Pertanyaan tentang, apa agamanya orang Turki? Muslim seperti apa di Turki, lalu keyword: Orang Turki tidak solat? selalu masuk ke laman pencarian dan berakhir di Blog İni. Bahas keyakinan seseorang memang terasa sensitif ya, tapi seperti biasa enaknya ngobrolin masalah ‘Berat’ dengan bahasa santai di Blog ini. Kecenderungan Generasi Turki semakin mendekati atheis-? Serius? Padahal kan pemimpinnya…,

Turki dan Deisme

Apa itu Deisme: Mengutip dari wikipedia: Deisme adalah kepercayaan filosofis yang menyatakan bahwa Tuhan ada sebagai suatu Sebab Pertama yang tidak bersebab, yang bertanggung jawab atas penciptaan alam semesta, tetapi kemudian tidak ikut campur dengan dunia yang diciptakan-Nya.

Deisme adalah pandangan yang meyakini keberadaan Tuhan (personal) namun menolak Agama. Deis juga secara umum tidak mempercayai entitas dan fenomena supranatural seperti mujizat.

Kata Deism mulai muncul dan populer sekitar abad 17 dan lantas mulai resmi tercatat dalam kamus di tahun 1675. Pandangan yang umum oleh para deis adalah Tuhan menciptakan alam semesta dan tidak campur tangan terhadap apa pun sejak itu. Sekilas ini mirip dengan pandangan ateis bahwa tidak ada tanda-tanda di mana Tuhan mempengaruhi sedikit pun apa yang terjadi di dunia saat ini. Semua berjalan sesuai hukum sebab akibat yang berlaku. Perbedaan terletak pada ateis melihat bahwa keberadaan Tuhan pun tidak diperlukan untuk menjawab bagaimana alam semesta ini bermula.

Sumber dari sini

Pertamakali datang ke Turki, ekpektasi saya sama: Dengan Pemimpin yang sedang populer di negara-negara Muslim, paling ga, saya tidak akan kesulitan beradaftasi di negara baru, apalagi dengan banyaknya masjid-masjid cantik yang dibangun. Mungkin akar sekulerisme pemimpin terdahulunya sudah mulai terkikis. Pikir saya diawal kedatangan. Tapi kenyataannya? Meski saya melihat dan berinteraksi dengan mereka yang ‘menutup’ kepalanya memakai scarf cantik yang biasa disebut Esarp-dan mulai populer juga di İndonesia. Hanya sebagian kecil saja yang tertib menjalankan kewajiban solat lima waktunya, lalu beberapa pria memegang tasbih kecil yang saya kira sedang berzikir mengagungkan asma Allah, Suara panggilan azan ternyata tidak menggerakan kaki mereka untuk buru-buru ke Masjid, tetap asyik ngobrol dan sesekali menyesap Cay panas di gelas kecilnya itu, Biasanya disekitaran masjid banyak berdiri Cay evi atau kiraatane* bahkan tempat penjualan lotre, aneh tapi nyata lokasi tempat seperti ini tidak jauh dari masjid. Pulang dari masjid mampir beli lotre, jangan kaget jika pernah melihat ini di Turki, karena saya pernah melihat sendiri. Bisa baca di link dibawah ini:

Hobby ngumpul ngumpul orang Turki

Photo by Rich Smith on Unsplash

Proyek Generasi Soleh yang ternyata?

‘”Since [last summer], seventeen students with headscarves who identify as atheists have come to my office and [told me that] the reason [for their atheism] is the actions of the people who say they represent religion.” — Dr. İhsan Fazlıoğlu, Istanbul Medeniyet University, T24, March 19, 2018.

Agama yang dipaksakan hadir kembali terutama di Generasi Mudanya yang ditargetkan sebagai ”Devout Generations” Generasi soleh versi yang diinginkan pemimpinnya. Tapi elemen seperti Situasi negara dan tekanan di masyarakat menjadi faktor juga, apa agama seperti itu yang mereka harus percayai, Kalau dalam agama Pemimpin harus memberi contoh tentang Hidup sederhana tapi kenyataannya berbeda misalkan, Mereka (para generasi muda) melihat contoh di lapangan tidak sesuai ajaran agama yang diajarkan, Semakin banyak mereka menjadi Deism, tidak menutup mata dan hal ini fakta yang terjadi di Turki, apalagi kasus 2016 yang masih hangat sampai sekarang, karena (mereka) yang dituduh menjadi dalang Adalah orang-orang yang membawa label agama. Semakin membuat generasi muda di Turki ingin meninggalkan agamanya, Miris.

