Beberapa kali saya memperhatikan keyword yang dicari di blog ini: Salah satunya yang banyak dicari

 Pernikahan beda bangsa yang lucu?

Menurut kamus KBBİ:

Lucu/lu·cu/ a menggelikan hati; menimbulkan tertawa; jenaka: cerita ini — sekali; tukang lawaknya tidak –;

Seketika saya mikir: mungkin pernikahan pelawak sama badut ya.
.Apa mungkin bagian lucu-lucunya  dalam proses adaftasi dua pasangan, Apalagi karena perbedaan kultur, Bisa saja ketemu adegan yang tidak terduga dan memang mengundang tawa.

naik bajay teruuusss

Saya juga pernah menertawakan banyak hal selama menikah dengan suami:
Contoh saja:

  1. Dia menyebut kue Nagasari yang dibungkus daung pisang itu sama dengan yaprak uzum sarmasi-nasi yang di gulung kecil memakai daun anggur, Biasanya bisa dimakan langsung dengan balutan daun anggurnya.  Dengan percaya diri, dia mencoba makan nagasari dengan daun pisangnya tanpa dibuka terlebih dahulu. İya saya menertawakan keluguannya yang masih adaftasi dengan kuliner İndonesia. Jadi kebayang dia nelen kue nagasari sama bungkus daunnya.
  2. Ketika baru menikah, saya ajak dia makan di warung bakso langganan , Ceritanya ingin memperkenalkan jajanan favorit saya ke suami, sebelumnya dia minta mampir ke minimarket terlebih dahulu, kebetulan lokasinya berseberangan dengan warung bakso. Ternyata dia minta beli sebungkus roti tawar. Kemudian ikut masuk ke Warung bakso, memesan semangkok baso lanjut makan dengaan dicocol roti tawar, Seketika abang bakso yang sudah sangat saya kenal. ”Neng itu emang enak, makan make roti gitu?’  Tanya si abang bakso penasaran. Lalu saya jawab. ” Kalau dia bisa menikmati seperti itu mungkin enak bang, Abang mau nyoba juga?”. Abang bakso nya langsung bergidik dan senyum senyum sendiri.
  3. Belum ekpresinya nyium bau terasi. ” cenaze gibi” ujarnya, dia bilang tuh baunya kayak bau mayit-.-‘ iya saya tertawakan ekpresinya yang nahan bau. Kalau kata anak zaman now: Lebayy kali dia!:D
  4. Bangganya naik bajay, iya sih buat dia unik nemu bajay di jakarta, Setiap ada urusan ke Jakarta, naik bajay aja ya* ga sekalian situ yang nyetir-
  5. Selalu ketinggalan kalau lagi jalan kaki-asli ini antara lucu dan sedih, langkah kaki saya selalu jauh ketinggalan kalau jalan bareng suami, apalagi kalau kita pas datang ke arena keramaian, saya pernah kayak anak ayam nyari induknya:D perasaan cuma berapa langkah didepan, Taunya udah hilang ditengah kerumunan orang banyak.

