Hosgeldin..buyurunnn…, Begitu membuka pintu apartemen, dan dia datang. ” Kangen..” spontan ngomong sambil menaruh lengan dibahunya ” kangen kenapa?” tanyanya. ” because you are my best friend”. Spontan pula kita berdua tertawa.

Menghidangkan makan malam sepulang dia bekerja, cukuplah yesil mercimek corba (sup lentil hijau) dan potongan ekmek. Selepas makan malam tentu saja, ritual ngecay sebagai pelepas lelah. Lalu obrolan berlanjut. Mengabarkan tentang salah satu teman yang akan datang liburan ke Turki, dan cerita sebagai bentuk laporan, bahwa hari ini datang dua orang dari pengelola gedung yang menanyakan, apakah air dirumah kami bocor. Saya jawab, tidak ada masalah.

Memasuki usia pernikahan tahun ke delapan, tidak banyak yang berubah dari kami berdua, kecuali: berat badan! iya kenyataan hidup yang harus kami alami, eh bukan kami aja kayaknya, banyak kan yang sama,–nyari temen–, dan seperti ritual, setiap memasuki musim semi, berburu alat olahraga di BİM market, Biasanya begitu musim dingin lewat, supermarket sengaja membagikan flyer tentang produk-produk baru yang dijual dalam rangka promo harga, tidak hanya kebutuhan dapur saja, segala hal yang berkaitan dengan musim semi, jual bibit bunga,sayur atau buah, jual segala peralatan olahraga, kenapa alat olahraga? nah ibaratnya ya, ketika musim dingin, orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, cuaca dingin mudah sekali membuat lapar, dan secara tidak sadar, musim dingin itu musimnya menumpuk lemak diperut. Masalah berat badan adalah masalah yang sering kami pusingkan berdua dibanding urusan genting negara.‘.

Tidak ada pasangan suami-istri yang hidupnya lempeng-lempeng aja, semua pasti dapat jatah ujian sesuai kemampuannya, lalu bisa naik kelas. Ada yang baru menikah diuji ketenaran..ada yang baru menikah diuji finansial, yang paling berat diuji kesetiaan,cinta dan janji-janji manis yang ternyata tidak sesuai impian. Banyak.

Ketika melewati hari-hari berat, saya dan dia berusaha saling menguatkan, sebuah pelukan, ruang untuk cerita, berbagi beban, mencari solusi bersama, hal apapun dibiasakan untuk selalu lewat diskusi. Seperti ketika tiba-tiba mendapat mutasi dadakan, karena tidak sesuai prediksi, pindah lebih cepat. Saya memang sempat mengeluh kecewa, karena saat itu Fatih sedang menikmati masa TK nya, harus pindah mendadak. Secara finansial kami juga belum siap, lalu kami mengambil jalan keluar, memakai dana cadangan yang kami simpan. Ada saat dia juga menangis, menghadapi stress nya tekanan hidup, pekerjaan, siapa bilang laki-laki tidak boleh menangis? itu bukan sesuatu yang melemahkan.Tanda bahwa secara emosi dia manusia normal kan.

Marah? apa sering marah? Setiap merasa kecewa, saya atau dia, memilih waktu untuk menyendiri tidak lebih dari sehari, menunggu gejolak emosi mereda. Menurunkan ego, memutar memori. Untuk apa terus memberi porsi kepada ‘kemarahan’ hanya membuang energi, Energi negatif yang terus menguasai. Lalu salah satu , dia atau saya, akan mengatakan: Maaf. Kemudian memberi ruang untuk mengeluarkan segala hal yang mengganjal. Apa yang menjadi pemicu kemarahan. Keluarkan. Kedewasaan bersikap saya dan dia diuji disana.

Ketika hawa kemarahan hampir menguasai, Menarik kembali sebuah memori: Perjuangan untuk bersatu itu sulit.

Kemarahan berlarut-larut? untuk apa? Seandainya dia atau saya, esok tiada, siapa yang akan menyesal, Ya kesannya berlebihan ya: Tapi ini resep saya dan dia ketika menghadapi situasi kritis: Menggali kembali kekuatan cinta, membuktikannya. Mengingat dengan kata ‘seandai’nya. Seandainya saya masih terus marah dengan dia, berlarut larut, dan belum sempat berkata ‘maaf’, Esok apa dia masih ada umur? Esok apa dia masih ada menemani , esok begitu bangun dari tidur, apa masih bisa saya lihat dia tidur disamping saya. Saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu ketika masih bersamanya. Ketika saya atau dia mengingat hal itu, emosi kami menurun, ego kami kalah. Dan spontan akan menghampiri: ” heyy ozledim seni yaaaaa..” Spontan kami berbaikan dan tertawa, ”terus tadi ngapain marah-marah? ”. ”ya pengen aja” pasang muka lempeng.

Beberapa tips dari Keluargapanda untuk ngelola emosi

Wudhu atau cuci muka

Ketika dikuasai emosi (Pms, kurang tidur, lagi laper) ga usah ngoceh terus, eh biasa kan ya Makhluk yang bernama Perempuan katanya sehari bisa mengeluarkan 5000 kata, kayaknya gatel gitu mulut kalau ga ngomel-ngomel. Ok tenang. Tarik nafas dalam-dalam, ambil wudhu atau cuci muka, tenangin diri di kamar. Coba ambil tasbih atau alquran, Paksain baca, syukur-syukur ada terjemahannya, biasanya suka ‘click’ aja nemu ayat-ayat yang nyentil.

Menulis di kertas sebagai terapi

Jangan bicara kalau emosi belum reda, ambil kertas: nulis, iya nulis apa aja yang dikeluhin, tujukan untuk diri sendiri, saya kadang bisa 2-3 lembar hvs, kemudian baca ulang. yang penting keluarin semua ganjalan. Biar hati lega. Kalau level emosinya bisa diturunin, ngobrolin ke suami juga kan enak.

Jauhi sosial media

İni penyakit banget sih, jangan nambah-nambahin bikin status emosian di Sosial media, hanya karena punya masalah sama pasangan, mereka yang baca sebenarnya cuma ‘Kepo’ , toh aslinya kan cuma pengen narik simpati, dinasehatin juga kadang bebal, namanya juga lagi emosi.

Lihat foto bahagia pasangan lansia

Sambil mikir, apa saya dan dia bisa bertahan seperti mereka sampai menua bersama.

İngat tentang kematian

Karena buat saya pribadi: sebaik-baik nasehat tentang kehidupan,adalah tentang datangnya kematian. Duh langsung deh kalau udah bagian ini, level emosi saya mulai menurun, mulai kembali berpikir jernih. Ngapain memperpanjang masalah, kalau bisa diselesaikan dengan cepat, hanya karena ego masing-masing.

Banyak yang mengatakan, Setelah menikah biasanya sifat seseorang berubah? kalau level keromantisan mungkin akan sedikit berbeda ketika masih level pendekatan, ada yang semakin jarang romantis atau malah semakin romantis. Ketika karakter masing-masing sudah terlihat dari awal sebelum memutuskan menikah, rasanya bukan hal yang sulit untuk mengelola emosi, Pasangan kita adalah cermin diri kita sendiri. Pernikahan itu bagusnya memang bisa saling menghargai, adanya penerimaan terhadap pasangan, baiknya maupun kurangnya, bukan hanya janji manis diawal saja. Pembuktiannya lah ketika menghadapi ujian rumah tangga. Semoga bermanfaat, kurang lebihnya, maafkeun lah kalau ini subjektif dari keluargapanda saja.