Memilih pertemanan?
Kenapa engga?
Tapi dari kesemua teman teman yang saya kenal selama menikah, suami adalah teman terbaik ­čÖé┬á seru-seruan bareng suami bersama lingkaran pertemanan sehat yang saya kenal, ini salah satu video yang saya upload di channel youtube saya, pertemanan saya dengan teman sesama mix indonesia Turki yang kebetulan tinggal satu daerah di asian side istanbul.

Awalnya saya selalu berpikir bahwa dasarnya semua orang baik, semua orang bisa dijadikan teman di tanah perantauan…
Seiring jalan, saya mulai mengoreksi kembali apa itu makna pertemanan yang saya cari dan butuhkan.
Lalu ketika punya sosial media, rasanya senang-senang saja di add- banyak teman senasip seperjuangan di negara baru, biar ga merasa kesepian, biar ada teman yang sama-sama ngomong bahasa indonesia, simpel banget ya alasannya.
Semakin banyak teman semakin banyak status berseliweran di beranda social media saya, isinya?
Sebelum menikah , FB saya hanya seputaran teman kantor, teman kuliah,teman lama, teman komunitas desain, so far sejauh itu masih bertebaran hal positif.
Karena menikah dengan orang Turki, pertemanan saya pun merambah salah satunya sesama pelaku mix marriage, ikut grup-grup komunitas yang isinya kebanyak emak-emak semua, ya maksud saya isinya semua yang sudah berstatus: Menikah.
Entah mau dibilang keseruan atau kehebohan atau sumber ghibah pun berdatangan.
Status-status ‘isi dapur’ rumah tangga yang diposting, keluhan A,B,C, D seputaran keluarga suami nya, dan saya pun ikutan pusing, rasanya lebih banyak energi negatif setiap baca status-status yang mencari perhatian atau minta empati. Apalagi ada fase sindir -sindirn status, berantem di komenan orang. Hal yang paling lucu menurut saya, ketika saya posting artikel -itupun hasil share dari grup kesehatan- lalu ada seseorang yang balas membuat postingan to the point menyindir saya dan artikel kesehatan tersebut (sampai mikir: lahh apa salah sayaa, nulis artikelnya juga engga, cuma share sesuatu yang menurut saya bermanfaat, kalau tidak salah ingat tentang bahasan kecantikan natural meski tanpa make up, biasa aja kan judulnya, lalu ada yang tidak terima karena dia suka sekali dengan make -up:D) Ujungnya saya di unfriend,mungkin juga di block karena setelahnya saya tidak menemukan akun yang bersangkutan.
Dan belajar dari hal-hal yang kurang mengenakkan dalam pertemanan tersebut, saya disarankan suami untuk memperkecil lingkaran pertemanan, Apalagi sempat juga ada masalah dengan kasus penipuan oleh WN─░ yang menjadi korban sesama WN─░ juga dan semua berawal dari interaksi di sosial media.
Seleksi pertemanan pun saya ambil, untuk teman kategori suka bergosip saya masukan list terakhir sebagai teman, kalau ga kepaksa-kepaksa amat saya baru nyapa atau sekadar say hello..tidak lebih dari itu, ngejaga agar tidak sampai keluar ‘curhatan’ ke orang yang bersangkutan lalu kabar pun menyebar kemana-mana, tipe kayak gini pasti ada aja.
Tipe yang hobby pamer-pamer, pamer segalanya yang ga mesti di pamerkan ke publik,misal pamer aib suami nyawah tinggalkan sekedar tau saja.
Dan dari seleksi tersendiri saya pun menemukan lingkaran pertemanan yang nyaman, yang bisa saling support jika ada masalah, tidak menggurui, berbagi hal positif.
Pada akhirnya yang dibutuhkan adalah pertemanan yang berkualitas bukan kuantitas.
 
Memilih pertemanan sepertinya lika liku hidup di luar negeri, kadang ada yang bisa dijadikan seperti saudara tapi kadang ada juga tipe tipe Lambe turah yang sebisa mungkin dijaga jaraknya:)
Pernah ngalamin juga ga ketemu lingkaran pertemanan yang ajaib, tadi juga saya sempat baca insta stories┬á salah satu teman saya, dia sedang berada di Mall dan melihat segerombolan geank pertemanan yang lagi ikutan trend ‘Kekinian’ acara bridal shower salah satu teman yang mereka adakan di mal tersebut, si ‘calon manten ‘ nya dipaksa dandan ‘kayak badut’ di tengah keramaian pengunjung mall, apa itu lucu? pertemanan yang menurut saya berkesan ‘merendahkan’ si teman yang mau menikah, dibuat malu dihadapan orang banyak. Oh Ga gitu juga kali…ah sudah lah kok saya malah pengen nyinyirin..astagfirullah bulan puasa-.-” gemas pengen komen kalau menurut saya ya ga etis aja (atau saya udah terlalu tua ga ikut2an trend bridal shower kayak penganten2 zaman sekarang)
Definisi teman menurut kamu?