To the one who made me a mom…

Kalau yang mengikuti cerita keluargapanda dari blog sebelumnya pasti tahu si anakpanda a.k.a Fatih. Yup, anak pertama saya yang ga kerasa akan menginjak usia 6 tahun. Untuk tulisan ini saya khususkan cerita tentang Fatih-my first born– Dulu awal nge-Blog di wordpress juga sebenarnya banyak tulisan seputar perkembangan si anakpanda a.k.a Fatih, seiring jalan blog pun bertransformasi, untuk mengenang cerita si anakpanda dari brojol sampai sekarang, artikel ini saya khususkan tentang si anakpanda yang semakin beranjak besar, semoga kelak dia bisa baca tulisan annenya ini-yang kadang berharap dia manggil ibu, tapi tetap saja manggil anne:D

Mengurus anak pertama penuh tantangan…,

Bisa dibilang, Memiliki anak pertama adalah pengalaman tak terlupakan ketika memasuki peran sebagai orangtua. Kami berdua benar-benar banyak belajar, melahap bacaan tentang parenting, menonton berbagai video cara mengurus anak! Suami, bahkan rajin memutar video tentang memandikan bayi, hasilnya dia praktekan sendiri, memandikan Fatih. Urusan anak gumoh semua yang handle sang baba yang lebih terampil.

Kami mengurus Fatih, selepas 1 minggu dibantu mengurus bayi oleh kakak ipar, setelah pulang ke rumah sendiri, otomatis hanya berdua dengan suami dan dibantu internet:D Mertua? Beliau tidak bisa banyak membantu dengan kondisi yang sudah tua, kami tidak mau merepotkan neneknya. Tapi justru saya lebih merasa ringan tanpa terbebani .

Fatih lahir lewat C-section

Moment terbesar saya, tidak terbayang harus menjalani operasi sesar, meski sudah berjuang untuk melahirkan secara normal, karena kondisi ketuban pecah dan tidak adanya pembukaan (2 hari berjuang ) akhirnya menyerah di meja operasi demi keselamatan anak. Fatih lahir dengan selamat, bahkan moment ketika dimeja operasi masih melekat di ingatan, karena tidak bius total, suara gunting, suara jahitan, suara detak jantung dan dinginnya ruang operasi. Lalu masuk ruang pemulihan, setengah jam diberikan oksigen, serasa antara hidup dan mati. Moment itu setimpal ketika melihat Fatih tumbuh sehat tanpa kurang apapun, tumbuh menjadi anak yang menyenangkan.

Fatih di usia sekarang (2019)

Salah satu yang melekat dari anak ini adalah, pandai bergaul. Beberapa kali saya ajak Fatih ke acara kumpul-kumpul dengan teman sesama WNİ, terutama jika bareng anak-anak mereka, ada saja kejadian lucu. Si anak teman yang keasyikan bermain sama Fatih, ga rela Fatih pulang duluan, pernah salah satu teman barunya, ngumpetin Fatih di kamar:D agar saya ga ajak pulang, biar main dengan dia sepuasnya, atau tiba-tiba di jalan di panggil anak perempuan, wah ini udah sering banget, di TK nya terakhir, Fatih terkenal diantara teman teman perempuannya. Dan sekarang? Masih berlanjut, dia cepat beradaftasi di lingkungan baru dan teman pertamanya juga anak perempuan, dia anak petani yang rumahnya berseberangan dengan komplek kami, anak ini selalu menunggu dan memanggil Fatih, agar bermain dengannya. Heran juga awalnya, kenapa Fatih cepat sekali dikenal oleh anak-anak perempuan, dan akhirnya saya lihat sendiri, ketika mengajak dia bermain di Park, Fatih lah yang maju memperkenalkan diri:

Sen adi ne? -Nama kamu siapa-

Ben, Fatih? -lalu ngajak salaman gitu–,  Fatih selalu berinisiatif untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu, lalu mengajak teman barunya bermain.

Bersama melisa, teman barunya.

