Generasi Z itu adalah: Anak-anak yang lahir mulai dari tahun 1996-Generasi pertama yang menggunakan Sosial media di sekolah menengahi, seluruh generasi ini menjadi pribadi lebih mudah cemas, rapuh dan tertekan, mereka kurang nyaman mengambil resiko.( Jonathan Haidt.Phd, seorang social pshycologist dari, NYU stern School of Business.)

Generasi pertama yang menggunakan sosial media, atau kini sudah termasuk generasi yang ketergantungan sosial media? Jangan heran kalau kita bisa saja menemukan akun-akun sosial media, anak-anak dibawah umur yang berani mengekpresikan diri menggunakan berbagai aplikasi, baru pacaran 3 hari, sudah mengucapkan anniversary, atau mungkin pernah baca, screenshoot, yang dijadikan viral, ketika anak SD pacaran, chat WA sudah menggunakan nama panggilan khusus mamah-papah, ayah-Bunda.

Sisi lain kehidupan Generasi Z

Mengikuti akun seorang İnfluencer yang menurut saya menarik, jadi menambah pengetahuan saya tentang dunia lain, dunia lain disini bukan dunia ghaib ya, terus terang, Dunia yang berseberangan dengan kehidupan saya, yang terlihat flat dan konservatif. Paling tidak untuk sekadar tahu tanpa harus tercebur merasakannya, ini masalah prinsip saja. Lalu dalam pikiran saya muncul pertanyaan-pertanyaan, seperti ”kok bisa ya?’‘. ‘‘ İtu orangtua nya gimana, apa engga tahu?” Ok urusan dosa memang urusan yang bersangkutan dengan Tuhannya, itu juga kalau mereka mempercayainya.

Banyak istilah yang saya pelajari lewat sosial media, seperti hari ini. Ketika saya mengikuti instastoriesnya-Alexander thian dengan akun Amrazing-nya, yang membuat saya tercengang membaca QnA tentang FWB (Friend with benefit) istilah lain dari Hubungan tanpa status yang jelas, lebih intens, emosional karena saling membutuhkan terutama diurusan Se**. Followernya banyak menjawab kemudian dia unggah, membacanya cukup membuat tercengang, Bahasa-bahasa vulgar, mereka menulis tanpa rasa malu akan aib-nya sendiri, karena toh disamarkan. Saya cuma bisa bilang ”wow”. Tapi lucunya banyak yang melenceng dari tema yang dibahas, justru kebanyakan pengakuan follower sebagai peselingkuh atau diselingkuhi, padahal istilah Fwd ini lebih kesesama single tanpa ikatan, kalau salah satunya terikat ya namanya selingkuh.

Dan selain Alex thian, sesama influencer lainnya jenny yusuf juga sering membuat QnA tentang relationship, ok disini saya harus benar-benar berpikiran terbuka tanpa harus men-judge– mereka-mereka yang nyaman bercerita ke idolanya lalu dijadikan konten. Dunia diluar sana sebebas itu kah? İni yang ada dipikiran saya.

Bayangkan saya pernah membaca pengakuan followernya, dihari raya Lebaran, ketemu pacar, lalu melakukan hal maksiat di kamarnya, tanpa orangtuanya tahu, atau ada juga yang kepergok melakukan ‘sesuatu’ dengan pacarnya dan kepergok orangtua, bersikap masa bodo?? Sebentar, saya pikir ini cerita dari negara bebas, negara sekuler atau negara atheis, ternyata dari negara sendiri.

Sebagai orangtua harus bersikap bagaimana?

Sebagai orangtua yang memiliki dua anak, pikiran saya sudah menerawang jauh ke depan, bagaimana nanti lingkungan pergaulan anak-anak ketika remaja. Bagaimanapun kuatnya membentengi dari rumah, lingkungan akan berperan besar membentuknya juga. Saya saja cukup terkejut ketika membuka sosial media, anak perempuan seusia Fatih sudah datang ke konser grup girl K-pop, Sedang anak-anak dirumah masih anteng nonton Pocoyo. Apa yang salah? Bukannya grup musik tersebut bukan segmen anak-anak? Fatih baru umur 7 tahun rasanya aneh kalau dia mengidolakan grup vokal yang bukan untuk usianya.

Apa itu Roleplayer?

Saya juga baru baca di salah satu grup Fb tentang grup RP – Roleplayer–penulisnya menjelaskan jika 99 % anggotanya adalah anak dan remaja dari SD sampai SMA, Grup berkedok Fans K-pop, tapi banyak yang isinya jauh melenceng, berisi pembahasan layaknya orang dewasa, Share konten por***grafi dengan bebas, Admint akan membagikan link-link konten Por** untuk diakses dan terhubung ke sosial media lainnya, permainan RP ini sangat merusak moral anak dan remaja, dengan bahasa vulgar, anggota grup bisa berganti peran, berganti gender dalam komunitas dengan dirahasiakan gender aslinya, jadi celah para penjahat kelamin mencari mangsa, Pedo** . Dengan ‘bungkusan’ grup İdola, ternyata isinya jauh dari tujuan sedikit penjelasan tentang RP saya baca disini tujuan awalnya seperti ditulis di link sebelumnya,tapi menurut narasumber seorang ibu yang mengecek gadget anak nya, banyak yang ternyata Grup komunitas ini hanya ‘Kedok’ Grup penggemar, nyatanya merusak anak dan remaja, konten-konten dewasa yang belum layak ditonton anak dibawah umur dibagikan begitu saja, asal jadi anggota.

