Semoga mereka (para pengungsi tersebut)dapat hidup lebih layak, bisa kembali ke kampung halamannya tanpa rasa was-was, kalaupun mereka akhirnya lebih memilih hidup di negara ini, Bisa hidup berdampingan dengan warga lokal membangun kembali tanah peninggalan daulah utsmaniyah dimana mereka dahulu adalah saudara satu bangsa.