Memang benar semenjak Turki di kuasai Pemimpin yang bukan dari kalangan sekuler seperti terdahulunya, banyak sistem dalam masyarakat dan dunia pendidikan diubah, seperti kebijakan populer yang diapresiasi banyak pihak, kalau di era sekarang Perempuan Muslimah bebas mengenakan kerudung dikepalanya tanpa intimidasi atau dikucilkan lagi, dan berbagai kemajuan khususnya perkembangan masyarakat Turki yang semakin diberi kemudahan mendapatkan akses pendidikan agama. Ok ini disatu sisi, tapi melihat sisi lain kalau kenyataan di lapangan, apa yang digembor-gemborkan tidak sesuai ?

Menurut lembaga survey KONDA yang dilakukan tahun 2018: Semakin meningkatnya generasi muda di Turki yang tidak menganggap diri mereka Muslim. Pemimpin Turki yang mulai proyek İslamisasi dalam dunia pendidikan tampaknya tidak mendapatkan hasil yang mereka inginkan, Pada tahun 2018 di provinsi Konya dilaksanakan sebuah workshop yang di prakarsai Direktorat Pendidikan bertema ” youth and faith” dihadapan 50 Guru dari Sekolah İmam hatip (sekolah agama dibawah pemerintah) justru di sekolah sekolah agama ini kecenderungan murid-murid condong ke arah Deism, karena inkonsistensi dalam pengajaran agama yang didapatkan di lembaga tersebut. Mereka mempertanyakan peran Tuhan dalam kehidupan nyata.

Baca juga:

agamanya orang Turki

Ulama Turki yang wafat di tiang Gantung

investasi emas buat kondangan ala Turki

Awalnya saya hanya berpikir karena memang di negara ini pernah memakai sistem sekuler* Jadi ketika datang ke negara ini melihat masyarakat lokalnya modern, banyak yang tidak berkerudung atau biasa melihat perempuan memakai baju kurang bahan ketika musim panas. Saya pikir hanya karena sistem negaranya saja, tapi ternyata di masyarakatnya sendiri, lebih cenderung Deism, meski jika ditanya: apa mereka muslim? Alhamdulilah Muslim, tapi ditanya Solat atau tidak? Hanya seulas senyum penuh tanda tanya, atau seperti dulu, saya pernah punya teman Turki, saya tanya dia solat atau tidak? jawabannya: Tunggu umur 40 tahun saja. Puncak usia, dan Manusia cenderung mencari ketenangan, haus akan siraman rohani, Ya kalau umurnya sampai.., Sungguh tidak mengerti apa isi otak dikepalanya. Solatnya jika ingat pas solat jumat atau Hari raya saja. Mengaku Muslim tapi tidak melaksanakan kewajibannya , apa sebut saja İslam KTP nyerempet Deism yang semakin banyak di negara Kebab ini.

İni juga masalah sensi saya tulis, pernah ada yang bertanya, ” kamu kenapa cuma solat wajibnya saja sedang sunnah ditinggalkan” tanya salah satu kerabat, Untuk masalah fiqih mahzab, di Turki solat sunat rawatib hampir seperti wajib, mereka selalu menyertakan Solat sunnah ini. Saya waktu itu sedang terburu-buru, hanya menjawab. ” yang wajib saya dahulukan dulu”. Dan alasan klise banget, banyak yang meninggalkan solat, karena ‘berat’. Jadi pertanyaannya: Lebih baik mana, Solat wajib tapi tidak menyertakan sunnah karena suatu hal, atau meninggalkan solat wajib sama sekali? memang lebih bagus keduanya dilaksanakan solat sunnah Rawatib dan solat wajibnya, tapi malah memilih meninggalkan solat wajib dan pembelaan dengan mengatakan: İbadah urusan masing-masing. Lalu lanjut asyik menyesap cay kembali dan melanjutkan obrolan.

Jangan tertipu penampilan di Turki

Berdasar pengalaman pribadi, disatu hari saya pernah berjalan-jalan di Pendik Carsi dengan Fatih-yang saat itu masih usia Balita-Ketika melewati satu Bank, saya melihat beberapa karyawan perempuannya yang salah satunya membalut kepalanya dengan pashmina cantik, sibuk mengeluarkan sebatang rokok dan ngobrol asyik dengan rekan-rekannya, kebetulan sedang jam istirahat yang tandanya mulai masuk waktu solat zuhur kala itu. Perempuan berhijab pashmina tanpa malu merokok di tempat umum, dan cuek saja dengan panggilan azan dari Masjid yang jaraknya tidak begitu jauh dari lokasinya.

Perempuan Turki adalah perokok!