Tentang Sekolah

Sebelumnya Fatih sempat masuk Tk di İstanbul, sayangnya harus terhenti ditengah jalan, karena kepindahan tugas Babanya ke İskilip. Dia sudah berusaha nyari info TK baru untuk Fatih, TK terdekat ada TK Negeri, sayangnya kami kesulitan di mobil antar jemput, jadwalnya tidak cocok dengan jam belajar anak TK, Karena lokasi tinggal yang cukup jauh dari pusat kota sekitar 6 km, setelah kita pertimbangkan berdua, ya sudahlah ga lanjut TK. Otomatis sekarang Fatih lebih banyak di rumah, Buku-buku belajar diberi sepaket besar dari TK nya di İstanbul, Tinggal niat Anne nya aja untuk ngajarin di rumah, Summer nanti sepertinya Fatih langsung masuk SD saja, Saya sempat memiliki kekhawatiran, tapi tetangga depan rumah, si Fehriye bilang, Ga usah khawatir, nanti di SD dia baru belajar berhitung dan membaca.
Ya Umumnya memang di TK disini tidak disarankan untuk mengajarkan belajar membaca dan berhitung, porsi bermain, dan kreatifitas yang lebih banyak. sekarang biarkan saja dulu dia puas-puasin bermain di alam terbuka. Babanya tidak begitu menekankan perlunya pendidikan dini untuk anak dibawah usiaa 6 tahun.

Pondasi dasar dalam mendidik

Jujur saja, teori dan praktek parenting yang saya terapkan masih jauh dari sempurna, tapi saya selalu yakin dengan cara saya mendidik anak-anak, Sebagai seorang Muslimah tentu saja saya punya kewajiban mendidik dan mengenalkan dasar-dasar anak saya dalam agama, İbu adalah madrasah utama anak-anaknya. Ya meski berat tapi disini peran saya harus totalitas, saya mengenalkan pendidikan agama dasar dulu, tentang siapa penciptanya, tentang adab, perilaku yang bisa dicontoh anak, belajar berempati, mengenalkan konsep berbagi, dalam hal ini saya memakai konsep antara lain:

  • kotak koin.

 Di rumah selalu ada kotak koin yang sengaja saya tulis: sedekah. Untuk mengumpulkan sisa koin uang belanja, Fatih selalu inisiatif untuk mengisinya, setelah kotak koin penuh, kemudian ketika sudah terkumpul banyak, kami berjalan menuju masjid atau badan amal yang membuka tenda-biasa ada disekitar masjid di center belediye, lalu kemudian saya melatih Fatih agar berani memberikan sendiri, sumbangan dari kotak koin yang dia kumpulkan. Fatih selalu antusias memberikan hasil kotak koinnya, dia tidak tertarik untuk meminta koin koin tersebut karena memang bukan hak nya.

  • Tidak mengenalkan musik

Bisa jadi karena saya tipe : ga bisa nyanyi, suara kayak kaleng rombeng, dan memori saya untuk mengingat syair lagu itu super parah. Asli saya itu malas banget nyanyiin anak-anak sebelum tidur, mau versi Turki maupun indonesia. Alhasil penghantar tidur mereka hanya 1: selavat serif. Saya suka nada nya dan melekat diingatan saya cukup kuat. Buat yang penasaran jenis sholawatnya, bisa lihat video di bawah ini.

  • Mencintai lingkungan

İni juga salah satu yang saya ajarkan dan wariskan ke anak-anak, pelajaran sederhana untuk membentuk karakter mereka. Memupuk kepeduliannya dengan lingkungan. Membuang sampah pada tempatnya! Mudik 2017 silam menjadi hal yang membanggakan saya secara pribadi. Ceritanya Fatih main dengan keluarga tante saya, diajak membersihkan makam, sambil bermain di area makam keluarga yang memang asri, Fatih dengan sepupu-sepupunya bermain dan juga dijajanin si tante, anak-anak lain, begitu selesai makan, ya buang aja sampahnya di area makam, sedang Fatih tetap memegangnya, sampai pulang ke rumah, sampah jajanannya dia pegang, sampai tante saya merasa heran, dibujuk untuk dibuang di jalan, Fatih ga mau, dia bawa sampah ke rumah dan dibuang di tong sampah dapur! Bravo! Hal sederhana memang, tapi ini pondasi dasar untuk Fatih di masa depan, mencintai lingkungan.

