Lebaran tahun 2020, lebaran yang terasa berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, apalagi disaat pandemi virus covid19 yang melanda banyak negara. Termasuk Turki.

Untuk Lebaran tahun ini, saya dan keluarga ya dirumah aja, bahkan berkunjung ke rumah mertua juga tidak. Jarak lokasi tinggal kami, 1 jam perjalanan saja, tapi karena kondisi wabah, suami sangat patuh aturan pemerintah, sudah 2 bulan lebih saya dan anak-anak dirumah aja, apalagi ada aturan, kalau anak-anak dibatasi bepergian ke luar rumah ditambah kedua orangtua suami berusia diatas 70 tahun semua, masuk usia riskan yang juga dilarang beraktifitas bebas selama pandemi. Ditambah besok pagi pas hari raya justru dia masuk dinas, menggantikan temannya yang ada keperluan. Praktis, hari raya idul fitri tahun ini hanya bertiga dengan anak, sedang babanya masuk kerja dan pulang esok harinya.

Tidak ada persiapan khusus untuk lebaran

Sebenarnya dikepala, keinginan itu banyak, bikin kue nastar dkk, beli nanas, manis banget, kok sayang ya:D akhirnya kami makan biasa saja. tapi sempat juga saya membuat kue Telor gabus keju yang praktis, meski pegal juga milin milinnya, lalu kripik bawang, sayangnya semua kurang garam. Terus suami malah beli cemilan banyak termasuk es krim dan jus buah, isi kulkas penuh untuk persediaan lebaran dan masa lockdown 4 hari, karena selama lebaran justru diterapkan lockdown, agar berkurang aktifitas di luar. mikir karena sudah beli jajanan dari market, ya udahlah bikin kuenya kapan-kapan. Makan yang ada dulu biar ga mubazir.

Lebaran setelah menikah apa bedanya?

Pastinya berbeda sekali dengan jaman single, ya semua juga tahu, tapi buat saya pribadi, terasa berbeda, ada kebiasaan-kebiasaan baru dari pasangan yang ternyata menular ke saya, salah satunya:

Tidak fokus membeli baju hari raya

Semenjak menikah dengan suami, kebiasaan dulu yang serasa wajib membeli baju hari raya, sekarang biasa saja, belajar memakai baju yang ada dan pantas, eh bukan berarti suami pelit, kami biasa membeli pakaian baru ya ketika memang butuh untuk ganti saja, semisal lebarannya jatuhnya di musim panas, dan kami sudah membeli baju-baju musim panas , ya ngapain juga membeli baju baru lagi, pakai saja yang sudah dibeli sebelumnya, tinggal mix and match.

Anak-anak juga demikian, karena saya tidak membiasakan, mereka juga cuek aja, terutama Fatih. Tidak menuntut harus berlebaran dengan baju baru.

Kue hari Raya?

3 tahun lalu, saya sempat membuat aneka kue kering sendiri untuk lebaran, hasilnya sampai enek makan sendiri. Karena suami kurang suka, anak-anak juga demikian. Lebaran selanjutnya, saya tidak terpikir untuk menyibukan diri membuat kue kering, ah kalau di İndonesia tinggal order keponakan saja yang memang jago baking.
baca:

Jajanan Favorit khas lebaran

Cerita mudik dan lebaran Fatih pertama di İndonesia

Tradisi lebaran keluarga Turki vs İndonesia

Lebaran di Turki seperti apa

Terus terang saja, justru semenjak menikah, menghadapi hari raya santai saja, tidak berlebihan, biasanya menginap di rumah mertua, bantu beliau saja menyambut tamu keluarga, itupun saya pikir tidak terlalu istimewa, hanya makan siang biasa, tidak ada menu spesial selain hidangan manis baklava, Keluarga Turki, lebih meriah menyambut idul kurban, sampai enek dsuguhkan menu serba daging. Perbedaan kultur menyambut hari raya antara keluarga suami dan keluarga besar saya di İndonesia, sangat terasa. Semoga ditahun mendatang saya bisa mengajak Suami dan anak-anak merasakan suasana lebaran di kampung halaman saya, meriah dan penuh kehangatan, tadi sore saya video call dengan kakak dan si emak, selain sibuk membuat kue lebaran, siemak sibuk menyiapkan amplop berisi uang persenan untuk anak-anak, saya sudah membayangkan meriahnya hari raya bersama keluarga di İndonesia, dulu zaman masih kerja, tiap lebaran dan dapat THR, saya juga tak kalah semangat menyiapkan uang persenan untuk anak sepupu dan tetangga, menyenangkan saja, Uang persenan seperti sudah jadi tradisi turun menurun di keluarga.

lebaran
lebaran versi İndonesia yang selalu meriah

Kalau dibilang rindu, ya sebagai orang rantau, mendengar alunan takbir saja ditengah malam takbiran nan sunyi, mendadak melow. Masa-masa menyambut hari raya meriah sudah lewat. Untuk informasi saja: di Turki tidak ada malam takbiran yang meriah, bahkan suara takbiran bersautan seperti di masjid masjid kampung, disini nyaris tidak terdengar.

Dan lebaran tahun ini ditengah masa pandemi Covid, saya menyambutnya biasa aja, tidak bisa bersilaturahmi dengan sanak family, suami harus masuk kerja, tidak ada baju lebaran dan kue lebaran, buat saya: asal jaringan internet lancar sudah cukup mengobati, kerinduan bisa dibalas dengan silaturahmi virtual, meski jarak memisahkan. Jadi lebaran tetap dirumah aja kan?

Selamat hari raya idul fitri buat semua teman-teman keluargapanda, Maaf lahir batin

تقبل الله منا ومنك /منكم TaqobbalaLLôhu minnâ wa minka/minkum Semoga Allah menerima semua ibadah dr kami & Anda