Kenakalan remaja kamu sebatas apa levelnya?Tadi siang seorang kawan lama,berbagi unggahan video di akun WAnya, video sang ibu, kemudian saya meninggalkan komen diunggahan video si kawan ini, teringat dengan ibunya sekitar 20tahunan lalu, ketika saya dan dia masih berseragam putih abu. Apa yang membuat saya begitu segan dan merasa bersalah dengan ibu si kawan ini, baiklah saya ceritakan masa-masa remaja saya dan dia yang penuh petualangan dan berkaitan dengan level kenakalan masa remaja kami.

Suatu hari, tepatnya menjelang tahun milenium waktu itu, si kawan ini mengajak saya liburan ke kampung halaman orangtuanya di Magetan, tawaran si kawan tentu saja tidak saya tolak, meski tidak dapat ijin liburan dari pesantren, sebagaimana prinsip yang kami percayai waktu itu: Peraturan memang dibuat untuk dilanggar! yap saya dan si kawan ini, oh ya sebut saja namanya D, rajin sekali melanggar, tapi persentasenya masih lebih banyakan saya. Dengan senang hati ikut si D mudik ke kampungnya, ga peduli melanggar yang penting liburan.

Perjalanan Yogya-Magetan, kami pilih bis antar kota yang bersahabat dikantong pelajar, sebut saja SK*ah yang tahu trek Jogja-solo pasti paham Bis antar kota lejen ini. Harga bersahabat, supirnya mungkin pernah ikut balapan liar atau masih bersaudara dengan supir metromini di Jakarta, wusss wussshhhh daripada jantungan terus, sesampai di terminal kota solo, kami memutuskan ganti Bis lain yang aman.Ganti Bis menuju kota Magetan. Perjalanan selanjutnya jauh lebih menenangkan jiwa raga, padahal naik Bis SK sebenarnya bisa nambah pahala, rajin berdzikir sepanjang jalan, karena supirnya ngebut terus ya..ya…, masih sayang nyawa dan kami masih muda belum lulus SMA.

Sesampainya di kampung halaman si D, kami langsung jalan-jalan, menjelajah kota kecil nan asri ini, saya ga tahu ya kondisi kota ini sekarang, 20 tahun lalu, Mall juga belum ada, masih banyak rumah tua, pohon-pohon rindang di sepanjang jalan, sejuk kotanya. Kesan pertama saya suka sekali dengan suasana kota kecil ini. Di kota inilah saya belajar bawa motor pertamakalinya dan diajarin si D.

Kami juga sempat naik motor menuju Madiun kota tetangga, karena kebetulan ada kawan lama juga disana, sahabat masa Madrasah tsanawiyah, nah perjalanan menuju madiun juga saya suka sekali, berhubung si D juga super nekad, belum punya SİM, jadi kami cari rute aman, hingga sampai di kampung si teman lama ini, berkunjung ke kampungnya yang juga asri, dan sempat diajak ke area gunung, keluarganya punya usaha penggilingan, sekalian dia panen jengkol dan durian, wah tentu saja tidak menolak, apalagi durian.

Waktu itu si teman ini mengatakan, harus pulang sebelum sore dari daerah atas, karena jalanan cukup sepi dan gelap, apalagi kami melewati semacam tugu peringatan pembantaian Pki disana, dan katanya dulu menjadi salah satu lokasi pembantaian, Nah! daripada ketemu yang aneh-aneh di jalan, mending turun sebelum magrib. Ga kepikiran sampai ada penampakan sih, cuma lebih baik ga ketemu cerita horor kan di jalan.

Lalu apa kaitannya sama unggahan video ibu si D ini dengan cerita liburan?

Waktu ke Madiun, saya tulis bahwa si D ini belum ada SİM, kami nekad jalan-jalan hanya modal STNK, karena merasa rencana kami sukses besar tanpa dicegat polisi, tiba tiba syaithon sengak*berbisik–nyalahin setan pokoknya– .

‘Eh kita bawa motor aja yuk pulang ke Yogyanya?”.

”tapi belum ada SİM” jawab si D, dan bakat saya memprovokasi memang sudah terasah dari SD, dan ujungnya si D ini kok ya manut aja, rencana gila kami susun, tanpa pamitan dengan ibunya. Pikir kami, nanti ajalah kalau berhasil sampai Yogya. Kemudian kami jalankan rencana nekad tersebut, diiringi hujan rintik rintik, kami berhasil sampai jalan ngawi hingga musibah terjadi, si D yang memang kedua matanya minus ditambah mulai hujan gerimis, kami kecelakaan tunggal, tapi tidak parah, cuma lecet lecet dan tentu saja syok! kecelakaan tepat didepan rumah penduduk.

