Pertama, saya berterimakasih sekali dengan seorang ibu yang nge-DM hingga berujung saya punya ide menulis tentang ini (Kadang ide memang muncul lewat mana saja ya..maklum lah emak-emak blogger yang lebih rajin semedi dirumah)

Apa itu Momshaming?

Mengutip dari: http://www.sahabatnestle.co.id

Opini berbentuk kritik yang diberikan kepada seorang ibu mengenai pilihan cara pengasuhan yang dijalankan tanpa mempertimbangkan latar belakang keluarga, finansial, budaya, dll ini merupakan bentuk bullying terhadap ibu yang dikenal dengan istilah Mom-Shaming.

“Mom shaming itu memberikan kritik atau menyampaikan ungkapan negatif bahkan menjatuhkan tentang pengasuhan seorang mama kepada anaknya. Misalnya, ‘kok anaknya kaya gitu sih’,” kata psikolog yang akrab disapa Vera ini kepada CNNIndonesia.com,

Momshaming juga kadang beda tipis antara memberi saran masukan dan merendahkan tanpa mengerti situasi, bisa dilihat dari pilihan kata (ketika dia menulis) atau dengan cara penyampaiannya.

5 Penyebab seorang İbu melakukan mom-shaming

@komunitas_parenting

  1. Bosan.
  2. Sedang Marah
  3. iri
  4. Tidak yakin dengan identitas diri
  5. ingin diakui.

Menurut survey ternyata momshaming banyak dilakukan oleh: Keluarga terdekat, teman dekat, ibu-ibu yang tidak dikenal di ruang publik, komentator di media sosial.

Sebelum nulis ini barusan baca kisah seorang ibu yang baru melahirkan dan kena baby blues, depresi berat. Pemicunya? -Karena lahiran sesar, komentar pedas yang datang dari orang-orang terdekatnya, salah satunya ibu mertua, tante dan kerabat lainnya. Bisa bayangin ? rasanya selesai dioperasi, luka jahitan belum kering, badan rasanya mau remuk, yang berkunjung mulutnya ga ada yang direm. ‘kok sesar?’, kan mahal? buang-buang duit aja? males jalan kaki sih sebelum lahiran, ditambah embel-embel agama juga. Dan saya pernah juga diposisi seperti ini, meski ga sampai depresi berat, rasanya tuh pengen nyumpel mulut-mulut yang bawel—.

9 tips menyapih anak

Lalu beralih ke seorang public figur, Ussy sulistyawati. İbu 4 orang anak . Mendapatkan ‘momshaming’ juga dari netijen, Anak pertamanya bernama Amel, mendapatkan cyber bullying, sebagai seorang ibu dia tidak tinggal diam, melaporkan pelaku ke pihak berwajib. Mungkin ya kalau hanya dia yang kena ‘nyinyiran’ warga netijen, masih bertahan dan bersikap masa bodo, resiko menjadi artis, tapi ketika anak-anaknya diserang, ibu mana yang tinggal diam, Ketika tindakannya membawa kasus cyber bullying ini ke ranah hukum, masih ada aja komen netijen nyinyir.dot.com, di kolom komen salah satu portal berita: ” kalau ga mau kena bully, jangan main-main ke dunia maya”, dan masih ada juga yang menilai tindakan memberi pelajaran kepada netijen seperti itu sebagai tindakan Lebay?? dikit-dikit main lapor. Terus mau gimana? kondisi setiap orang itu berbeda loh, Bahkan komentar jahat banyak yang menjadi penyebab seorang public figur depresi, bahkan hampir bunuh diri. Ga nyadar kah, tindakan kita nyinyirin orang-meski ga kenal- didunia maya, bikin saldo dosa kita bertambah.

Pengalaman pertama mendapatkan mom-shaming di media sosial.

Saya bukan artis, atau selebgram, hanya seorang ibu yang merangkap Blogger. Saya punya akun media sosial, sebelumnya di private, tapi karena untuk kepentingan share- postingan blog , lalu saya bukan akun instagram untuk publik.

