Ada berita viral di Turki, kasus pasangan WNİ dengan Pria Turki dari kota Denizli, ketika mereka menikah sempat viral masuk berita lokal di Turki, karena komunikasi mereka mengandalkan sekali google translate, entah bagaimana prosesnya sampai memutuskan menikah dengan keterbatasan bahasa keduanya, si perempuan hanya bertahan 4 bulan, kemudian pamit pulang ke İndonesia dan tidak berniat kembali. İngin berpisah, seandainya permasalahan diantara mereka berdua bisa diselesaikan dengan baik, jika merasa tidak ada kecocokan lagi, pisah baik-baik, bukan lari dari masalah, meninggalkan suaminya di Turki tanpa status jelas pernikahan mereka.

Kisah mereka kembali viral dan masuk berita lokal Turki, dan menjadi isu hangat, terutama disosial media. Nah beruntungnya saya yang hidup terpisah dengan mertua dan kakak ipar, wah bisa -bisa jadi bahan obrolan disela-sela minum Çay tentang berita viral ini, saya juga belum nyapa tetangga di komplek, biasanya salah satu teman sering share berita tentang İndonesia, terakhir dia juga share berita tentang orang İndonesia yang menikah dengan pria dari kampung halamannya di Rize. Jujur saja, makin ga ngerti lagi motivasi perempuan-perempuan İndonesia yang begitu nekad datang ke Turki atau memaksakan diri menikah dengan perkenalan yang teramat singkat tanpa peduli lagi latar belakang calon pasangannya. Kendala komunikasi mengandalkan penuh google translate.

video viral ketika mereka menikah sampai masuk berita dan sekarang viral lagi ketika bercerai

Berkurangnya makna sakral pernikahan di era sosial media

Dibanding cerita 10 tahun lalu, ketika bertemu dan menikah dengan suami, kemudahan mendapatkan informasi tidak seperti saat ini, dulu sosial media sebatas twitter, facebook, whatsup pun belum populer apalagi instagram, mengandalkan yahoo mesenger, kalau kepepet kirim SMS kepotong pulsa besar, video call mengandalkan skype yang jaringannya putus nyambung, segala informasi saya kumpulkan dari teman teman blogger pelaku kawin campur yang aktif di multiply, belum ada youtuber juga. Kehati-hatian, kewaspadaan, ketelitian membaca berbagai dokumen tentang pernikahan dengan orang asing, melahap berbagai cerita para diaspora hidup diberbagai negara.

Saya masih teringat cerita seorang pelaku kawin campur yang tinggal di amerika dan bersuamikan pria dari negara shah rukh khan, dia mengeluh hobby keluarganya yang doyan sekali ngemil bawang bombay mentah, kemudian diceritakan di Blog, hal yang mungkin biasa saja di keluarga suaminya tapi menjadi salah salah satu penyebab shock kulturnya. dan banyak cerita cerita beragam lainnya, alasan utama saat itu: menyiapkan mental sebelum terjun ke medan perang hahahaah.

Lalu apa alasan saya menulis: makna sakral pernikahan berkurang?

Berbagai cerita tentang kenekadan perempuan İndonesia yang terbang ke Turki demi pujaan hatinya, tanpa ada pendamping, kalau saja mereka terbiasa traveler dan emang niat awalnya liburan, bukan jadi kendala, jika tujuannya LİBURAN. Siapa yang melarang? tapi MENİKAH dan sendiri, jauh -jauh datang dari İndonesia ketemu pacar onlinenya, ada yang tidak jujur ke orangtua dan hanya mengatakan sekadar liburan ke Turki, tapi ternyata menikah, menikah sirri?–jika happy ending sampai di sahkan hukum negara, tapi jika berakhir pernikahan seumur jagung?

Memutuskan menikah tapi punya tujuan sendiri?

Sejatinya pernikahan itu sakral, pertalian dua manusia dihadapan Tuhan, keputusan besar dengan tanggung jawab yang luar biasa besar,butuh kesiapan mental. Semakin kesini, banyak cerita terdengar tentang berbagai kasus pernikahan yang bermasalah, mudahnya terbuai kata kata romantis orang yang baru dia kenal dalam hitungan hari, ingat ya: Orang Turki terbiasa berkata manis, yang terkadang tidak bermakna dalam, hanya ucapan biasa, tapi banyak sekali yang termehek-mehek, berbagai DM pernah masuk, ketika saya tanya, berapa lama kenal pacarnya? sebulan, dua bulan, dan yakin progres hubungannya lancar jaya, jika emang beruntung alhamdulilah, jika buntung! kasihan lah staf kedutaan İndonesia harus ngurusin kisah asmara yang gagal di Turki dan minta di ‘selamatkan’ karena tidak bahagia, ketemu lelaki kardus, atau juga kadang perempuan İndonesianya yang bermasalah.

Memutuskan menikah hanya karena ‘Bosan’ hidup di kampungnya dan ingin hidup di luar negeri.

İni juga banyak yang menjadikan alasan pembakar semangat untuk menggaet pria asing dari negara manapun, dipikirnya hidup di Turki akan seindah tayangan konten bertema Turki, naik balon udara di kapodakya, tour Bhosporus, foto cantik di Sultan ahmet, sholat di aya sofia, Traveling terus tiap bulan. İndah? karena yang ditampilkan memang yang terindah, begitu dihadapi kenyataan. Bukan tinggal di kota impian, di kota yang dia sendiri mungkin baru dengar.

