Sekitar dua minggu sebelumnya,saya telponan dengan seorang teman, disela obrolan dia cerita ada seseorang yang meninggalkan jejak komen di kolom sosial medianya, Bahwa dia seorang perempuan indonesia yang sedang menjalin hubungan dengan pria turki, bercerai dari suaminya, berharap hubungannya dengan sang pacar turki ini langgeng dan berakhir dipelaminan. Kemudian cerita yang sama saya baca di beranda sosial media, ada seorang teman juga yang menceritakan kisah hampir sama, perempuan indonesia yang lebih memilih bercerai dengan suaminya dan menjalin hubungan dengan pria turki, jauh kebelakang saya jadi ingat pernah menemukan komen di salah satu akun youtube, dia meminta dukungan ke youtuber tersebut, karena sesama perempuan indonesia yang sedang LDR-an, berharap kisahnya juga berakhir dipelaminan, yang membuat saya terkejut membacanya, karena dia mengaku masih berstatus istri orang, sang pacar turkinya mau datang ke İndonesia, dia sedang kebingungan.

Saya cuma kepikiran, kok ada ya yang bisa senekad itu, memilih melepaskan pasangan sah-nya demi seseorang yang belum jelas kepastiannya. Saya terus terang sering dapat email atau DM yang menanyakan prosedur menikah dengan orang Turki, asal statusnya sama-sama single, mau gadis atau janda ga masalah, selama saya tahu informasinya saya balas emailnya, nah beda perkara kalau statusnya masih terikat pernikahan kok nanya prosedur menikah dengan orang Turki, walahhhh! rasanya ingin seketika berubah jadi ‘Mamah dedeh’ lalu memberi tausiyah, eh belum kapasitas juga ya, paling ga, saya gak mau mendorong teman perempuan indonesia mengambil keputusan senekad itu. Bukan bahagia yang didapat, bagaimana kalau ujungnya hanya untuk dimanfaatkan, maaf saja, kasus kekerasan termasuk tinggi di Turki. Janganlah bertindak bodoh.

KDRT tinggi loh di Turki!

Ngobrol dengan teman Turki tentang KDRT

Perselingkuhan, poligami di Turki bagaimana?

Tidak semua pria Turki baik, penjahat juga banyak, itulah lapas juga selalu penuh kok. Membaca tulisan tentang sekelompok pria turki yang hanya ingin bersenang-senang memanfaatkan perempuan indonesia, mereka mengirim tiket PP ke Turki, mengundang si perempuan datang, untuk menikmati kebersamaan, mungkin juga berujung urusan ranjang, berharap berakhir indah, namun ternyata cuma dimanfaatkan. Sungguh bacanya juga geram, dengan kelakuan pria yang mengundang dan perempuan yang datang menghampirinya.

Perselingkuhan online dengan pria Turki?

Saya baca sebuah tulisan tentang Perselingkuhan online, jenis Perselingkuhan ini hadir karena sebuah KEBUTUHAN, tentang bagaimana dia memuaskan kebutuhan mental dan fisiknya, difasilitasi oleh ketersediaan akses dari platform yang menyediakan koneksi dengan mudah (konselor psikologi Dr. Pradnya Ajinkya-sumber suara . com)

Sekarang hampir semua orang memiliki smartphone, men-download– berbagai sosial media, membuat akun dan bisa terhubung dengan siapapun tidak hanya dengan teman sebangsa. Saya akui beberapa tahun ini, demam Turki baik dari pengagum pemimpinnya, artis idolanya karena drama-drama Turki mulai masuk ke indonesia, Promosi pariwisatanya yang cukup gencar pula, yah Turki menjadi daya tarik tersendiri, bahkan tadi siang saya sempat baca twittan teman blogger yang menceritakan tentang beredarnya kabar di grup WAG keluarga, yang menolak vaksin dari Cina, dan memilih menunggu Vaksin dari Turki yang datang? Vaksin Corona dari Turki? Sejauh yang saya tahu, memang sedang dikembangkan, tapi tentang kejelasannya saja tidak terungkap detail, justru menteri kesehatannya Dr. Fahrettin H, sudah mengumumkan kalau Turki juga memakai Vaksin dari Cina, 50 juta vaksin sudah disiapkan. Untuk Vaksin buatan dalam negeri belum sampai tahap uji coba apalagi diedarkan, dengan kondisi sekarang dimana angka positif corona di Turki juga naik terus, keputusan membeli Vaksin dari negara jerman maupun cina jadi keputusan tepat dan mendesak.

Pesona pria Turki?

