Opini ini saya tulis dari sudut pandang saya sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak gadis kecil berusia 1.5 tahun…,
İseng buka-buka instagram banyak lihat berita-berita dari Tanah air, ehm rame ngebahas tentang pernikahan dini (jadi inget sinetronnya agnes monica) Kaget itu pas baca bahwa calon pengantin perempuannya baru berusia 12 tahun, lulus SD?
Saya umur 12 tahun ngapain?
Haid pertama aja belum dapat hehe, boro-boro mikirin nikah, baiklah memang beda jaman juga, katanya anak sekarang cepat gedenya ditambah pengaruh sosial media yang mudah diakses kapan saja dan mempengaruhi pergaulan anak-anak juga (generasi tiktok)
Alasan orangtua ingin menikahkan anak dibawah umur?
-alasan karena faktor ekonomi,
memindahkan tanggung jawab dari sisi finansial ke lelaki yang akan menjadi suaminya si anak (faktor kemiskinan terstruktural)
-alasan agama:
mending nikah dini? nah patokan nikah dini itu umur berapa? kalau 12 tahun???
karena katanya malu sudah pacaran 2 tahun? jadi mending di nikahin–berarti pas umur 10 tahun si anak udah pacaran ehmm..
Kalau malu anaknya pacaran? sebagai orangtua ada bagusnya ya ngebimbing si anak, cari dulu solusi lain, apa solusi dari pacaran bocah SD- HANYA- nikah saja?
Duh kebayang ga sih, beban anak 12 tahun ngurus rumah tangga? masa-masa remaja terenggut dengan digantikan peran besar di usia yang belum cukup matang.
Nikah usia anak-anak?  saya gak kebayang apa yang ada dipikiran ibu bapaknya nikahin anak umur 12 tahun.
Tugas menjadi orangtua dengan tantangan jaman seperti sekarang memang berat, takut anak salah pergaulan hal yang wajar, tapi ya mikir-mikir juga kalau nikahin si anak baru lulus SD.
Lucu nya ada juga yang suka ngebandingin zaman sekarang dan zaman dulu, ” dulu nenek saya nikah umur 14 tahun, baik-baik aja ko? langgeng. Awet.”
Zaman si nenek udah ada internet?? Tv yang nayangin acara-acara kurang mendidik?–ini ngaruh loh  membentuk pola pikir anak.
Ada pesan yang baik dari seorang Nabi yang agung dan luhur: ‘‘ Wahai para sahabatku, kita hidup pada zamannya dan anak kita hidup pada zamannya maka didiklah anak kita sesuai zamannya”
Zamannya si anak umur 12 tahun ini bukan zamannya RA Kartini, pendidikan dibatasi.
Dia punya hak dengan akses pendidikan yang baik, Saya ngebayangin, anak baru lulus SD masuk masa remaja, seru -serunya sekolah, ngukir prestasi, masa-masa mencari jati diri lalu dunianya seketika berubah, harus ngurus urusan rumah tangga?
Saya menikah umur 28 tahun, di usia segitu aja kadang kalau lagi jenuh suka kepikiran jaman single, main sama teman, seru-seruan, apalagi sempat jadi orang kantoran juga, kadang kangen suasana kantor- karena sekarang memilih jadi ibu rumah tangga sepenuhnya, tinggal di negara baru, jadi seorang menantu, istri, ipar yang tentu saja terkadang acara keluarga padat merayap lalu ngurus anak-anak juga?
Buat saya untuk sampai di posisi memikul tanggung jawab besar seperti itu, butuh kesiapan mental besar pula.
Dan yang ga kalah mengejutkan bahwa ternyata İndonesia menjadi negara no 2 setelah kamboja di wilayan ASEAN yang memiliki angka pernikahan anak tertinggi.
Apalagi jika menikah di usia belia kemudian hamil, baik yang direncanakan maupun tidak direncanakan,
Risiko dari sisi kesehatan pun mengintai: Depresi pospartum salah satunya.
Depresi yang terjadi sehabis melahirkan, depresi yang kapan saja terjadi di tahun kelahiran pertama, berbeda dengan baby blues-depresi postpartum kondisi depresi yang jauh lebih serius, mengutip hasil penelitian dari jurnal pediatrics:  perempuan yang hamil di usia 15 sampai 19 tahun 2x lebih beresiko mengalami depresi jenis ini dibanding yang hamil di usia 25 tahun ke atas.
Hipertensi, Anemia dan juga masalah kestabilan ekonomi. (sumber hellodokter)
Balik lagi gimana cara orangtua nya mendidik si anak?
Seorang ahli pendidik mengatakan bahwa 70% peran orangtua dalam membentuk pola perilaku anak, jika orangtua tidak melakukan perannya dengan baik, lingkunganlah yang mengambil peran 70 % tersebut. Lingkungan merupakan faktor pembentuk terbesar ke-3 setelah orang tua dan guru terhadapa pola prilaku anak. (sumber:buku ayahedi)
lalu siapakah ibu yang paling besar pengaruhnya dalam mendidik moral anak, ibu yang paling konsisten, tidak pernah absen, hampir 24 jam sehari kapanpun diminta? namanya ibu televisi dan ibu internet kalau jaman sekarang.
Kemerosotan moral banyak disumbang dari lingkungan, peran orangtua yang tergantikan gadget, lalu ketika anak kecil udah salah pergaulan, untuk nutupin aib karena udah kenal pacaran yang mungkin ‘kebablasan’ diusia dini, solusi si ibu yang panik: udah nikahin aja! buat ngurang-ngurangin dosa-.-‘ apa seperti itu ya pemikirannya (ini berdasar kasus yang saya baca aja ya beritanya, kejadiannya di pulau kalimantan, anak usia 12 tahun mau dinikahkan dengan anak remaja juga berusia sekitar 18 tahun, si calon suaminyapun tidak sempat tamat SD dulunya.)
Namun rencana pernikahan ini memang belum sempat terjadi karena ditolak KUA dan juga tokoh masyarakat setempat. Tapi si İbu yang terkadung malu sudah menyebar undangan, sempat pingsan–videonya pun viral.
Sekarang memang banyak gerakan di sosial media: Gerakan  anak muda tanpa pacaran, gerakan menikah muda! asal juga jelas batas usia MUDA yang dimaksud, saya pikir usia dibawah 15 tahun tidak masuk usia siap menikah.

 batas usia minimal untuk menikah bagi perempuan ditingkatkan dari 16 tahun menjadi 18 tahun. Saat ini, berdasarkan Pasal 7 ayat 1 UndangUndang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, batas usia menikah bagi perempuan ialah 16 tahun dan pria 19 tahun.

 
Menikah bukan tentang seks semata, menikah bukan tentang cara orang tua ‘nutupin’ aib anak nya yang salah pergaulan, menikah bukan  tentang kebanggaan nulis hastag di sosial media :#relationshipgoals, Menikah itu ibadah yang baiknya juga tidak dipaksakan diusia anak yang masih sangat belia.
Semoga kedepan İndonesia semakin turun peringkat sebagai negara yang banyak melakukan pernikahan di bawah umur.