Ada satu teman yang sering ngajak saya bertemu, biasanya dia kirim WA terlebih dahulu, jika suaminya sedang bekerja, karena jadwal kerja yang berbeda dengan si suami di rumah, si teman ini sebut saja namanya namjieun (orang Turki loh mbak..Turki? Sebut saja begitu, karena dia sedang tergila-gila sama drakor))

Dengan Namjieun, dia salah satu teman Turki yang cukup dekat dengan saya di Pluto, secara umur, saya lebih tua 12 tahun, ealah berasa tantenya:D tapi sebagai mamah muda Turki generasi Milenial, Namjieun cukup asyik diajak ngobrol, kecintaannya dengan Korea, menjadi salah satu faktor dia mudah menerima budaya asing, terutama ngerumpi dengan saya, nanya-nanya Korea (ga nyambung banget kan, dikira Jakarta-Seol kayak jakarta-Bandung) Dianggap tetangga korsel–astaga dikira rumahnya lee min ho gang komplek sebelah. Baiklah saya ceritakan tentang Namjieun dengan latar pecinta Drakor dari Turki.

Turki dan budaya Patriarki?

Berhubung Namjieun ini Turki tulen, saya bebas aja nanya-nya sama dia tentang kultur Turki, dan orangnya cukup terbuka meng-Amini, tentang baik-buruk karakter orang Turki. Saya bertanya tentang Patriarki-nya orang Turki? Dan Namjieun ternyata mengalaminya sendiri.

Namjieun 5 bersaudara, 1 laki-laki dan 4 perempuan termasuk Namjieun, secara Pendidikan, Babanya membedakan antara anak Laki-laki dan Perempuan, Si anak laki-laki di beri fasilitas layak, pendidikan tinggi sedang Namjieun dan ketiga saudara perempuannya, dianggap tidak penting Perempuan berpendidikan tinggi, toh ujungnya juga jadi ibu rumah tangga dan ngurus suami! Yup pola pikir seperti ini masih banyak di Turki. Lalu bagaimana nasib pendidikan si Namjieun, dengan penuh emosi mengingat perlakuan Babanya yang pilih kasih, dia cerita. Selama menyelesaikan SMA nya, dia bekerja membersihkan gedung, jadi cleaning service, Dari awal masuk sekolah sampai lulus, hanya memiliki 1 seragam dan 1 sepatu, semua uang hasil jerih payah dia sendiri, bekerja serabutan. Demi sekolah! Babanya orang miskin??? Tidak, Babanya punya gaji lebih dari cukup, Hanya saja, Beliau tidak peduli dengan pendidikan tinggi anak perempuannya, hanya peduli dengan anak laki-lakinya saja!

saya mendengarnya cukup terkejut, sambil mikir ‘ko ada ya seorang ayah seperti itu’. Sebenarnya lulus SMA , Namjieun keterima di Akademi Perawat, tapi karena dia tidak punya uang dan Babanya juga tidak mendukung, ditambah Lokasi Kuliah di Luar Kota, Kemudian Namjieun malah dijodohkan dengan anak tetangga desa (suaminya sekarang) Namjieun menikah di usia 18 tahun. Cita-cita Kuliah terkubur dan terpaksa menikah muda. Sekarang fokus mengurus dua anak balita, setelah banyak ngobrol dengan saya dan bagaimana perempuan İndonesia mandiri, oh ya saya menceritakan tentang banyak Gelin dari İndonesia yang bekerja, meski tidak bekerja Formal, jualan online dari rumah dan punya penghasilan sendiri, banyak dari teman Gelin yang juga berpendidikan tinggi, tetap memanfaatkan ilmunya di Turki, Namjieun merasa tercambuk, tiba-tiba hari ini dia mengatakan: ” saya mau kuliah lagi!” Tunggu anak-anak lebih besar, kalau tidak jadi Perawat seperti cita-cita dulu, saya mau jadi Guru TK”

Alasan Namjieun ingin mengejar pendidikan tinggi, karena melihat sendiri ketidakadilan, Pola pikir Babanya, yang masih menganggap Perempuan hanya cukup melayani, jadi ibu rumah tangga saja! Sedang dia melihat kakak perempuannya jadi korban KDRT, tidak bisa melawan, pulang ke rumah, tapi Babanya mengusir kembali! Karena bukan urusannya!! what!! dianggap itu permasalahan rumahtangga biasa, Kakaknya yang tidak berani bercerai dengan alasan Anak-anak! Padahal berkali-kali mengalami tindak kekerasan, Namjieun sudah berusaha menolong, memberi masukan, mencari bantuan, tapi kakaknya tetap pilih bertahan, karena ketakutan! ketakutan tidak mampu mandiri jika berpisah dengan sang suami, sedang Baba yang diharapkan menjadi penolongnya justru menolak kehadiran anaknya kembali ke rumah.

