Kalau nulis Journaling tentang moment-moment yang tidak terlupakan, ehm banyak juga yang saya ingat, saya termasuk orang yang ‘nekad-an’

  • Bawa Kabur motor

Sebaiknya jangan ditiru! Ceritanya waktu SMA saya berteman dekat dengan teman satu asrama tapi beda SMA, waktu liburan, saya ikut pulang ke rumahnya di Magetan. Moment berkesan di Magetan? Pertamakalinya saya belajar naik motor diajarin si teman. Muter-muter kota kecil Magetan yang masih asri. Bahkan saya dan si teman sempat jalan ke Madiun, main ke rumah teman saya yang lain. Karena kami berdua belum punya SİM, sempat juga nekad, mau bawa motor ke Yogya dari Magetan, nekad banget! si teman kemakan omongan saya, entah kenapa saya bisa mempengaruhi dia. kenekadan kami berujung apes, kami mengalami kecelakaan tunggal, karena Hujan, jalanan licin. Pas di depan rumah warga, ditolong dan kemudian ditelpon İbunya si teman di Magetan. Saudaranya jemput kami, sesampai di rumah si teman, kami dimarahi habis-habisan, kalau ingat peristiwa itu sungguh ga kebayang, kenapa dulu saya dan siteman senekad itu, mau bawa motor balik ke Yogya hanya modal STNK. Sampai terakhir bertemu ibunya siteman saya selalu ga enak hati, ingat peristiwa kenakalan kami masa SMA.

Yogyakarta Nostalgia

  • Satu Kelas tidak upacara 17 agustus

Balik ke Masa SD, mungkin bakat sebagai provokator sudah terasah dari bangku SD, saya masih ingat. Kelas 6, saya bisa mempengaruhi anak satu kelas untuk bolos upacara 17 agustus di Sekolah. Dan hampir 90 % teman-teman mengikuti hasutan saya, Bolos berjamaah. Esoknya saya dipanggil kepala sekolah, karena satu kelas kompak mengatakan, kalau saya yang mempengaruhi mereka untuk bolos sekelas. Dapat hukuman, menulis di buku: Saya berjanji tidak akan nakal lagi entah berapa lembar, dan hukuman berdiri dekat tiang bendera, hormat sang saka merah putih di jam pulang sekolah.

  • Dicari bapaknya teman

Waktu SMA, saya punya salah satu sahabat dari Mts yang dekat dan nekad, meski berbeda SMA, dia sering sekali datang ke SMA saya, nerobos, sampai saya dipanggil guru BP. Yang lebih nekad dia ingin ikut saya ke Jakarta, dalam rangka libur sekolah, kebetulan rumah saya daerah pinggiran Jakarta, jika naik kereta, turun di Ps. Senen atau Jati negara. Si teman anak perempuan satu-satunya yang disayang bapaknya, bisa dibilang penjagaan bapaknya ketat. İzin ke luar kota sudah pasti tidak akan turun. Dan entah kenapa dulu saya dan si teman nekad, pergi ke Jakarta, ngajak dia liburan di kampung saya, menuju Jakarta, kami naik kereta kelas ekonomi dari stasiun lempuyangan, dan ini masih area rumah si teman, selama menuju stasiun, udah kayak buronan, mengendap-ngendap, supaya abahnya si teman tidak lihat, hingga kami sukses naik kereta menuju Jakarta. Perjalanan sampai Jakarta dan menuju kampung saya, Sukses. Selang beberapa hari, siteman menghubungi abahnya. Ngamuklah abahnya, ternyata abahnya sampai nyari saya ke Asrama, dan bilang sama pengurusnya: Nyari saya yang bawa kabur anak gadisnya hahah. Anaknya santai aja abahnya marah-marah, ”biarin katanya sesekali ngerjain abah”. Dan saya kok ya dukung aja. ‘‘paling nanti kamu ditandai abah saya, ga boleh nginep lagi di rumah’‘ ujar siteman dengan nada canda, ya meski nekad, sebenarnya saya hafal juga dengan kebiasaan abah si teman, galak tapi juga suka ngelucu, rumahnya sering saya jadikan tempat kaburan, numpang makan. Apalagi beliau punya warung sate dan soto terkenal di Yogya. Ngisengin orangtua–kualat ya– tapi jadi moment tak terlupakan, apalagi sesampainya di asrama, saya diceritakan teman sekamar, ‘‘ada bapak-bapak datang marah-marah nyariin kamu, katanya bawa kabur anak gadis kesayangannya” saya cuma ketawa, untung ga dilaporin ke polisi.

  • Naik mobil razia polisi

Selepas kelulusan SMA, saya dan beberapa teman sekelas anak 3 İpa, janjian untuk pergi ke kota Solo, karena wali kelas kesayangan kami saat itu -Pak Didik Purwaka (sekarang jadi Guru di SMA 3 Yogya) melepas masa lajangnya, berbekal alamat rumahnya saja, kami sengaja datang untuk memberi kejutan. Dengan menumpak Pramex Yogya -Solo. Sesampainya di Kota Solo, kesulitan mencari alamat komplek rumah beliau. Sehingga memutuskan jalan terbaik mendatangi pos polisi di Luar stasiun,tanya alamat. Dan entah kenapa pak Polisi di Solo kok ya baik banget–jadi ceritanya tersentuh gitu sama kebaikan Pak Polisi kota SOLO-– kami jelaskan kedatangan kami ke Solo, untuk memberikan kejutan ke Guru kesayangan kami, sebagai salam perpisahan juga. Dengan baik hati Pak polisi menawarkan mobil kijang Patrolinya, untuk mengantarkan kami mencari alamat rumah pak Didik, Naik Mobil kijang Patroli, dan didepan ada mobil patroli lain yang turut mengantar kami keliling mencari alamat rumah Pak Didik, sepanjang jalan kota Solo, kami tidak berhenti melontarkan candaan, apalagi ada dua teman yang selalu heboh, banyak gaya. Disetiap lampu merah jika ada pengendara motor yang bertanya, dengan kocaknya dia jawab, kami kena razia sehabis mangkal..astagfirullah 😀 kalau ingat itu antara lucu sama menahan malu, karena tingkah si teman bak emon di filmnya catatan si Boy.

Guru yang baik itu seperti apa?

Model mobil kijang abu-abu Patroli Polisi bisa lihat di

mobil patroli polisi

Si teman yang mirip cacing kepanasan sepanjang jalan tidak henti memancing tawa, Meski diantar mobil Patroli, kami beberapa kali masih salah alamat, hingga akhirnya terpaksa telpon pak Didik untuk memberi tahu patokan rumahnya, niat memberi kejutan tapi takut nyasar dan repotin pak polisi. Dan ketika alamat rumah Pak Didik ketemu, Beliau menyambut kami di depan pagar rumahnya dengan kaget, karena diantar dua mobil patroli polisi. Pak Polisi yang mengantarkan kami tetap tersenyum ramah, dan merasa terhibur dengan si ’emon’ yang memancing tawa sepanjang perjalanan.

Bukan tipe anak yang menonjol tapi sekali membuat kehebohan seakan alam semesta bersahabat (maksudnya:D) sebenarnya daftarnya panjang, tapi moment yang saya tulis diatas cukup meninggalkan kesan dalam ingatan saya.