Pengalaman pertama baca komentar dari follower memang tidak kenal di dunia nyata. Bermaksud memberi saran tapi dengan bahasa yang kurang pantas saja, apalagi ketika baca-baca artikel tentang momshaming, Menulis dengan kalimat ‘kok anaknya rambutnya…..…’ Menilai penampilan salah satu anak saya, hanya dari tampak belakang, karena emang posisi dia di video, posisinya membelakangi kamera, Memberi saran boleh aja, saya balas dengan kalimat yang menurut saya biasa aja , Tapi yang bersangkutan tetap merasa benar, dan memberi masukan yang menurut dia baik (dalam pandangan dia) -anak harus rapih meski dirumah disesuaikan usianya?agar bisa mencontoh beliau.
Ya anak kedua saya, Alya. Jangankan dikuncir rambutnya, disisir pun harus kejar-kejaran, rapih sedikit, dia acak-acak lagi, untuk merapihkan rambut, biasa saya lakukan ketika musim panas memangkas rambutnya di salon, itupun penuh drama. Dengan model berwarna coklat,ikal dan bergelombang, yang kadang terkesan acak-acakan.
tapi ketika ditambahi kalimat biar gak keliatan agak kumal, kusam?? padahal hanya melihat dari video sekian detik saja dengan posisi membelakangi kamera.

—Saya terbuka kok dengan masukan dengan netijen yang saya gak kenal sama sekali, tapi menulislah dengan bahasa yang baik, pemilihan diksi ketika menulis jika kurang tepat jujur saja agak mengganggu . Setelah sempat baca-baca wah ini masuk kategori momshaming juga ternyata, momshaming di media sosial. Meski akhirnya yang bersangkutan meminta maaf tapi sayangnya saya dicap ibu yang ga bisa nerima saran:) —

Mayoritas pelaku mom-shaming tidak menyadari kalau mereka telah melakukan mom-shaming, Niat mereka baik, memberi saran,masukan yang menurut mereka itu bagus, kalau tidak diingatkan pikirnya kasihan sama anaknya, kok ibunya gitu, kasihan anaknya, harusnya begini…, dan sebagainya. Sayangnya banyak ibu-ibu sering lupa kalau setiap anak itu unik, beda dan gaya pengasuhan tidak bisa diseragamkan. Apalagi ketika membenarkan pola pengasuhannya sendiri, biasanya kalimat yang gak asing: Saya juga punya anak, kalau anak saya…..,

Beberapa dampak psikologis Mom-shaming:

  1. İbu menjadi rendah diri dan tidak percaya diri
  2. Meningkatnya kecemasan dan potensi depresi pada İbu
  3. Munculnya over-parenting: İbu memiliki standar tinggi dalam pengasuhan anak dan (sadar atau tidak) menuntut anak mencapai standar tersebut
  4. Melemahnya insting natural seorang ibu karena berusaha menuruti berbagai pendapat.
  5. Meningkatnya potensi siklus rantai, seorang ibu ganti mengkritik ibu lain atas pilihan parentingnya.
  6. Merasa bahwa dirinya gagal dan tidak akan pernah menjadi ibu yang baik bagi anaknya. (sumber: @momikologi)

Point no 5 dari dampak psikologis Mom-shaming ini yang saya tekankan, apalagi di dunia maya, sebagai sesama ibu-ibu ayo kita putus mata rantai perilaku mom-shaming agar tidak merambat ke 5 dampak lainnya. Karena belum tentu kondisi psikologis tiap ibu juga sama, kebal, bisa acuh.

Saya juga biasanya masa bodo, cuek, apalagi pelaku momshaming kebanyakan dari lingkungan terdekat, Menyusui anak 2 tahun lewat dikit aja dikomentarin macam macam,anak belum toilet training juga ga luput dari pertanyaan-pertanyaan yang ga ada habisnya.

Sungguh banyak sekali ‘perhatian’. Karena memang sampai kapanpun komentar pro kontra itu tetap akan ada. kalau pengalaman dari orang kurang dikenal rasanya agak aneh dikit gitu , ya maklum bukan public figure juga, Eh tapi sekelas Ussy aja lapor polisi karena anaknya yang jadi korban, Karena sudah terlewat batas dan sebagai ibu tentu saja ingin melindungi anak-anaknya dari kekejaman ketikan netijen shamers**(dan kebanyakan pelakunya ya ibu-ibu juga-.-)

İbu-ibu jaman now banyak sekali dapat ‘perhatian’ ya:D
Ada yang pernah ngalamin momshaming di dunia maya juga ?