Penghuni rumah menolong kami berdua, menenangkan dua anak gadis yang syok, sempat nangis juga, saya masih ingat sekali kebaikan keluarga ini, yang saya ingat wajah wajah ramah dan salib besar di ruang tamunya yang sederhana. mereka menolong kami berdua dengan tulus, menghubungi ibu si D , setelah memberi nomer telpon rumahnya, kemudian ada dua orang bawahan ibunya datang menjemput kami.

Sesampai di rumah si D, tentu saja ibunya marah besar, kami kena tegur berdua, waktu itu rasa bersalah teramat besar sama beliau, sampai sekarang juga masih keingetan, tapi si D ga sepenuhnya menyalahkan saya, ternyata dia juga kepikiran hal yang sama, udahlah memang dasarnya kami berdua emang nekad. Dan kami benar benar kualat kuadrat!

Setelah luka-luka sembuh kami memutuskan pulang ke Yogya naik Bis kembali.Karena hanya ada bis SK ini, kami akhirnya naik kembali bis SK, sekalian berhemat sepulang liburan, oh ya waktu itu saya jadi bawa durian hasil oleh-oleh dari madiun, saya bawa ke yogya. Masih nyambung dengan cerita supir bis SK selevel sama supir metromini yang suka ngebut-ngebutan dan rem mendadak, mendekati terminal umbulharjo (dulu masih di umbulharjo sebelum pindah ke Giwangan) tiba tiba bis mendadak direm, kami yang duduk dikursi paling belakang cukup terkejut dan tidak sadar kalau durian yang kami bawa menggelinding sampai dekat supir. Kemudian supirnya teriak ‘‘ Durian siapa ini!” spontan menjawab kalau itu milik kami yang menggelinding hahahah, saking dasyatnya ngerem sampai durian menggelinding dari kursi belakang, Oh ya kursi penumpang lainnya sudah kosong karena mendekati terminal.

Dengan si D ini selalu ada cerita aneh-aneh, hahah entahlah sebenarnya sifat dan karakter bertolak belakang sekali, anak yang cukup keras meski terlihat lembut dari luar, tapi bisa aja tetap akur berteman, kenakalan kami levelnya ya cuma sebatas melanggar banyak aturan?? iya hello..semua aturan sering kami langgar selain aturan agama ya kalau aturan buatan manusia merasa ga dosa aja kalau melanggar. jangan dicontoh-.-‘, menghabiskan uang jajan untuk rental komik dan novel patungan berdua kemudian menghabiskan waktu hingga pagi hanya untuk maraton baca, mungkin karena punya kegemaran yang sama, si pesantren saja terutama saya, si D dan si M sering sekali menyelundupkan komik, bahkan pernah nilep SPP demi rental komik, level parahnya itu aja si.

ini chat tadi siang gara gara saya komen di WA si D, lainnya ga saya ss…, karena sudah 20 tahunan lewat jadi mikir, kok dulu gitu amat ya astaga…ga mikir panjang loh…yogya-magetan:V

Bakat provokator dari SD? iya prestasi terbesar berujung dijemur ditengah terik matahari siang bolong dan dihukum hormat bendera ditambah menulis dikertas berjanji untuk ga nakal lagi: Saya itu cuma ngajak teman sekelas untuk ga ikut upacara 17 agustus di sekolah, mending di rumah aja liburan terus ikut lomba 17 agustusan lebih awal, iya cuma itu doang, dan kenapa anak-anak sekelas nurut? sekelas bolos! dan keesokan harinya pada kompak menumbalkan saya ke wali kelas dan kepala sekolah.

Sekarang usia 30 tahunan sekian kalau mengingat 20 tahunan kebelakang, astaga kok dulu gitu amat ya hahah duh masa remaja emang penuh warna, kalau hidup terlalu lurus dan nurut sama aturan sekolah, rasanya ga bakal ada kenangan yang indah buat diceritakan, iya kan prinsip masa remaja saya itu: Peraturan dibuat untuk dilanggar, semakin kami banyak melanggar semakin kamu terkenal! jadi guru guru juga masih ingat aja, ‘‘ oh kamu yang dulu sering bolos kan?” İbu si D aja kalau diingetin nama saya dari sekian teman teman anaknya pasti masih ingat! Dulu selalu dibilang: diam diam menghanyutkan! jangan percaya tampang kalemnya. ya level nakalnya cuma sebatas itu, kalau teman teman bagaimana?