Semalam saya baca tread di twitter tentang kekerasan dalam rumah tangga, keluhan tentang orang takut menikah, apalagi sekarang cerita viral tentang perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga dengan mudah kita baca, terakhir tentang kasus perselingkuhan, meski tidak dijelaskan siapa pelakunya, tapi kekuatan netijen İndonesia memang luar biasa untuk ‘Mengorek’ jejak digital yang bersangkutan. Jadi beda tipis antara mengumbar aib sendiri atau dengan niatan membagikan cerita agar bisa dipetik hikmahnya. Dua penilaian ini yang memang selalu menjadi bahan pertimbangan saya untuk berhati-hati menulis, Jadi terbaca ga kalau tulisan saya suka absurd:D

Bahasan kayak gini sebenarnya sering ya dibahas, tapi saya mau fokus dulu tentang pernikahan beda bangsa, ya apalagi tipe tipe ketemu jodoh lewat dunia maya, jujur. Salah satunya saya. Seperti bahasan menikah dengan orang Turki atau semakin banyaknya perempuan İndonesia yang memilih menikah dengan Pria Turki, bisa karena alasan ganteng saja atau karena rajin menonton channel idolanya, kemudian terobsesi untuk berjodoh dengan lelaki sama dari transbenua tersebut. Masalah jodoh? Bukan kapasitas saya yang bisa menebak atau membantu memutuskan, sebagai sarana pertimbangan saja tulisan-tulisan di Blog ini. Sisanya hidup masing-masing dan yang jalani ya kalian. Tapi ada beberapa pertimbangan yang mungkin bisa teman-teman baca dulu:

Menikah itu İbadah Paling Lama

Perjalanan pernikahan tidak akan selamanya mulus bak diawal datang ketika lamaran, tahun pertama, ke-dua, Ujian pernikahan tiap orang berbeda-beda, bahkan sebuah ketenaran sepasang suami istri, bisa saja itu bentuk ujian rumah tangga mereka. Ada yang diuji keturunan, ekonomi, diuji kesetiaan. Mempersiapkan untuk ibadah terlama ini penting banget, bukan karena alasan sudah mulai diomongin tetangga, atau si emak yang disindir temannya terus di kondangan, kapan anak gadisnya menikah? Sudah siap mentalkah hidup seatap dengan seorang asing, cukup kuatkah bisa bertahan dengan segala perbedaan, apa masih butuh waktu untuk memperbaiki diri? butuh waktu untuk membahagiakan diri sendiri sebelum fokus membahagiakan orang lain juga?

berbagai ujian pernikaha, punya anak-anak juga termasuk ladang ujian

Belajar untuk mencintai diri sendiri dulu sebelum mencintai orang lain

Saya ga malu, mengatakan. kalau dulu saya jomlo awet, pernah sekali merasakan ‘pacaran’ ala cinta monyet, zaman anak Sekolah berseragam biru, putusnya kapan ga jelas, karena beda SMA, oh ya udah bubar aja, Setelahnya fokus berteman dan belajar hal baru, naksir-naksir gitu sempat aja,tapi cuma sebatas itu, ditolak, menolak, dikagumi, halahhh. Seringnya jadi tempat curhat orang pacaran saja, tanpa tergoda untuk ikut pacaran serius, disindir teman? oh biasa, kebal kok muka saya ngalahin muka badak, pernah gitu merasa sedih, frustasi karena awet amat mbak ngejomlo? ya ampun ngapain, saya sudah cukup bahagia punya teman-teman seru, ngisi malam minggu nge drakor atau nongkrong di Gramedia upps…, baca buku. Disindir teman belum pernah ciuman, muka saya lempeng aja, Pria pertama yang nyolong first kiss itu babanya Fatih..uhukkkk keselek duren. Saya terlalu sayang sama diri sendiri,mau nyerahin sama lelaki yang halal aja, Tsadissss..ini namanya prinsip gitu aja:) Dan seorang Aries itu harus kuat sama prinsipnya, lah kok malah zodiak dibawa-bawa, soalnya tadi abis mampir ke Blogger Libra, jadi kebawa-bawa narsis aura zodiaknya:D

sudah puas main sama teman-teman?