Nikah İmam, nikah Resmi apa bedanya?

‘Perempuan memang harus mandiri” ujar Namjieun. Saya salut sama perempuan İndonesia, punya sikap (meski ga semua sih ya..) Paling ga Namjieun bilang, Perempuan yang berani keluar dari Toxic relationship itu perlu didukung. Ada banyak cerita tentang Kekerasan dalam rumah tangga yang saya dan Namjieun Bahas, yang lebih mengejutkan, Ternyata Babanya Namjieun mengenal Pria pelaku yang membunuh İstrinya karena meminta cerai, Sampai tagar #eminebulut menguasai trending topic di Turki? Karena Suaminya membunuh dia didepan anak-anak dengan cara melukai lehernya, dan itu adalah orang Kampungnya si Namjieun!! dan pelaku itu teman babanya.

Perselingkuhan, poligami dan KDRT di Turki

Lalu saya bertanya tentang nasip anak dari korban tersebut, melihat İbunya hampir disembelih (ya tepatnya memang seperti itu) kalau penasaran cek saja videonya di youtube kasus Emine bulut. Anak dari Emine jelas mengalami trauma yang mendalam, dibawa ke Psikiater, dan Babanya sebagai Pelaku dihukum penjara seumur hidup.

Namjieun juga kadang berpikir, apa susahnya mengakhiri hubungan dengan baik-baik, entah kenapa banyak Pria gila di Turki yang melakukan tindak kekerasan, hampir tiap menonton berita ada saja berita tentang KDRT, İstri minta cerai, ditodong pisau, ditusuk, ditembak. Ditambah kasus heboh EmineBulut orang daerahnya sendiri.

Tingkat KDRT di Turki dan kasus Emine Bulut

Mungkin karena Namjieun hidup dilingkungan seperti itu, dia sampai berpikiran untuk tidak menikah dengan Pria Turki (Namjieun tidak tahu saja bagaimana gerombolan Perempuan İndonesia nan agresif mencari Suami Turki: sampai di labeli Turkish Hunters, bagian ini saya ga cerita banyak, kapan kapan aja..) tapi ujungnya Namjieun dijodohkan. Ya Syukurnya si Suaminya cukup baik, meski ada perbedaan umur 10 tahun, hanya saja kata Namjieun suka beda Pemikiran, Padahal secara umur Lee Dong Wook idolanya, rada tua dikit dari suaminya, tapi gaya si suami sudah seperti Pria paruh baya..LOL bisa aja Namjieun! dia sedang tergila-gila dengan Lee Dong wook padahal sebelumnya dia fans berat Lee min ho. Obrolan saya dengan Namjieun kalau ga bahas suka duka jadi Gelin sama bahas Drakor.

Tapi dari Namjieun saya jadi banyak tahu, bagaimana Pemikiran Perempuan Turki umumnya, apalagi mereka-mereka yang tidak diberi akses pendidikan yang memadai, tidak semua perempuan Turki juga beruntung mendapatkan Pendidikan yang layak. Beberapa kultur di Turki sendiri masih banyak yang menganggap Perempuan seperti warga kelas dua, Namjieun salah satu sosok yang mau melawan kultur tersebut, dia berjuang demi Pendidikannya, meski sekolah Gratis, tapi kebutuhan lainnya dia usaha sendiri, Bekerja serabutan, Padahal Babanya mampu tapi enggan membantu, sedang saudara laki-lakinya dimanjakan dengan Fasilitas. Karena dianggap istimewa, penerus nama baik keluarga. Tipe seperti Babanya Namjieun secara tidak langsung menyuburkan kekerasan dalam rumah tangga, bagaimana sikap si Baba yang tidak mau ikut campur meski puterinya babak belur ,karena menanggap itu sudah urusan internal keluarganya sendiri, Harus nurut suami!

Masih ada ya di Turki? Hari gini!!! oh masihhhhhhh.. syukurnya suami namjieun meski ga mirip sama Lee dong Wook, cukup baik hati, Ya doakan Namjieun bisa mewujudkan cita-citanya ya, Bisa kuliah lagi, ngerasain Bekerja dan katanya pengen Liburan ke Korea selatan, Ke negeri Oppa kesayangannya, tapi ajak juga atuhlah suaminya.