Saya  lulus SMA tahun 2001, wow lumayan tua dong ya hehe, gak lah, semangat saya tetap muda walau sudah memasuki kepala tiga.
Dari dulu tradisi merayakan kelulusan sekolah selalu sama, konvoi sepeda motor, corat coret seragam, yang kadang mikir apa manfaatnya? Baju seragam yang sudah di coret-coret, palingan ujungnya tergantung di lemari, dilipat dan ditaruh di pojokan lemari, iya syukur-syukur masih disimpan sebagai kenangan, kalau berakhir jadi kain lap, duh sayang banget ya.
Flash back ke zaman saya lulus SMA, Waktu tanggal pengumuman kelulusan di umumkan, Wali kelas saya, saat itu bernama bu Sundari, di Kelas tiga SMA saya masuk jurusan İPA, untuk anak İPA, wali kelas membagi kami per kelompok, pengumuman kelulusan SMA tidak dilakukan disekolah, tapi dipilih dari salah satu rumah teman yang bersedia menjadi lokasi untuk mengumumkan kelulusan sekolah.
Syarat wajibnya: dilarang memakai seragam sekolah ketika hari kelulusan!
Deg-deg-an tentu saja, datang ke rumah teman yang jadi lokasi pengumuman, lalu salah satu guru yang ditunjuk sekolah, memberikan kertas hasil ujian akhir sekolah.
Haru biru dan tangis juga langsung pecah ketika  membuka lembaran kertas hasil pengumuman kelulusan SMA waktu itu.
Bagaimana dengan nasib baju seragam Sekolah kami?
Kami kumpulkan terutama yang masih layak pakai, disumbangkan ke adik kelas yang butuh seragam sekolah, sebagian kemeja putih bisa disumbangkan juga ke badan sosial, baju seragam sekolah kami bisa bermanfaat untuk teman-teman yang membutuhkan.
İni murni ide dari wali kelas saya, melihat kebiasaan anak-anak didiknya yang dulu selalu corat-coret seragam, menurut beliau sangat tidak mendidik, kenapa tidak disumbangkan saja, banyak anak sekolah yang tidak mampu beli seragam sekolah.
Saya memang tidak pernah merasakan gimana euforia kelulusan SMA ala anak-anak sekolah lainnya, kami merayakannya dengan cara kami sendiri.
Saya salut adik-adik SMA yang melakukan hal terpuji di hari kelulusannya, beberapa yang saya baca di social media, ada yang membagi-bagikan sembako, mereka melakukan iuran per-orang dua puluh ribu rupiah, lalu uang  yang dikumpulkan tersebut dibelikan paket sembako, didistribusikan oleh mereka langsung (Sebagai cara bersyukur telah lulus SMA)diberikan kepada kaum duafa, fakir miskin. Jujur salut! anak-anak ini perlu di apresiasi dan menjadi contoh teladan.
Kreatifitas lainnya, ada inisiatif dari sekolah memberikan media untuk anak -anak didiknya yang lulus sekolah, media untuk mereka corat coret bukan di baju sekolah.
lalu ada juga yang merayakannya dengan berdoa bersama, bersyukur dihari kelulusannya.
Ada berita viral tentang cara merayakan kelulusan yang tidak patut di contoh.
menari erotis?
Wah kalau menari  dengan kreatfitas tarian massal boleh lah, tapi kalau tari erotis??rasanya kurang pantas dilakukan di area pendidikan.
Banyak cara positif merayakan kelulusan sekolah, memang masa-masa sekolah SMA bagi sebagian orang katanya  paling indah dan manis dikenang, jadi merayakan kelulusan dengan cara-cara unik tapi tidak positif!
konvoi kendaraan dengan suara knalpot bising-aduh jangan deh ya, ganggu banget!
Corat-coret baju–ini juga ga ada manfaatnya menurut saya-
Masyarakat juga mulai banyak yang tidak suka. Ada konvoi kelulusan sekolah yang di siram air got-waduh ga banget kan-.-‘ karena kehadiran mereka sangat mengganggu, mengabaikan keselamatan berkendaraan pula bikin gemas pak polisi.
Lulus SMA bukan akhir segalanya loh…, masih ada jenjang pendidikan lagi dibangku perkuliahan,
persaingan dunia kerja, persaingan keras kehidupan mulai semakin jelas didepan mata.
Persiapkan itu.