Kali ini saya cerita keseharian ibu ibu muslimah di Turki, Apa ada pengajian ibu ibu? Apa ibu-ibunya punya seragam pengajian yang warna pink, kuning ngejreng, merah marun,. Pengajian ibu-ibu yang sering ramai datang ke acara-acara tertentu? Baiklah, abaikan dulu, Kenapa saya selalu nambahin: Ala Turki, ya kan ceritanya emang keseharian orang Turki itu sendiri dari kacamata saya.
Well, Baiklah, kisah mamak mamak pengajian komplek di daerah tinggal saya.
Seperti apakah model pengajiannya?
Pengajian ibu-ibu di daerah rumah biasa diadakan tiap hari jumat, Tempatnya bergilir, siapapun bisa jadi tuan rumah.
Biasanya dimulai sekitar jam 11 siang sampai selesai dhuhur,kurang lebih 2 jam-an saja.
Pengajian ini biasanya dilakukan dengan membaca surah alquran, dibagi-bagi siapa yang bersedia  membacanya dan sebagian lain menyimak dengan khusu’.
Beberapa surah alquran diantaranya: yassin, kahfi, al waqiah, arrahman, aljumuah,Al fathir, surah surah pendek, ditutup dengan sholawat, doa, lalu Tausiyah.
Ada seorang ustazah yang memimpin pengajian, kebetulan ustazah ini tetangga rumah, seorang muslimah bercadar, tapi selama mengisi pengajian, dia membuka cadarnya.

menu pengajian
menu pengajian

Kemudian setelah selesai doa sambil mendengar tausiyah, Tuan rumah akan  menghidangkan makanan dalam piring service seperti di gambar, Jarang sekali orang Turki menghidangkan makanan dalam menu prasmanan. Selalu dengan piring service, bahkan di acara pesta pernikahan pun mereka lebih sering menghidangkan menu dalam piring service yang sudah tertata dengan rapih, Mungkin terkesannya kok ‘ngirit’ amat.
Ketahuilah mereka tidak suka membuang-buang makanan atau israf, Menu piring service seperti ini sudah ditakar cukup mengenyangkan dan  jika masih kurang , Tuan rumah tidak segan menawarkan kembali menu makanannnya untuk diberikan ke tamu.
Orang Turki itu terkenal sekali  hobby menjamu tamu, Totalitas tanpa batas:) Tidak akan diizinkan pulang tamunya jika belum kenyang heheh.
Oh ya menu di atas kategori menu cemilan buat ibu ibu Turki, cemilan yang berat dan tentu saja mengenyangkan.
Ga heran kalau  ini  jadi alasan :
Baca :  İbu -ibu Turki berbadan besar?
Jadi mikir gitu ya, apa ga bisa ‘bungkus-bungkus’? 🙂
Oh tentu saja bisa, Terkadang tuan rumah akan menawarkan terlebih dahulu, apa mau dibawa makanannya, tapi heran kebanyakan ibu-ibu  jarang mau bawa ‘Bungkusan’ Sepulang ngaji ke rumah.
Berbeda sekali jika yang mengadakan macam ibu ibu pengajian WNİ, kami biasa bawa potluck,  menu masakan indonesia, Selesai pengajian sudah nge-tag makanan di meja, menu apa saja yang bakal dibungkus untuk dibawa ke rumah masing-masing, apalagi jika ada menu istimewa semacam aneka sambal, jengkol, pete, ikan asin. Kerupuk. jika menu standar ayam, daging ?  Karena bahan dasar ini mudah di Turki. Jarang sekali dilirik kecuali dimasak  khusus dengan bumbu nusantara.
Beberapa tahun ini saya sering ikut pengajian ibu -ibu komplek dimana saya tinggal.
Selama pengajian, saya amati: 

  • Selesai menyantap hidangan ditutup dengan cay, ngobrol sebentar, kemudian pamit pulang, pengajian tidak disambi dengan acara arisan atau obrolan yang unfaedah seperti bergosip panjang lebar, ngobrol santai bersama ustazah yang mengisi pengajian, sambil menanyakan hal-hal seputar agama.
  • Tidak sukanya mereka berfoto-foto, bisa jadi mereka kurang nyaman dan berkenan, apalagi jika ustazah nya ini bercadar. Selama pengajian biasanya yang bercadar melepas cadarnya dan berpakaian normal seperti yang lain (dalam artian kebanyakan gamis mereka hanya satu warna: Hitam.)
  • Selama saya mengenal tetangga dan kerabat yang memang memutuskan untuk menutup aurat secara syar’i, mereka totalitas dengan pemahaman yang mereka dalami, memakai sosial media dengan bijak. Apalagi jika memutuskan untuk bercadar, satu foto pun mereka tidak  eksis di sosial media (eh ga nyindir lohh enggaa suer.muhasabah diri saja.)
  • Pengajian lebih sering rutin di adakan di rumah-rumah, Belum pernah saya datang ke majlis taklim khusus ibu-ibu, jika ada kegiatan di masjid, Biasanya kegiatan kursus alquran dan sholat tarawih saja.
  • Tanpa perlu caption agamis, untuk menunjukan sisi relijius, kebanyakan muslimah Turki yang saya kenal dekat tidak suka  ‘narsis’ apalagi dalam bentuk selfie atau  berfoto bersama kemudian upload di İnstagram lalu diberi keterangan: lagi ngaji.

Tujuannya datang ke majlis ilmu, membaca alquran, mendengar ceramah ustazah, intinya agar dapat nambah pahala. Bukan malah nambahin dosa, Selesai ngaji lanjut ngobrol panjang lebar dan berujung ngegosip, heheh sering banget dulu seperti ini di kampung saya-.-‘ pulang majlis taklim dapat gosip baru, Duh semoga mamak mamak di kampung udah pada tobat.
Belajar dari tetangga tetangga shaleha saya sekarang , selesai ngaji, makan, ngobrol sebentar, langsung bubar. Tapi aturan ini ga berlaku jika datang ke pengajian sesama WNİ, ngumpul sekalian lepas kangen dan meluweskan lidah berbahasa indonesia sambil ngemil semangkok  bakso atau soto:))
**cuma foto makanan:D sama alqur’an, krn gimanapun harus ada izin dari beliau -beliau**