Lalu balik lagi ke tulisan diawal, tentang para follower İnfluencer tersebut, yang dengan tanpa rasa malu, mengakui semua kehidupan bebasnya, bermuka dua, didepan orangtua bersikap seakan anak baik, ternyata kelakuan dibelakangnya jauh dari ekpektasi. Apakah mereka termasuk generasi Z ini? ya bisa jadi, karena seringnya membahas relationship dan segala tetek bengeknya, bahasan anak-anak muda kekinian. Saya simpulkan mereka mayoritas Generasi Z.

Baca juga ya:

Belajar daring versi anak sekolah di Turki

Peran ayah dalam mendidik anak di rumah bagaimana?

6 Langkah membatasi İnternet untuk anak

Kebayang kan, Generasi 90-an termasuk saya ini, menjadi orangtua generasi Z, saya tidak boleh lengah dalam pengawasan, memberi kepercayaan ke anak dibarengi mendidik anak untuk memahami batasan-batasan menggunakan internet. Sejauh ini, Fatih masih terkontrol, dia hanya main PC, game–dan selalu Game tentang tank-.-‘ kemudian youtube, nonton kartun-kartun, rutin saya cek historynya lewat chrome atau Youtube. Anak sama sekali tidak saya kenalkan sosial media, membuatkan akun atas nama sendiri bak anak public figure? Tidak. Anak-anak butuh privasy, kalaupun saya posting anak, dengan batasan yang sudah disepakati dengan babanya, terutama aurat anak, sebisa mungkin pakaian yang sopan. Smartphone adalah barang terlarang dirumah untuk anak-anak, saya atau baba nya akan menegur keras, sudah ada PC dan smarttv jika ingin menonton kartun. Jadi bermanfaat ketika anak diajak bepergian, mereka akan menikmati setiap momen perjalanan dan tidak kehilangan fokus dengan main game di HP. İni hanya salah satu cara kami mengawasi dan mendidik anak-anak dalam pembatasan berselancar di İnternet.

Bisa saja semakin bertambah umur, kami lengah dalam pengawasan, sedari mereka masih bisa dibentuk, kami coba terus memberikan pemahaman, obrolan-obrolan tentang sisi negatif İnternet sering kami selipkan, Teknologi memang memberikan banyak kemudahan tapi ibarat dua sisi koin ada satu sisi lain yang ternyata mengerikan. Hidup dan membesarkan generasi yang sudah melek sosial media dan internet bukan perkara mudah, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu” –Ali Bin Abi Thalib. Mereka diciptakan untuk Zamannya, sedang kita diciptakan untuk zaman kita dulu, jadi patokan mendidik turun temurun dari leluhur harus diinovasi menyesuaikan zaman. Orangtua juga harus mengikuti perkembangan sosial media, perkembangan disini bukan cuma sibuk debat yang tiada akhir sesar vs normal, vaksin vs non vaksin, sibuk scroll gamis syar’i untuk hijrah atau sibuk ngejodoh-jodohin artis dangdut maupun sinetron yang sedang naik ratingnya.

Semisal anak remajanya suka dengan K-pop, solusinya bukan ngomel-ngomelin dengan label haram, beri pendekatan, masuki dunianya, jadi temannya bercerita, namanya anak remaja masa-masa pencarian jati diri, mereka butuh bimbingan yang terarah bukan terus disalah-salahkan, ketika hatinya mendekat, kita bisa memberikan pengarahan, jangan sampai kejadian si anak masuk grup İdolanya tapi ternyata Grup terselumbung yang mengerikan. Anak terlihat lugu, polos dari luar, tapi entah apa yang dia lakukan ketika sedang sendirian dan asyik bermain HP.

Masih dari social psycologist, Jonathan H. Phd. Dia menjelaskan tentang adanya peningkatan besar dalam depresi dan kecemasan bagi remaja di Amerika serikat periode 2011-2013, Ada 100 ribu jumlah gadis remaja dirawat di Rumah sakit setiap tahun karena melukai dirinya sendiri naik 62 % lebih tinggi usia pra-remaja, Lalu Bunuh diri menjadi trend di usia 15-19 tahun angka ini naik jadi 70 % dibanding dekade pertama abad ini, terutama pra-remaja naik 151 % dan pola ini mengarah ke penggunaan sosial media (sumbel: The social dilema dok)

Ngeri ya? Angka Bunuh diri anak remaja meningkat hanya karena sosial media, kalau tidak salah beberapa waktu lalu ada berita tentang anak remaja perempuan yang gantung diri karena putus dari pacarnya? nyata loh ini, Mental rapuh generasi Z memang terbukti. Kedepan semoga kita sebagai orangtua atau calon orangtua, lebih peduli lagi dengan kondisi anak, mentalnya terutama, jangan sepenuhnya diamanatkan ke ‘Asisten’ bernama gadget, meski awalnya terkesan membantu, tapi lama kelamaan bisa menjadi ketergantungan, dia jadi bebas menjelajah, apalagi jika memasuki usia remaja dan kadar keingintahuannya tinggi, hanya mengandalkan info satu arah dari mesin pencarian. Tanpa ada ruang diskusi yang orangtuanya buka. Anak bisa salah arah.