Nah dibalik pesona-pesona Turki, banyak juga yang bermimpi hidup di negara ini, entah dengan alasan apa saja-Ya kalau memang sudah jalan jodohnya, siapa yang melarang,tapi ada aturannya juga, jalan mana yang diambil? ini akan berpengaruh besar dengan kelanjutan hubungan, berharap rumah tangga penuh kebahagiaan, tapi dibangun diatas pengkhianatan ikatan suci sebelumnya?

Beberapa tahun ini banyak sekali perempuan indonesia yang menikah dengan orang turki, tarik kebelakang diawal saya menikah, hanya segelintir teman indonesia yang saya kenal dan menikah dengan orang turki, seiring penggunaan sosial media dan akses yang mudah, muncul juga sisi negatif, berita-berita yang kurang menyenangkan, ada teman indonesia yang menikah dan jadi korban kekerasan dalam rumah tangga, berbagai cerita menyedihkan satu persatu terungkap, salah satu teman penulis yang juga menikah dengan Pria Turki menerbitkan buku tentang kisah-kisah kelam ini, responnya antara negatif dan positif, satu sisi banyak yang merasa tidak terima, dan menyerang si penulis, seakan mengumbar ‘aib’ meninggalkan kesan, betapa buruknya pernikahan dengan pria turki, tapi disisi lain membuka mata tentang kisah kisah kelam, berharap menjadi pelajaran untuk perempuan indonesia, yang begitu nekadnya mengambil keputusan datang menemui pujaan hatinya di Turki, menanggalkan rasa malu, kisahnya tidak berakhir bahagia seperti teman-temannya yang dia lihat di sosial media.

Ketika ada yang bertanya tentang prosedur menikah dengan laki-laki turki, dan ditanya balik. ” sudah menjalin hubungan berapa lama?”. Lalu dengan percaya diri dijawab ” 9 hari, dan selama 9 hari itu konon katanya komunikasi tidak terputus”. Gedubrakkkk! bayangkan 9 hari, ngalah-ngalahin orang yang harus isolasi mandiri karena Covid19 aja 14 hari. Hanya butuh 9 hari? untuk yakin menikah dengan lelaki yang dia temukan di sosial media-.-‘ tadinya mungkin orang berpikir saya termasuk orang nekad ketemu suami di internet, tapi ada yang lebih ‘luar biasa’ percaya diri dalam hitungan hari perkenalan sudah bertanya tentang dokumen menikah.

Saya jadi teringat tulisan diberanda FB tentang pengaruh 2 hormon salah satunya dalam percintaan hormon Dopamine, hormon Dopamin berpengaruh terhadap munculnya perasaan yang menyenangkan seperti jatuh cinta, gembira, percaya diri, tapi jika dilepaskan berlebihan, hormon Dopamin juga bisa menjadikan seseorang begitu terobsesi pada sesuatu. Nah kalau lagi dipengaruhi hormon-hormon jenis ini, jadi ingat sebuah frasa lama dari Alm Gombloh: ” kalau cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat”.

Udah ga bisa diajak mikir waras lagi, sudah terpenuhi dengan berbagai obsesi tentang keindahan hidup di Turki, suami hidung mancung, bisa melihat salju, mata biru. ya..ya, apalagi kondisinya sedang tidak bahagia di rumah, ingin kehidupan baru, rela melepaskan kehidupan yang sebenarnya baik-baik saja, memilih meninggalkan pasangan dan bercerai kemudian menemui pujaan hatinya di negeri seberang. Ada ya? banyak cerita seperti ini belakangan bermunculan, atas nama cinta? entahlah. Udah ga bahas dosa-dosa lagi, itu urusan masing-masing, namanya masih berstatus sah pasangan seseorang kemudian selingkuh? Dan berharap pernikahan sakinah mawaddah warohmah–diatas kesusahan orang lain–anak dan mantan suami yang ditinggalkan?– Saya jadi kepikiran tentang kalimat: Perempuan jadi sumber fitnah–ya kalau tindakan-tindakan senekad ini terus saja bermunculan, ga heran citra perempuan İndonesia dimata Pria asing juga semakin minus dan berimbas juga ke semuanya. Selalu ada oknum oknum yang gemesin kayak gini, ”ayo dong mbakyuuuu…, hidup itu ga makan cinta sesaat, kalau hormon hormon penyuplai percintaan itu kadarnya menurun, ujian makin berat, jangan ambil keputusan disaat galau”.

Terakhir saya mau mengabarkan saja, saya ada grup di telegram : Temanpanda – karena sering sekali dimintai nomer WA, belakangan kebijakan WA kurang populer ya dan banyak yang menyarankan uninstall dan pindah ke telegram. Saya juga ada akun di telegram, jika tertarik untuk sharing di telegram silahkan, kedepan mungkin akan saya private untuk kenyamanan.