Bahasa yang digunakan sehari-hari

Fatih sehari-hari biasa menggunakan bahasa indonesia, karena waktu dengan saya jauh lebih banyak, bahasa indonesianya bisa dibilang lumayan untuk anak campuran. Meski sering kebolak-balik kalimatnya. Ya kadang lucu juga sih, kalau dengar dia ngomong:

”Anne, baba dimakan ayam!”. padahal maksudnya , ayam goreng punyanya dimakan baba.

Pernah juga dia bilang: ” anne, aku gigit semut!” yang dia maksud, dia digigit semut. ” anne kamu sedang ngapain?’‘ ” aku acıktim (kadang dicampur Turkche nya) Sejauh ini masih lancar jaya dia berbahasa indonesia di rumah. Kebetulan kami jarang-jarang ketemu keluarga, palingan berbahasa Turki dengan baba atau ketika bermain di luar rumah, Fatih sudah bisa mengkondisikan kapan berbahasa indonesia dan Turki. Beberapa video obrolan dengan Fatih ada di akun İnstagram saya: @Rahmabalci.

Fatih

The moment a child is born, The Mother is also born ——quotes

Untuk bahasa inggris saya juga perkenalkan kata-kata dasar, dia lebih banyak menyerap bahasa inggris dari tontonan video: seperti channel: blippi.Funchannel, Ryantoysreview. Dalam perjalanan Mudik, di Pesawat, dengan lancar dia bisa berkomunikasi dengan mbak pramugarinya, ketika meminta sesuatu, dia berbicara dengan bahasa inggris sebisanya. untuk kepercayaan diri, Fatih lumayan sih dibanding Annenya heheh. Pernah waktu Ramadhan di Mall, ada panggung hiburan, ketika MC nya meminta volunteer maju ke panggung, dengan percaya diri dia tunjuk tangan dan maju ke panggung, Babanya panik karena merasa belum siap, karena Mc meminta anak dan baba untuk ikut bermain Game. Dia dengan percaya diri maju duluan.

Harapan untuk Fatih

Sebagai anak pertama, memang kami menaruh harapan besar untuk Fatih. Disatu sisi Baba berharap Fatih tumbuh jadi anak laki-laki kuat, berkarier di Militer (Aduh beneran ini cita-cita babanya banget) Tapi sebagai seorang ibu, apapun kelak profesi yang akan Fatih pilih dan jalani, semoga dia berdedikasi, jujur, amanah. Tumbuh menjadi laki-laki Muslim yang membanggakan, Bermanfaat bagi umat, Jadi anak saleh, sebagai jariyah kami kelak di akherat yang tak terputus doanya. Untuk kewarganegaraan, sepertinya Fatih akan lebih cenderung memilih negara Babanya:P (tapi ga tahu juga di masadepan) Tapi jangan lupakan juga akar dari garis keturunan anne ya nak..İndonesia. Fatih bisa bicara bahasa indonesia saja saya bangga apalagi kalau bisa bahasa sunda nak:D jadi anak polygot ya, menguasai banyak bahasa.

Ketika anak tumbuh semakin besar, lalu ga sengaja buka memori di laptop, kadang kangen masa-masa dia bayi, masa-masa tumbuh kembangnya, belajar duduk, belajar makan, momen yang lucu dan juga bikin jantungan, seperti ketika dia menyiram hp babanya dengan sebotol minyak kayu putih:D naik ke meja dan menutup laptop dengan kencang kemudian layarnya rusak parah, muka baba yang nahan marah sampai merah bak kepiting rebus.oh nak..kamu itu lucu lucu gemesin.

Sepenuh cinta…, dari anne mu yang masih ngarep dipanggil ibu.