Dari kemarin tulisan saya ‘agak-agak ‘ seram tentang sisi lain Turki, Untuk tulisan ini, mengimbangi sisi lainnya. Tentang bagaimana hubungan dengan Mertua, terutama urusan membantu beliau panen, lebih tepatnya saya datang berkunjung Ke rumah beliau untuk menengok, apa ada buah atau sayur yang bisa saya petik? Wah datang pas mau panen, tidak tahu membantu bercocok tanam, menantu macam apa ini? ya macam saya ini:D

Rumah beliau di Desa, tidak jauh dari Pusat kota Corum, Mertua saya memang berprofesi sebagai Petani, menggarap ladang gandum dan kebun sayur. Kebun di pekarangan rumah beliau ada dua. Satu persis di depan rumah, lalu kebun kecil disamping rumah tuanya yang dijadikan gudang tempat menyimpan hasil panen-semacam lumbung- Kebun yang berukuran lebih besar tepat di depan rumah, Beliau menanam pohon anggur yang merambat mengelilingi rumah, lalu sebuah pohon besar yang berdaun rindang, yakni pohon walnut, di belakang rumah, pohon plum hijau, pohon apel hijau dan pohon buah quince (ayva), tepat di sisi gerbang depan ada dua pohon apel, satu berukuran besar, dan satu berukuran sedang, Kemudian pohon apricot dan cherry, karena sudah lewat musimnya, kedua pohon ini mulai meranggas.

BacaKeluarga Turki yang penuh warna

quice-apel-anggur-blackberry

Di kebun samping lumbung, ada lagi pohon 2 pohon apel dan anggur. Sisanya beliau menanam cabe, tomat, selada, daun bawang, daun mint, parsley. Standar sayuran negara empat musim.

Kegiatan saya, sejak siang sampai menjelang sore sibuk metik apel bersama anak-anak di kebun, Mertua membebaskan kami, mau petik apapun di kebun kesayangannya. Kemudian Suami, sekalian meregangkan otot-ototnya mulai membantu membelah kayu bakar, untuk persiapan musim dingin yang akan datang. Karena di Pedesaan umumnya memakai Pemanas ruangan manual, di Turki di sebutnya Soba. Membelah kayu bakar menjadi pekerjaan rutin setiap akhir musim panas, biasanya dua keponakan laki-laki anak kakak ipar nomer tiga yang paling rajin membantu kakek neneknya di desa, mencari kayu dan membelahnya. Kebetulan kami berkunjung, Suami tanpa disuruh Babanya, langsung turun tangan membantu.

ada yang mau apel??

Kegiatan menyenangkan di Kebun sambil memetik apel, tentu saja menjadi pengalaman seru kedua anak saya. Fatih dan Alya, terutama Alya yang sangat menyukai Apel, selama di kebun entah berapa buah apel yang dia makan, belum habis apel satu minta apel yang lain, bebas nak, gratisan heheh. Saya lanjut memetik cabe hijau, cabe pedas. Tahun depan saya titip bibit cabe dari İndonesia yang akan ditanam di kebun Mertua. Kebetulan dapat kiriman bibit lewat teman yang berkunjung ke Turki.

Menjelang sore, setelah terkumpul apel banyak, cabe dan parsley, beranjak masuk rumah, untuk makan malam, karena Tv di rumah Mertua juga sedang rusak, anak-anak libur gadget dua hari, sinyal HP juga tidak begitu kuat. Kegiatan mereka bercengkrama dengan kakek neneknya, main berdua. Minum susu hangat sebelum tidur, Susu sapi yang diperah langsung neneknya menjelang maghrib, rutinitas beliau, begitu hewan ternaknya kembali ke Kandang di sore hari, langsung memakai ‘baju dinas’ untuk memerah susu sapi, kemudian beliau akan mengolahnya menjadi mentega dan keju, yoghurt.

Baca:Cerita pedesaan di Turki

Pagi hari, kegiatan seru lainnya adalah mengumpulkan telur dari kandang ayam, ya telur organik. Alya menikmati sekali pengalaman seru bersama babaanne-nya (nenek) Kemudian lanjut sarapan pagi. Untuk sarapan orang perkotaan dan di desa ada sedikit perbedaan di Turki. Orang-orang di desa biasa sarapan lebih pagi, layaknya masyarakat di İndonesia, karena mereka harus ke Ladang. Tapi orang perkotaan di Turki lebih menyukai sarapan menjelang siang–Suami pernah protes diajak sarapan selepas subuh di İndonesia:D–syok kultur!

Untuk sarapan di rumah mertua, ehm bubur ayam? roti dengan selai mentega? atau ala English breakfast? jangan-jangan nasi uduk dengan rendang jengkol? sebentar ini rumah mertua siapa? Kalau di rumah mertua Keluargapanda, **tarik nafas** pagi-pagi makan kavurma. Kavurma ini sejenis daging yang dipotong dadu lalu ditumis dengan minyak dari lemak daging, dengan bumbu cukup garam saja. Bisa dibayangkan rasanya kan ya? (jangan bayangin rendang pokoknya)

Bahan masakan yang sering dipakai di Turki

kavurma sebagai main menu 😀

Saya? tidak terbiasa sarapan ‘berat’, biasa awal sarapan hanya menikmati Buah, anak-anak juga saya beri menu yang sama, Mengawali dengan buah segar kemudian baru menu sarapan biasa. Mereka suka sekali dengan sereal. Selai. Begitu sarapan di rumah babaanne, spontan dua anak ini tidak mau makan, hanya menyentuh telur rebus dan selai. Kalau saya? mau ga mau ya makan daripada dapat ‘siraman rohani‘ menolak rezeki katanya, beliau memasak satu panci kavurma!-.-‘ Lalu ketika pulang dari rumah Mertua, suami inisiatif membeli ayam potong hahaha, terlalu banyak konsumsi daging. Jatah daging kurban dari Mertua belum kami bawa ke rumah, titip saja di kulkas beliau di desa. Beliau memiliki 3 pendingin. Satu kulkas besar di dapur, dua freezer di ruang depan untuk menyimpan berbagai makanan beku. Luar biasa memang ibu-ibu di Turki. Di rumah masih ada daging kurban pemberian tetangga dan rekan kerja suami, yang banyaknya masya Allah.

Baca:Hal yang menarik tentang KELEDAi

Bulan depan sampai masuk musim dingin, sepertinya masih ada rutinitas berkunjung ke rumah mertua, biasanya di musim gugur panen Labu kuning. Biasa buat halloween, yah di Desa mana kenal Halloween adanya juga bikin kabak tatlısı😀 panganan manis dari labu kuning.

Sebenarnya untuk kebun sayur dan buah, kedua mertua hanya melakukan hobby mereka saja, hasil kebun tidak mereka jual ke pasar, hanya untuk konsumsi pribadi keluarga, biasanya beliau senang kalau hasil kebunnya dibagikan ke anak-cucu yang berkunjung atau saudaranya. Menurut saya pribadi, ini cara beliau berdua berbagi,bersedekah tanpa nominal uang. Usia mereka seumur dengan tahun peringatan kemerdekaan İndonesia. Usia pensiun. Bertani juga tidak menjadi prioritas utama seperti muda dulu, mereka sudah cukup punya jaminan hidup dari Uang asuransi, mengisi waktu di masa tua. Pokoknya kalau disuruh diam, yang ada ngeluh! ya sudah. Mereka senang bercocok tanam, menantu senang memetik hasil panennya:)