Tidak semua proses adaftasi kultur juga kita anggap lucu, salah satunya. Saya pernah makan dengan tangan langsung, ya kebayangkan makan pakai nasi dan lalapan,  seperti umumnya orang sunda tentu saja makan dengan tangan langsung itu mengundang kenikmatan haqiqi, Tapi jangan  juga ketika ada kumpul keluarga suami dengan cueknya makan seperti itu, ini sedikit agak ‘sensi’ meski termasuk amalan sunnah, entah kenapa sebagian orang Turki kurang suka makan dengan tangan langsung khusus  seperti  makan pilav atau nasi) beda dengan nyocol pake roti, padahal kan sama sama pakai tangan. Malah bilang: ‘‘ arap gibi?” Entah kenapa mereka alergi sekali jıka disamakan dengan bangsa timur tengah…hehe coba aja bilang orang Turki bagian dari arab:D pasti memberikan pembelaan: ” ben turk..turk..arap değilim” Lalu kita anggap hal lucu dengan membanding-bandingkan mereka.
ini mungkin berkaitan dengan sejarah di masalalu, meski sekarang juga Turki banyak ditinggali orang arab, pengungsi arab tapi mereka tetap bangga dengan darah Turk nya dan ga mau dibilang sebangsa sama orang arab, ok seakidah tapi bukan sedarah.  Bisa jadi menurut kita lucu malah bikin mereka tersinggung.
Sebenarnya pernikahan beda bangsa ga lucu-lucu amat, Duh jangan lihat cuma dari ‘cover’ nya saja, apalagi tayangan seperti  Video di Youtube yang sekarang lagi menjadi Trend, Lalu bertaburan komen:
” Saya juga pengen nikah sama bule”
” Ketemu di mana ka sama suami”
” Ahh pasangan kesayangan bikin envyyy..”
” romantis banget”
” lucu banget sih kaliaaaannn”
Misal pernah baca komen: nge-Vlog dong sama keluarga suaminya  dong”
Ga semua isi dapur mereka umbar…., itu ‘ayip’ kata orang Turki.
Coba baca ini : pengajian ibu ibu Turki
Kasusnya kurang lebih sama, Mereka (orang Turki) apalagi golongan mamak-mamaknya, hampir kebanyakan kurang suka di ekpose, kalau ada beberapa misalkan Vlogger dari Turki bisa meng ekpose kehidupan keluarganya, ya apa bisa di samaratakan se Turki.
Saya kalau mau foto ipar aja: abis foto pasti bilang: jangan di upload di sosial media yaaaaa. Dulu awal datang di Turki, maklum masih norak, Saya banyak foto foto kehidupan sehari-hari termasuk ketika keluarga sedang membuat lavas di köy, tanpa pikir panjang ya saya upload di facebook, selang berapa lama, keponakan komen minta di hapus semua foto orang-orangnya kecuali hasil karya mereka aja.
Jadi setiap akan memotret , orangnya saya tanya dulu, Keberatan atau tidaknya? Wuih kok ribet ya? simpel aja sih: Hargailah privasi orang. Belum tentu semua orang mau tersorot.  Contoh :  Beberapa saya follow artis K-drama, mereka (orang korea) punya kebiasaan, untuk mem-blur-kan foto orang lain atau ditutupi wajahnya dengan icon smile dsb, karena dengan alasan privasy orang tersebut.
Begitupun orang-orang di Turki, TİDAK semua orang juga suka di ekpose, hargai saja, lebih sopannya juga tanya dulu, Ada pepatah: dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kondisikan saja. Oh ya, Apalagi orang di Turki percaya sekali dengan penyakit Ain.
Baca disini:Nazar si penyakit Ain.
Beberapa Teman yang bersuami orang Turki, banyak yang akhirnya tidak aktif di sosial media, atau mengurangi foto-fotonya, bahkan dilarang memasang foto profil sendiri. (Wew segitunya?) Eits….husnudzon (berpikir positif aja yang baik-baik) mungkin itu cara suami menjaga privacy keluarganya, jangan dikategorikan cemburuan atau banyak atur. Mereka punya cara masing masing memanfaatkan sosial media. Meskipun sudah menikah ada pasangannya jarang terekpose, ya itu kan hak mereka.
Saya kok bisa ngeblog? Ya alhamdulilah dikasih izin suami, didanai pula (sungkem) Buat beliau salah satu memenuhi kewajibannya sebagai suami adalah: Memberikan pasangannya ‘ruang’ juga untuk berekpresi dan menyalurkan hobby, selama untuk jalan kebaikan dan nebar manfaat. Jalankan. Asal dapat Rİdho suami..alhamdulilah asal jangan Ridho rhoma:D

Pernikahan itu semakin gak lucu 

Kalau kita tetap mempertahankan ego masing-masing, apalagi ketika sedang dikuasai hawa nafsu, lagi ambekan. Terus jelek-jelekin latar pasangannya, negaranya, makanannya. ehmmm…., kurang-kurangilah, memberi kritikan (iya saya juga pernah) karena negara yang saya tinggali juga sebenarnya ga sesempurna yang dibayangkan orang orang sana itu. Tapi juga ya ga sampe sebegitu merendahkannya, Saya masih tahu diri, lha wong numpang tinggal, selain kritik juga memberi masukan, harapan dan doa, Semoga ada perubahan kedepannya.