Bukan pemandangan aneh lagi selama saya di Turki. Langkah kecil membawa saya ke Masjid pusat di Carsi, sambil menggendong Fatih, sempatkan dulu Solat sebelum mengajak dia keliling Carsi, Di ruang solat khusus perempuan saya asyik mengamati seorang perempuan berambut pirang dengan pakaian khas orang kantoran, memakai rok span selutut dan make up tebal yang mulai luntur karena terbasuh air wudhu, dia terburu-buru masuk ruangan, kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas-nya, rok panjang dan kerudung, karena di Turki tidak kenal mukena– menunaikan kewajibannya sebagai muslimah. Padahal awalnya saya berpikir kalau tipikal si Mbak ini biasa di Turki, barisan orang sekuler yang tidak terlalu mementingkan urusan agamanya. Ah ternyata salah. Saya tidak bisa menilai lagi Perempuan Turki dengan Penutup kepalanya adalah mereka yang tunduk dalam perintah agama-dalam artian melaksanakan semua kewajiban agamanya atau sekadar mengikuti trend semata. Ya sekadar untuk mempercantik penampilan saja.

Trend Kerudung Turki dan Sosialita..,

Dulu, diawal tahun 90-an, Masyarakat muslim Turki konservatif memperjuangkan jilbab agar bisa mereka kenakan di kampus-kampus, karena berhijab salah satu tuntunan agama yang ingin mereka penuhi, di era Sekarang, Makna berhijab sudah mulai keluar dari tujuan awal yang diperjuangkan muslim konservatif. Salah satu İnfluencer Turki yang kebetulan berhijab, mendapatkan kritik tajam dari netijen, karena mempertontonkan gaya hidup Mewahnya ketika mengadakan seremonial mewlid* dengan gaya jilbab kekinian sesuai trend dan gelang emas yang sengaja dipamerkan. gaya hidup mewah yang dia bagikan, Bersamaan dengan berita hangat tentang 3 warga Turki yang melakukan bunuh diri akibat kesulitan ekonomi. Kontras memang.

Sumber berita:

Orang Turki bunuh diri karena kesulitan ekonomi

Kadang ketika saya diundang teman Turki, harus punya inisiatif untuk undur diri melaksanakan kewajiban solat, terkadang ada teman yang mengingatkan tapi lebih banyak yang tidak peduli, Meski mereka juga berhijab seperti saya, mengucap suhanallah, masya Allah tapi dengan santai melewatkan waktu solat wajib dan tetap asyik bercengkrama. Pernah tapi lebih tepatnya sering.

Punya anak Banyak bukan prioritas orang Turki

Menjadi orangtua di Turki berat?

Tentu saja. Dengan lingkungan dan kecenderungan generasi mudanya condong menjadi Deism, sebagai orangtua terutama ibu, menjadi tugas berat , menanamkan dan mengajarkan agama ke anak-anak, meski setiap musim panas ada lembaga yang membuka kursus Baca tulis alquran, hanya ketika liburan panjang saja. Bagaimana perjuangan antara mendidik anak di rumah dan juga menyelaraskan dengan pendidikan mereka di lembaga sekolah, dari kecil sudah didoktrin tentang Pendiri Republik negara ini, alasannya sebagai pelajaran nasionalisme karena memiliki darah Turki. Lalu ketika Survey yang mengejutkan tentang generasi muda negara ini, membuka mata saya, Turki yang saya tahu tidak seindah yang dibayangkan, Kadang kita terpesona dengan pesonanya luar biasa, tapi kenyataan pahit yang makin mengerogoti di masyarakatnya, akan seperti apa mereka (Generasi muda) 30 tahun mendatang. Tugas berat…,

Menikah beda bangsa dengan alasan sesama Muslim saja (terutama dengan warga negara Turki) , tidak akan jadi jaminan sakinah dan otomatis melahirkan generasi soleh karena tinggal di negara yang ternyata mayoritas juga? jika dari lembaga pendidikan yang awalnya dijadikan salah satu sarana mendidik anak-anak soleh tapi malah menghasilkan anak-anak yang ingin menjauh dari agamanya, seperti kasus 17 anak tersebut. Seperti balik lagi ke awal-awal, jika ingin mengenal dekat orang Turki, kenali dulu Keluarganya, Lingkungannya baru bisa ambil keputusan. Karena bisa saja terjebak dengan penampilan luarnya saja. Wassalam

Keterangan:

  • mewlid: (Mewlid atau Maulid sebutan untuk acara pengajian baik dalam menyambut kelahiran anak maupun kematian- jadi kalau orang Turki bilang Maulid, konteksnya bukan tentang acara maulid nabi saja)
  • Sekuler: (sekulerisme suatu ” faham” yang memisahkan urusan negara dan agama baik secara politik maupun sosial. Agama adalah wilayah privat –sumber unknown)
  • Cay Evi: Semacam kafe kecil hanya menyediakan cay-teh- saja
  • Kiraatane: kafe lebih luas dan menunya tidak hanya Cay tapi juga kopi dan mereka biasa menyediakan hiburan seperti papan catur, blackgammon tempat para kaum pria berkumpul untuk ngobrol-ngobrol**memang umumnya kedua tempat ini: cay evi dan kiraatahne didominasi kaum pria.

Sumber lainnya:

lavish religious

www.gatestoneinstitute.org