Saya juga pernah ‘kencan buta’ kenalan sama teman dari YM messenger, bertemu di salah satu Mall di Jakarta, ngakunya Dosen. Selama bertemu?ngajak saya makan? engga, padahal saya lapar sepulang dari kantor langsung janjian, diajak nongkrong di Toko buku, dibeliin air botol aqua doang-ya ga ngarep juga sih, tapi nunggu inisiatif yang bersangkutan aja, toh makan saya masih mampu bayar sendiri- waktu itu sehabis ambil duit kok di ATM karena gajian sambil nunggu yang bersangkutan datang- selepas bertemu dan ngobrol-ngobrol, ngajak ketemu lagi, tapi saya cuma senyumin dan stop kontaknya langsung, ada perasaan ilfeel ketika mau berpisah, waktu saya katakan, mau lanjut ke Blok M, karena ada janji sama teman, lalu keluar kata-kata dia yang membuat penilaian saya minus total: ”Saya ga mau ikut ah ke Blok M, nanti kamu minta bayarin ongkos?”. Ya Hello gue baru ambil Gaji. Batin saya sambil pengen noyor kepalanya waktu itu.

Eh ceritanya jadi curhat, jadi intinya saya belajar ga desperate amat, meski secara background pendidikan si cowok ‘kencan buta’ ini OK, ambil master, ngajar, apalagi kalau cerita tentang profesinya, menunjukan kalau orangnya pinter, intelek tapi pas ketemu , telek*nya kebawa. Mempertimbangkan plus minusnya calon pasangan, disatu sisi OK lah pendidikannya, tapi disatu sisi cara dia ngomong dan perhitungannya membuat saya memberi nilai minus, padahal hubungan belum lanjut tapi kaki saya langsung ingin berubah balik, tidak mau lanjut. Saya. Masih mencintai diri saya sendiri, setelah mikir matang, bisa jadi lebih banyak makan hati dengan cara bicaranya dan sifat sok ngaturnya diawal ketemu. Saya tidak akan memaksakan diri hanya karena mengagumi disatu sisinya saja, Wajah cukup manis,bisa tergolong ganteng, pendidikan dan karier menjanjikan, tapi sikapnya, ehm minus dimata saya. Bye.

Menikah bukan Soal UMUR tapi siap atau tidaknya?

Ada yang menikah di awal 20-an atau diawal 30-an, ya So What? Ada yang bangga-banggain kalau bisa nikah muda daripada zina, ya boleh-boleh, kalau memang secara pemikiran sudah dewasa, sah-sah saja, tapi berapa banyak tipe ini? banyak juga yang ternyata masih labil dengan gejolak emosi sesuai usianya. Apalagi menikah dengan beda bangsa, tinggal di negara asing, bayangannya hanya bak kisah cinderella yang happy ending. Biar bisa upload foto Feed di İnstagram bak selebgram dengan background Bhosporus. Hidup setelah pernikahan? menghadapi kesulitan ekonomi, masalah keluarga, anak, iri liat orang lain bisa liburan ke luar angkasa-sekalian jangan nanggung ya– masalah silih berganti bermunculan, memasuki dunia sosial media, berubah jadi netijen julid, berantem dengan temannya sendiri, saling sindir. Ehmmm dunia persilatan rame.

ketika cinta memudar….. sumberfoto:twitter, jangan jadi kyk si oren gini dah-.-‘

Kalau kamu belum merasa siap terikat seumur hidup, coba pikirkan matang, kalau masih senang ngumpul dengan teman gengnya, coba pikirkan ulang, kalau kamu masih suka dunia kerja dan belum siap meninggalkan apalagi calon menuntut hanya menjadi İRT saja, komitmen pernikahan itu sakral, jangan sampai suatu saat apa yang sebenarnya menjadi ‘ganjalan’ kamu, menjadi bara api pemicu pertengkaran dalam rumah tangga, apalagi ketika diuji ekonomi, Suami belum bisa menuhi gaya hidup kamu seperti zaman single, tidak bisa membelikan tiket mudik setiap tahun, lalu menggerutu sendiri ” Coba kalau gue masih kerja’‘ ‘‘Coba gue diizinin kerja lagi” atau ketika lihat sanak family atau teman sedang asyik liburan sedang kamu cuma bisa keluar rumah buat angkat jemuran baju anak lalu keluar gerutuan ‘‘ Coba kalau gue masih ngumpul sama anak geng” Kalau masih menyimpan ‘ganjelan’ kayak gini, hidup rumah tangga tidak sepenuhnya merasa bahagia, karena perasaan membanding-bandingkan akan terus muncul. Menikah itu sebuah komitmen, ada keterikatan dengan pasangan.