Kehidupan sehari-hari yang ternyata jauh dari kata impian, padahal di İndonesia menjadi ketua klub geng sosialita yang saban weekend kumpul, ngopi cantik di cafe yang instagramable kemudian posting dengan caption penuh kebahagiaan, kalau bosan masak tinggal order gufut itu,

Baca: Problem Mertua dan menantu di Turki

Mungkin dia lupa, yang dia nikahi bukan dari keluarga konglomerat pemilik sabancı holding Turkey, atau saudara sepupu pak presiden, atau anak pakde nya mesut öziel. Dimana Gelin di keluarga mereka punya maid, mungkin ga cuma satu, banyak! Yang dinikahi hanya laki laki Turki biasa, dimana harus kerja keras demi memenuhi kebutuhan sehari hari, laki-laki yang masih ngeluh tentang Fatura, atau naiknya pajak LPG baru baru ini. Kemudian kaget! ketika harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, belajar menuang cay, mengikuti obrolan unfaedah emak-emak Turki ketika kumpul keluarga dan aneka ria shock kultur lainnya.

Kalau mentalmu tidak sekuat itu jangan nekad menikah dengan WNA

Bukan berarti saya atau teman teman yang memutuskan menikah dengan Bule atau WNA manapun adalah wanita perkasa yang tahan banting, Mereka juga memiliki kisah tersendiri pahit manisnya kehidupan, bagian pahitnya mungkin tersimpan rapat tidak untuk dijadikan konten sosial media demi popularitas. Dan mereka yang bertahan dengan berbagai alasan–selama bukan kekerasan fisik– Menerima segala resiko ketika memasuki kehidupan di tempat barunya, Adaptasi dengan lingkungan baru, keluarga baru dengan keterbatasan mereka berbahasa asing, kultur patriarki, dan hal hal yang menjungkirbalikan mimpi mimpi tentang kehidupan rumah tangga indah, melesat dari harapan.

Menikah dengan Bule karena trend?

Ketika kehidupan pasangan kawin campur menjadi konten yang menghasilkan banyak cuan, kemudian serbuan kolom komen, yang kalau saya iseng scroll dan baca-baca, sampai geleng-geleng kepala, karena banyak yang ‘berpendapat sama, Berharap bisa kenal Bule dan menikah, tanpa mikir jauh lagi, Urusan dokumen yang maha ribet, bisa lewat jalan pintas: nikah siri. Asal bisa bersatu, nanti gampang tinggal rayu saja si abang untuk menSAH kan secara hukum. Janji tinggal janji, banyak yang akhirnya tertipu, mempermainkan pernikahan.

Baca juga:Tentang keluarga Turki yang suka kepo

Bule bikin hastagh: No İndonesia girl, kenapa?

Banyak Orang jahat juga menikmati trend ketika sosial media booming dengan konten konten penuh kehangatan, cinta dari pasangan beda bangsa, lalu memperdaya perempuan indonesia yang tergila-gila dinikahi bule atau orang Turki, cukup umbar kata kata manis dari awal kenal, si perempuan sudah kelepekan, begitu yakin laki-laki yang dia kenal jatuh cinta beneran–gimana saya ga kaget jika baca DM ketika ditanya, kenal berapa lama, sudah pacaran berapa lama? dan dia jawab 1 bulan, 2 bulan. Hah!! Ketika tidak mendapatkan kepuasan karena tidak ada dukungan akan kisah cintanya. Mereka nekad sendiri, menghampiri kekasih hatinya, yang dianggap baik hati, sudah membelikan tiket untuknya datang ke Turki, kemudian dengan ‘balutan sok agamis’ menghindari zina, dirayu lah untuk menikah secara agama dulu, tanpa mahar! datang dengan visa turis, begitu visa habis! tinggal talak! See..daripada si lelaki kerdus itu bayar perempuan panggilan, mending modalin tiket saja, datanglah perempuan indonesia yang tergila gila dengan Turki, janji dinikahi, ternyata cuma dipermainkan. Miris tapi kasus ini belakangan banyak terjadi.

Menjadi Viral baiknya berdampak positif, tapi jika sebaliknya?

Kasus viral itu terus terang membuat kami-sebagian pelaku kawin campur İndonesia Turki juga menjadi malu, masih ingat dengan berita beberapa bulan lalu : Kirim surat ke presiden Turki demi modal menikah

Berita viral yang kurang lebih sama, lagi-lagi demi bisa menikah dengan perempuan asing, seperti halnya berita viral terbaru juga, demi menikah rela mengambil kredit bank yang jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit tapi kemudian si istri lebih memilih pulang ke tanah airnya, tidak sanggup melanjutkan pernikahan lagi entah dengan alasan apa, masalah yang baiknya diselesaikan kedua pihak tanpa harus mengundang media, dan menjadi pemberitaan nasional—Jadi kebayang ya gimana reaksi keluarga teman-teman yang menikah dengan orang Turki ketika menonton berita ini di TV dan juga beredar di portal online. Pertanyaan negatif menilai perempuan İndonesia jadi seperti apa? gampangan kah, murahan? atau matrealistis? kita harus menyiapan jawaban yang baik agar tidak menjatuhkan citra perempuan indonesia hanya karena kasus kasus pernikahan viral seperti ini.

Dampaknya bukan ke tokoh utama di berita tersebut tapi juga atas nama orang İndonesia, perempuan İndonesia. Ga heran sih ketika saya baca baca di Quora ada cerita pengalaman kurang menyenangkan seseorang ketika berurusan dengan orang Turki di Bandara, sehingga memandang sebelah mata orang İndonesia, Ada sebab ada akibat, tapi diluar itu emang sih hospitality garda depan Turki kayak orang PMS semua, soal pasang wajah ramah, senyum hangat İndonesia emang unggulan, soal ngegombal meski muka lempeng, orang Turki ahlinya:aşkım, hayatım, bebeğim..canım benim…, jadi ketika orang jahat ngegombal pun bisa membuat perempuan yang ngebet dinikahin Pria Turki, bertekuk lutut.