 Siapkan  payung sebelum hujan

Ya karena pernikahan beda bangsa ga semuanya lucu, Sebab kita juga tidak bisa memprediksi masa depan. Ga lucu kalau akhirnya terjadi perpisahan, tapi kita tidak tahu harus berlindung dimana. Menyepelekan pengurusan berbagai dokumen keimigrasian, dengan alasan ga mau ribet, Bahwa berpikir tidak akan ada badai yang kuat menggoncang cinta kokoh mereka. Semua akan tetap baik-baik saja. Optimis boleh, realistis tetap harus jalan.
Beberapa kali masih saja ada yang menanyakan: jalur nikah siri? Demi di halalin pacar bule nya.                    Pertanyaan saya: Apa sebegitu ribet nya ngurus dokumen resmi? Emang butuh keluar duit berapa ratus juta? Masalah kalau cuma dipikirin doang tanpa ada aksi yang ga bakal ketemu solusi..ya kan.
Kemungkinan cuma 2:

  1. Malas ngurus aja
  2. Karena pasti ada ‘something’ jadi mikir jalur ekpress.

Jadi…..
Kalau banyak yang ‘kepo’ macam di youtube-youtube itu tentang keseharian pasangan beda bangsa,  untuk publikasi nya pasti lah mereka juga lewat proses editing, ga semua di umbar. Masa lagi berantem di ekpose, dipukulin pasangan terus upload foto macam selebgram atau seperti meme kocak di facebook. Sedih habis putus terus posting foto lagi nangis, atau ketahuan pasangannya selingkuh terus live youtube udah gila apa-.-‘
Ya kan sama aja: Makan, minum, tidur, BAB, bisulan, jerawatan, masuk angin, sama-sama manusia.  Mungkin bedanya cara penanganannya aja
Seperti 2 minggu lalu, saya sebenarnya masuk angin parah, obat yang tersugesti manjur saya pecinta Tolak angin (aslikk bukan sponsored post) Berhubung udah ga punya stok dari tahun lalu, karena suami juga ternyata suka-.-‘ dia selalu ngambil jatah saya kalau sepulang kerja dan ngerasa capek. katanya enak setelah minum tolak angin.
Sampai mual juga perut, kliyengan kepala.
Tanpa pikir panjang, suami bawa saya ke UGD periksa ke Dokter, ambil tes darah-.-‘ sampai nunggu 3 jam sampai hasil lab nya keluar, sempat juga di suntik, lalu dipasang alat khusus, saya kurang tahu namanya, mirip ala kejut listrik. ngecek seluruh tubuh, terakhir baru diberi  resep obat.
Padahal menurut saya ya cuma masuk angin heheh, toh kata dokter tubuh saya baik-baik aja kok, cek darah semuanya normal-sampai dikira keracunan makanan. Asal cukup istirahat-karena belakangan saya juga kurang tidur, dua anak sempat sakit demam- tau lah gimana perjuangan seorang ibu Harus lebih kuat dari wonder woman.
Antara menahan sakit dan lucu lihat paniknya suami, kalau istri tumbang, rumah bagai kapal pecah, dapur tidak terurus apalagi suami tipe manusia yang lebih suka masakan rumahan.  İstri sakit sedikit, ke dokter ya, apa langsung UGD?

Sebenarnya manggil tukang pijat sambil dikerokin, minum tolak angin, terus bobo cantik, Buat saya manjur banget, begitu bangun, segar langsung mampir warung bakso dengan kuah panas dan sambal pedasnya..slurrp… ga usah lah ke UGD.

Sejatinya pernikahan itu kan tujuan dasarnya kebahagiaan, Efek samping rasa bahagia, kita pengen selalu banyak tersenyum, berbagi aura positif, Kalau lucu atau menggelikan…Pernikahan main-main seperti jaman kecil dulu.
EH tapi anak sekarang aja udah manggil papah-mamah ya ,ini sih ga lucu, tapi prihatin jadinya.
Lain kali kasih keyword: Pernikahan beda bangsa yang bahagia..gitu ya..siapa tahu nyasar ke blog ini*pede sekali mbak:D*atuh didoain sekalian.