Saat kita hidup sendiri, maka semuanya hanya berpusat pada diri kita. Tapi saat diri kita hidup dengan orang lain ( baca: menikah), Maka hidup kita terbagi dengan orang tersebut. Menerima orang lain dalam hidup berarti menerima orang itu dalam hati, pikiran, sikap hidup dan tubuh kita. (buku Sakinah bersamamu by asma nadia)

Modal Jatuh Cinta saja tidak cukup untuk Menikah

Baru dibisikin: İ love you, Seni seviyorum, Bitanem, Hayatim…., Langsung terbayang-bayang dilamar di kapal pesiar, langsung terbayang gaun kebaya pengantin rancangan Anne avantie, konsep weddingnya outdoor, apa İndoor, Eits tunggu dulu.., Si akang sudah bilang Cinta terus keluar kalimat: Will you Marry me, Benimle evlenir misin….dengan emoticon Love Love…, Sayangnya untuk menuju Pernikahan modal cinta saja tidak cukup, Apalagi dengan tujuan utama: Sakinah mawaddah dan Rahmah.

Seperti yang di İsyaratkan dalam Alqur’an: Membangun jiwa Sakinah, Menghidupkan semangat mawaddah dan mempertahankan spirit Rahmah

Mawaddah berarti Cinta, Rahmah : Kasih sayang, mawaddah perasaan lebih spesifik ke seseorang bernama cinta, Rumah tangga tanpa cinta juga rasanya hampa, menjenuhkan, Dan Allah memberi penyeimbangnya Rahmah yakni Kasih sayang, Ketika Cinta mulai kehilangan Cahayanya, Ada Rahmah yang akan menjaganya. Kata Rahmah lebih bermakna kesungguhan untuk berbuat baik kepada orang lain, mencerminkan sikap saling memahami kekurangan masing-masing lalu berusaha saling melengkapi. Sikap ini menekankan adanya tolong menolong dalam bersinergi sehingga kekurangan berubah menjadi kesempurnaan, sikap Rahmah sangat berperan ketika semangat cinta mulai menurun. Mawaddah dan Rahmah bagaikan sepasang sayap. Bila sayap ini berfungsi dengan baik, Kehidupan keluarga penuh berkah dan ridho Allah SWT akan tercapai. Rumah tangga Harmonis.(buku sakinah bersamamu)

Lalu Wujud Rahmah seperti apa , karena modal cinta saja katanya ga cukup untuk Menikah? Rahmah berarti kasih sayang, Rahma Balci? disayang pas emus Balci, eh abaikan. Nah kasih sayang ni bisa kita nilai ketika Calon mendekat, Setelah mengungkap kata Cinta bagaimana sikapnya? Masa Cinta tapi mudah sekali ngebentak, emosinya labil atau menjurus ke abbusive? Ehm ini tipe cowok Turki kan ya, gini semua? Eh maemunah ga juga sebenarnya, itu tergantung kamu ketemunya model kayak apa. Melabeli satu bangsa berwatak sama, anak kembar identik saja karakternya bisa beda, ya meski emang banyak karakter mereka keras dalam berbagai kategori tapinya bukan berarti tukang mukul semua. Kalau Cinta ga boleh ringan tangan, tapi berdalih mendisiplinkan, agar calon istri nurut? ”eh siapa kamu mbambang! Bapak gue aja ga pernah ngebentak apalagi mukul” ngelarang yang ga masuk akal, ehm kayak gini sih banyak, dengan alasan klise pencemburu berat, konon katanya kalau Laki-laki Pencemburu berat yang over dosis itu ada masalah psikologinya, jadi masa iya kamu mau menikahi orang yang masih ada luka batinnya, punya masalah psikologi, coba tahan dulu, analisa ulang, kasih jeda, menjauh, sembuhin batin diri sendiri dulu, bersimpuh berdoa minta jalan keluar terbaik. Jangan maksain tetap jadi menikah hanya modal cinta tapi kasih sayangnya masih diragukan. Nanti tujuan Pernikahan tidak tercapai, ambruk ditengah jalan.

Memastikan Bahwa benar dia Pasangan yang dinanti

menguji pasangan:D

”Kak, dia mau datang ke İndonesia? Bukti dia serius”. ” Mbak saya mau datang ke Turki, menikah disana. Calon saya yang urus semua”. Ehm saya sering membaca cerita seperti ini jadi ingat cuitan berfaedah dari seseorang, Ingat. Semua orang akan berjuang secara maksimal PADA AWALNYA. Kalau udah dapet? Ya baru dia akan kembali ke sifat aslinya. (@fikriqq) ini tuitan dari seorang cowok yang saya baca, Coba renungkan kata-katanya, Bukti seseorang berjuang pasti ada diawal, kamu mau nerima begitu saja karena merasa diperjuangin? Padahal memastikan bahwa dia benar-benar baik itu bukan sebatas cara dia perjuangin untuk ketemu kamu saja loh, Coba kamu nilai ketika :

  • Bagaimana Cara dia menyikapi sebuah masalah
  • Bagaimana cara Dia menyikapi rasa terpuruknya dan bagaimana cara dia bangkit dari kegagalannya
  • Bagaimana cara dia mengontrol Emosinya
  • Bagaimana cara dia berinteraksi dengan lingkungannya, teman, komunitas
  • Bagaimana interaksi dia dengan anak kecil, hewan, bisa melihat sisi lembutnya
  • Bagaimana cara dia menjaga hubungan baik dengan anggota keluarganya, ibu bapaknya, saudara-saudaranya.

Kalau dari saya pribadi tetap penilaian karakternya, bertemu lelaki dengan karakter baik semua cara diatas bisa dia lewati dengan mudah, terutama menguji kadar emosiannya selevel apa, kalau sampai ringan tangan berani mukul pasangan, Say Goodbye. Hidup saya terlalu berharga dihabiskan dengan lelaki kardus seperti itu. Dan sebagai Perempuan harus belajar untuk menempa diri, kuatkan mental, jangan insecure ketika ditinggal nikah, calonnya malah selingkuh, berarti dia memang bukan yang terbaik buat kamu, tata hati, bahagiakan diri, tarik nafas.

Syarat Ganteng saja tidak cukup demi bisa foto menuhin Feed akun sosial media kamu, apalagi dengan latar pemandangan alam di Turki yang langsung buat jatuh cinta ketika menjejakkan kaki pertama kali, tidak bukan tentang seberapa mancung atau seberapa tebal jenggotnya, dengan caption mesra. Tidak menikah bukan sebatas foto romantis pake aplikasi ngatur warna. Persiapan ibadah terlama dalam hidup, namanya Rumah tangga. Butuh Cinta dan juga kasih sayang, kasih sayang diuji bagaimana dia memanusiakan kamu sebagai tulak rusuknya bukan sebagai ‘keset’nya yang bisa dia injak harga diri kamu sesukanya ketika sudah terikat dalam pernikahan. Modal Cinta saja memang tidak cukup, kasih sayang yang akan tetap menjaga Cinta bertahan, kasih sayang yang akan memperlakukan kamu dengan baik, jadi ketika ada yang bilang ke kamu: Seni seviyorum, lalu nanya ke saya: ” Teh, dia serius atau ga sama saya?” loh..apa ya, kan baru ungkapan cinta belum naik level membawa satu sayapnya, belum teruji.

Semoga tulisan diatas bisa jadi pertimbangan yang baik dan bijak dalam memutuskan ya, Keputusan Menikah ditangan masing-masing, sudah jelas tujuan kita ingin pernikahan harmonis bahagia, pastikan bisa bahagia, kalau menjalani dengan segala keterpaksaan, menutup mata keburukan calonnya di awal, udah abusive tapi maksain, udah tau medit tapi yakin kamu bisa merubahnya, ya ya..terserah kamu aja sih sebenarnya, tapi hargain juga perasaan orangtua, jika salahsatunya keberatan tapi kamu tetap maksa sampai datang sendiri nyamperin calon kamu ke negaranya, Resiko ditanggung masing-masing. Termasuk Dosanya juga ya.

Selamat menyambut tahun baru 2020, semoga yang menanti jodohnya bertemu di tahun depan dikabulkan semua. Jodoh terbaik.